<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399</id><updated>2011-08-01T17:34:12.766-07:00</updated><category term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>abrar aziz</title><subtitle type='html'>"Jadilah orang yang benar-benar hidup, bukan sekedar bernafas ..."</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-6612503360732047572</id><published>2011-06-04T23:05:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T23:06:14.624-07:00</updated><title type='text'>JATUH CINTA</title><content type='html'>Jatuh cinta. Tentulah teman pernah merasakannya. Saya juga pernah, teman. Dulu waktu saya masih tinggal di kampung halaman. Bertahun-tahun yang lalu. Itu yang pertama. Dan yang kedua, sekarang. Kalau teman merasa senang dengan cerita cinta-cinta. Baiknya teman teruskan membaca. Tapi jika teman tidak suka, baca jugalah. Kasian, saya sudah capai juga menulisnya. Saya ceritakan dulu lah baiknya kisah cinta zaman dahulu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung kami berada di pesisir pantai sebalah barat pulau Sumatera. Bukan kampung kaya, memang. Waktu itu, sekitar tahun 80-an akhir. Ketika saya  masih SMP. Bukan bermaksud tinggi hati teman. Tapi rasa-rasanya rupa saya tidak terlalu buruk. Jika saya diizinkan memberi nilai muka saya ini. Kira-kira angka tujuh setengah bisa juga saya dapatkan. Atau kalau teman ingin menilainya juga, silahkan. Asalkan nilainya jangan kurang dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramlah nama perempuan itu. Pandai sekali dia mengaji. Kalau sudah dia yang mengaji di surau, orang-orang yang sedang main domino di lapau pun akan tertegun karena keindahan suaranya. Kalau soal rupa, nilai tujuhlah kira-kira. Apalagi kalau melihat siapa bapaknya, Haji Munir, pemilik kebun kelapa terluas di kampung kami. Bujang mana yang tidak jatuh hati padanya. Keningnya jilah umpama landasan pacu lapangan terbang. Matanya bulat bak buah kapundung. Bibirnya tebal bagai ruas limau purut. Dagunya lonjong laksana sarang lebah. Ah, berdosa nanti kalau kita teruskan. Nanti teman tak bias tidur dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada juga gadis yang senang dengan saya. Julia namanya. Nama aslinya Yulinar. Tapi katanya nama itu kurang modern. Maka di gantilah namanya jadi Julia. Dia berteman akrab dengan Rosa. Kalau yang ini nama aslinya Rosmaini, tapi seperti si Yulinar, dia tidak senang dengan namanya yang kampung itu. Julia sudah terang-terang mengatakan rasa senangnya pada saya. Tapi saya enggan dekat-dekat dengannya. Pasalnya bedaknya terlalu tebal. Tambah lagi rambutnya saban hari dikasih minyak kemiri punya ibunya. Tak tahan hidung saya dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya satu dari sekian bujang yang menaruh hati pada Ramlah. Dia satu kelas dengan saya, kelas tiga SMP. Agak pintar dia kalau sudah soal hitung-hitung, tapi agak lemah menghafal. Tak satupun jantan di kelas itu yang tak suka padanya. Tapi saya sedikit beruntung. Pelajaran agama dan soal-soal hafalan agak saya kuasai sedikit. Kalau jantan-jantan yang lain, tak ada kepandaiannya selain bagadele atau bercerita besar. Si Pendi misalnya, setiap hari dia bercerita tentang ayahnya yang pulang pergi ke Jawa. Padahal saya lihat ayahnya hilir mudik saja di kampung membawa pedati. Atau si Miral, tak ada kepandaiannya selain berkoar kalau dia sering melihat hantu. Pernah dia melihat, katanya, hantu yang menari-nari di belakang rumahnya. Begitu dia membuka pintu, hantu itu lari tunggang langgang. Besar sekali mulutnya. Padahal semua orang, kalau pulang mengaji sudah lewat jam sepuluh,  pastilah dia akan ikut tidur di surau bersama guru mengaji karena dia tak akan berani jalan sendiri ke rumahnya yang harus melewati kuburan. Itulah bujang-bujang di kelas saya. Saya kadang-kadang hobi juga bagadele, sedikit-sedikit saja. Tapi karena ayah saya guru agama, kepandaiannya turun juga pada saya, walaupun tidak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek cerita, disebabkan alasan sering belajar bersama itulah mulai ada rasa-rasa senang diantara kami berdua. Panjang ceritanya kalau saya kisahkan semua. Tapi akhirnya kami saling mengakui apa yang kami simpan dalah hati. Wah, lapang sekali dunia ini rasanya waktu dia mengatakan dalam suratnya kalau dia menaruh hati juga pada saya. Tak cukup rasanya halaman kertas untuk menuliskan apa yang bergejolak di hati saya waktu. Saya yakin teman juga pasti sudah pernah juga merasakan rasanya cinta berbalas cinta. Jika teman belum pernah, saya ikut prihatin dan berdoa semoga teman segera merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di kampung kami berjalin kasih antara gadis dan bujang adalah aib yang bisa menjadi bahan cela dan hina, terpaksalah kami bercinta kasih dengan sembunyi-sembunyi. Setiap minggu kami berkirim surat. Amboi,, tiba-tiba saja saya menjadi penyair, teman. Dalam surat-surat kami, kami serasa pujangga yang sedang menulis syair. Indah sekali rasanya. Benar kata orang tua kita, kalau hati sudah tercuri seorang gadis, rasa-rasanya dunia ini seperti punya kita saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa itu berlalu dengan cepat sampai akhirnya saya harus merantau kesini, ke Jakarta ini. Berat rasanya hati meninggalkan kampung halaman. Atau tepatnya meninggalkan Ramlah. Tapi apa daya saya tak kuasa menawar perintah buya untuk sekolah agama di Jakarta. Saya yakinkan pada Ramlah kalau jodoh tak akan kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kuliah, saya dapat juga mengajar honor di sebuah sekolah agama di Jakarta. Sudah tiga tahun saya di Jakarta. Untuk tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Si Ramlah sudah dikawinkan bapaknya dengan si Burhan anak Haji Kadir, pemilik penggilingan padi terbesar di kampung kami. Terbaca jelas oleh saya raut kesedihan Ramlah ketika menulis surat tahun lalu. Tapi apa mau dibilang. Nasi sudah jadi bubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang saya jatuh cinta lagi, teman. Jatuh cinta pada murid saya. Macella namanya. Nampaknya nama ini tak ada di kampung saya yang tersuruk itu. Apa pula kata si Yulinar kalau mendengar nama ini. Pastilah dia bertengkar habis dengan Rosmaini untuk memperebutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marcella tidak terlalu pintar di kelas, terlalu bodoh juga tidak. Dalam mata pelajaran saya, nilai paling rendahnya adalah enam. Tapi itu jugalah nilai tertingginya. Kalau pelajaran lain nilainya berputar-putar di angka enam dan tujuh saja. Tapi dia agak pendiam dan ramah. Entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas saya senang dan diapun senang pada saya. Bapaknya juga tidak masalah dengan hubungan kami. Rupanya disini, di Jakarta ini, urusan cinta-cinta seperti ini bukanlah urusan aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi soal adalah bagaimana dengan nilainya. Saya tidak mungkin membiarkan nilainya terus di angka enam karena itu bisa membuatnya tidak naik kelas. Tapi otaknya memang hanya cukup menampung angka enam itu. Bapaknya sering memohon supaya membantu anaknya agar naik kelas. Terpakasa jugalah saya naikkan nilainya yang enam menjadi tujuh setengah pada mata pelajaran saya supaya Marcella naik kelas. Pastilah saya telah berbuat tidak adil karena murid-murid saya yang lain tidak saya naikkan nilainya. Tapi saya juga sudah menyelamatkan hidup kekasih saya, dan itu juga berarti hidup saya juga. Yang penting, setelah kenaikan kelas itu, saya bisa lebih leluasa bertandang ke rumah Marcella. Bahkan kadang-kadang bapak ibunya sengaja ada urusan keluar rumah kalau saya sedang bertandang ke rumahnya. Begitu rupanya orang Jakarta memperlakukan kekasih anaknya. Sungguh perbuatan yang terpuji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-6612503360732047572?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/6612503360732047572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=6612503360732047572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6612503360732047572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6612503360732047572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2011/06/jatuh-cinta.html' title='JATUH CINTA'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-6372102261791999970</id><published>2011-06-04T23:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T23:05:06.754-07:00</updated><title type='text'>ANAK KEBANGGAAN</title><content type='html'>Ali Akbar Navis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayan banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleholeh buatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira. Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin, dia dapat ilham baru. Dia pun merasa pula, bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Dan pada sangkanya, tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi, jika ia tahu orang-orang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Tak masuk akal, orang orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awaslah nanti. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Malah sebaliknya. Dikatakannya, banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tapi semua telah ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. "Pilihlah saja gadis di Jakarta, Anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak," penutup suratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya, lantas jadi membalik pikirannya. Ia jadi sungguh percaya, bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya, bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia, apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi, andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Disamping itu ia sadar juga, bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu, dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Pasai ia menunggu, dikiriminya surat. Ditunggunya beberapa hari. Tapi tak datang balasan. Dikiriminya lagi. Ditunggunya. Juga tak terbalas. Dikirim. Ditunggu. Selalu tak berbalas. Bulan datang, bulan pergi, Ompi tinggal menunggu terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari yang tak baik, di kala Ompi sudah mulai putus asa, datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar karena ia bahagia. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu, karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. Dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tahulah ia, bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan, agar apa yang terjadi adalah memang mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit, bahkan sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah, Ompi bertambah menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Yaitu surat. Surat dari anaknya, Indra Budimannya. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia telentang di ranjangnya, enggan bergerak. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setiap sore, diantara jam empat dan jam lima, Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu, yang membiarkan masa bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya, hingga lebih meroyak. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah, reduplah lagi mata Ompi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemalangan itu bertambah lagi. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan, sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Dan semenjak itu, pada setiap jam empat hingga jam lima sore, matanya akan menatap ke kaca itu. Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter, tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran, bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang, dokter hanya menggelengkan kepala saja. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sakit. Kalau semua tak mungkin, jangan tinggalkan dia sendirian. Bila perlu, meski dengan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu, berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Aku sadar, bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Di samping itu secara samar-samar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Aku pun tahu, tidak ada gunanya semua. Hanya satu yang dikehendakinya. Surat dari Indra Budiman. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang, malahan takut, kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. Hari waktu itu jam sebelas siang. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. Melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergesa-gesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. Hingga gagallah recanaku. Tak sempat aku membuka surat itu. Karena di luar segala dugaanku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ompi yang sudah lumpuh selama ini, telah berada saja di belakangku. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukalah. Bacakan segera isinya." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahulah aku, apa yang harus kukatakan. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Tapi keajaiban tidak juga datang. Aku mengangguk. Sedang dalam hatiku berteriak, terjadilah apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ompi terduduk di kursi. Matanya cemerlang memandang. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri memberikannya. Tapi aku tak bisa berbuat lain. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Telegram itu digenggamnya erat. Lalu didekapkan ke dadanya. "Datang juga apa yang kunantikan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi begitu menekan, sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. "Ah, tidak. Aku takkan membaca telegram ini. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. Kaubacakan buatku. Bacakan pelan-pelan. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku," kata Ompi dengan terputus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. Sedangkan bibirnya membariskan senyum, serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak usah dibacakan. Takkan sanggup aku mendengarnya. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. Aku mau sehat. Mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku, Dokter Indra Budiman, datang. Pergilah. Panggilkan dokter," kata Ompi dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciumnya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-6372102261791999970?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/6372102261791999970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=6372102261791999970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6372102261791999970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6372102261791999970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2011/06/anak-kebanggaan.html' title='ANAK KEBANGGAAN'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-4367567112170025678</id><published>2011-06-04T23:03:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T23:04:26.034-07:00</updated><title type='text'>Republik Uang</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu saya mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK) di kelurahan tempat saya tinggal. Tepatnya di kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Ini memang pertama kalinya seumur-umur saya berurusan dengan birokrasi seperti RT, RW, dan Kelurahan. Dan mudah-mudahan ini yang terakhir. Bagi sebagian anda yang sudah sering berurusan dengan birokrasi barangkali sudah tidak asing lagi dengan cerita saya. Saya memang sudah lama mendengar cerita tentang budaya korupsi yang menggurita sampai ke tingkat paling bawah. Tapi saya benar-benar terperangah ketika mengalami sendiri cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersama teman yang sama-sama akan mengurus KTP dan KK awalnya ditawari jalan pintas, biasanya disebut orang KTP “nembak”. Saya menolak karena mungkin harganya akan lebih mahal dan saya kira juga tidak ada salahnya sesekali saya berurusan dengan birokrasi di tingkat paling bawah. Alasan lain adalah karena anak bu RT memang sangat cantik sehingga saya punya celah untuk bertemu. Ini alasan yang serius,, hehe,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya dan teman benar-benar dibuat jengkel dengan ulah pemimpin-pemimpin warga ini. Baru mulai berurusan dengan RW, kami sudah “dipalak” sejumlah uang. Saya sebut “dipalak” karena awalnya sengaja kami tidak mau memberi uang sebab di sana tertulis biaya untuk pembuatan KTP Rp. 0,-. Tapi kemudian mereka berkata sambil melotot “kasih sumbangan donk!!”. Akhirnya meluncur juga sejumlah uang ke tangan mereka. Saya jadi bertanya-tanya sumbangan macam apa ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kelurahan kami disambut oleh papan pengumuman tentang biaya layanan masyarakat. Lagi-lagi tertulis biaya pembuatan KTP RP. 0,-. Beberapa lama menunggu kami belum juga dilayani, sementara beberapa orang yang baru datang langsung masuk dan urusan selesai. Saya jadi bertanya-tanya kenapa kami tidak didahulukan?. Ya, tentu saja sebuah pertanyaan untuk diri sendiri. Kemudan tiba-tiba kami dipanggil oleh seorang petugas, sebut saja namanya Bunga (ini bukan korban perkosaan lho ya,,). Ibu bunga mulai melancarkan aksinya, dia menuturkan beberapa prosedur yang harus dilewati dan proses pembuatan KTP, menurutnya, minimal 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelas semakin heran, atau malah semakin yakin tentang carut-marutnya negeri ini, kenapa urusan kami begitu rumit sementara yang lain begitu mudah? Jawabannya tentu sudah bisa anda tebak, kami tidak membayar sepeserpun. Karena memang begitulah seharusnya. Beberapa hari berlalu satu urusan selesai, KTP. Teman saya mendatangi ke kantor lurah dan membayar kepada petugas di sana sejumlah uang. Tinggal satu urusan lagi, KK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata urusan KTP belum sepenuhnya selesai, melalui bu RT, yang anaknya sangat cantik itu, bu Bunga protes bahwa dia tidak mendapat bagian dari uang yang kami berikan. Saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa bu Bunga yang menurut bu RT sangat  sholehah itu bisa sedemikian marah?. Kenapa dia protes karena tidak dapat bagian uang yang, menurut saya, tidak halal itu?, saya tidak tau hukumnya apa tapi saya yakin bukan “halal”. Padahal tentu saja teman saya tidak tau kalau bu Bunga tidak mendapat bagian. Itu bukan urusan kami. Yang jelas kami sudah bayar, meskipun dengan berat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya teman saya mendatangi kantor lurah menemui bu Bunga dan membayar sejuamlah uang, kali ini jumlahnya lumayan banyak. Reaksinya sudah bisa kita tebak. Dengan tanpa malu dia berkata “wah kok banyak sekali” dan bla bla bla bla. Sejak itu urusan KK jadi sangat lancar. Sekali datang semua selesai. Bahkan kami tidak perlu mengisi formulir pembuatan KK. Semua langsung diketik dan print di tempat. Hebat sekali pelayanan mereka. Agar lebih lancar lagi kami mendatangi rumah bu RT dan memberinya sejumlah uang, karena urusan ini sudah terlalu lama.  Jika beruntung kami bisa ketemu anaknya yang terus-terusan mengganggu pikiran saya itu. Awalnya dia agak menolak menerima uang, mungkin karena tau kalau kami sudah mengeluarkan banyak untuk sebuah urusan yang bertele-tele ini. Tapi saya, sebagaimana anda, yakin bahwa penolakan itu basa-basi saja. Toh akhirnya diterima juga. Agak jengkel memang kami meninggalkan rumah bu RT, ditambah kami tidak bisa bertemu anaknya. Adik-adik saya yang gaul biasa menyebut situasi itu dengan istilah “jengkel tingkat dewa”. Atau biasaya kalau adik-adik saya ini jengkel dia akan menambahkan kata-kata untuk mendramatisir suasana “sumpah demi apapun gue jengkel tingkat dewa” katanya. Entah darimana mereka dapat istilah itu. Kira-kira demikianlah perasaan kami saat meninggalkan rumah bu RT. Memang tidak persis begitu. Dan sejak itu juga saya bertekad untuk tidak datang lagi kantor lurah, RW, dan RT, di manapun di Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian membayangkan bagaimana negeri yang membentang luas sepanjang 10 juta kilometer persegi ini diurus dengan cara yang sangat riueh. Mungkin mereka tidak belajar kepada Plato tentang negara ideal. Atau bahkan mereka mungkin tidak kenal siapa Plato, atau Socrates, atau Aristoteles. Bagi Socrates, tujuan dibentuknya sebuah negara adalah untuk mensejahterakan rakyat. Yang kemudian oleh muridnya, Plato, disebut sebagai negara ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin di zaman mereka, 2400 tahun yang lalu, belum ada yang disebut negara ideal. Itu mungkin hanya ada dalam dunia ide guru-guru kita itu. Tapi dari ciri-ciri yang mereka sebut tentang negara ideal, saya pikir Indonesia memenuhi syarat untuk itu. Kekayaan alam yang melimpah sebagai sumber kesejahteraan rakyat. Kita memiliki itu. Sumber daya manusia yang pintar-pintar. Jelas kita punya. Tapi kenapa untuk urusan KTP saja harus ribet begini? Pastinya Socrates dan murid-muridnya tidak akan bisa menjawab karena mereka tidak pernah mengurus KTP. Di zaman mereka, 400 tahun Sebelum Masehi, tentu belum ada kantor lurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan jika Socrates hidup di zaman ini, dan kebetulan beliau tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta Timur, satu kelurahan dengan saya. Apa yang beliau katakan ketika akan mengurus KTP dan bertemu dengan bu Bunga. Saya yakin bu Bunga bisa “mati berdiri” mendengar ceramah-ceramah Socrates yang tidak bisa dibantah kecuali dengan membunuhnya seperti yang dilakukan pemerintah Athena di masa lalu. Apa juga yang akan dilakukan guru kita Socrates ketika datang ke rumah bu RT dan mendapati urusan mengurus KTP ternyata begitu sulit. Saya yakin Socrates akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berceramah tentang “tugas-tugas pemimpin masyarakat”. Saya juga yakin bu RT tidak akan bisa membalas logika-logika Socrates yang sulit dibantah. Dan tentu saya akan menggunakan momen itu dengan meminta Socrates melamarkan anak bu RT untuk saya. Pasti dia tidak akan bisa menolak lamaran seorang Guru Peradaban sehebat Socrates. Yang jelas, jika Socrates dan murid-muridnya ada disini, mereka pasti akan menjadi musuh yang menakutkan bagi orang-orang seperti bu Bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, saya jelas tidak bisa menyalahkan bu Bunga begitu saja. Setahu saya beliau bukan orang kaya hingga sulit dikatakan dia melakukan itu untuk memperkaya diri sendiri. Yang tepat mungkin mengatakan dia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Atau mungkin juga beliau melakukan itu karena atasannya juga minta “jatah”, jadi mau tidak mau dia harus setor. Atau ada alasan lain. Yang pasti, ini bukan kesalahan bu Bunga seorang. Ini adalah sistem. Sehingga saya tidak mungkin memperkarakan bu Bunga ke pengadilan, meskipun sebagai warga negara saya berhak memperkarakan sejumlah uang yang raib tidak jelas itu. Selain itu, saya bisa dianggap “lebay” karena memperkarakan orang “cuma” gara-gara KTP. Jauh lebih tidak penting dibanding perkara Gayus Tambunan, artis dadakan itu, atau perkara Nurdin Halid, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa yang salah dengan keadaan ini? Yang pasti bukan saya dan teman, karena secara hukum kami bisa disebut korban. Dan tentu saja banyak sekali “korban-korban” lain di seluruh Nusantara. Tapi mungkin juga bukan bu Bunga atau bu RT. Apalagi anaknya bu RT. Jelas bukan salah dia, satu-satunya kesalahannya adalah mengapa dia jarang ada di rumah kalau saya datang kesana. Dia sangat bersalah dalam urusan itu. Lalu salah  siapa? Saya tidak tau persis. Yang saya tau sejak saya dilahirkan oleh ibu saya sekitar 25 tahun lalu keadaannya sudah begini. Mungkin anda yang kebetulan lahir sebelum saya bisa menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak tau berapa jumlah kelurahan atau desa di “Republik Uang” ini. Mungkin sekitar sepuluh ribu, atau lebih atau kurang. Apalagi jika ditanya ada berapa RT dan RW, saya lebih tidak paham lagi. Dan kira-kira dari sekitar sepuluh ribu itu berapa kantor lurah atau kepala desa yang memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat yang mengurus KTP? Saya yakin pasti ada meski saya tidak yakin bisa lebih dari sepuluh persen saja. Keyakinan saya terbukti ketika orang tua saya menguruskan KTP saya di kampung dulu, di sebuah desa di pesisir barat Minangkabau, Batang Tajongkek nama desanya, Pariaman nama kotanya. Berbagai urusan di urus dengan gratis dan langsung diantar ke rumah. Ibu saya biasanya akan memberikan beberapa rupiah sebagai ucapan terima kasih saat petugas telah menyelesaikan urusan kami. Tapi jelas ini bukan “uang pelicin”. Saya tidak yakin apakah petugas tersebut telah berkenalan dengan Socrates. Tap setidaknya mereka memiliki ide yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat anda mungkin juga ada yang gratis. Mungkin juga ada beberapa petugas yang bijaksana seperti Socrates. Tapi saya sangat yakin kalau itu akan jarang sekali. Kenapa saya begitu yakin?? Entahlah. Tanyakan saja pada bu Bunga atau pada anaknya bu RT, yang karena kebodohan saya, sampai detik ini saya tidak tau namanya... mudah-mudahan namanya bukan Bunga dan mudah-mudahan dia tidak bekerja di kantor kelurahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-4367567112170025678?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/4367567112170025678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=4367567112170025678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4367567112170025678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4367567112170025678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2011/06/republik-uang.html' title='Republik Uang'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-1603034582311223481</id><published>2011-06-04T23:01:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T23:02:40.771-07:00</updated><title type='text'>ROBOHNYA SURAU KAMI</title><content type='html'>Ali Akbar Navis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajo Sidi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajo Sidi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tidak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang2-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin berkelakukan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami sebut pemimpin katak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek akan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi, "Apa ceritanya, Kek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajo Sidi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggoroknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek marah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Marah? Ya kalau aku masih mudah, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. 'Alhamdulillah' kataku bila aku menerima karunia-Nya. 'Astagfirullah' kataku bila aku terkejut. 'Masya Allah', kataku bila aku kagum. Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku. "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin mengetahui apa cerita Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada suatu waktu,' kata Ajo Sidi memulai, 'di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan 'selamat ketemu nanti'. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Engkau?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Apa kerjamu di dunia?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain lagi?' tanya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.' Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Tuhan bertanya lagi: 'Tak ada lagi?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya, itulah semuanya, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Masuk kamu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Bagaimana Tuhan kita ini?' kata Haji Saleh kemudian, 'Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,' kata salah seorang di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ini sungguh tidak adil.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Memang tidak adil,' kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar. Benar. Benar.' Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kalau Tuhan tidak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?' suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kita protes. Kita resolusikan,' kata Haji Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Apa kita revolusikan juga?' tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Itu tergantung pada keadaan,' kata Haji Saleh. 'Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,' sebuah suara menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Setuju. Setuju. Setuju.' Mereka bersorak beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya, 'Kalian mau apa?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: 'O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, memprogandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kalian di dunia tinggal di mana?' tanya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'O, di negeri yang tanahnya subur itu?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya benarlah itu, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Negeri yang lama diperbudak orang lain?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Engkau tetap rela melarat, bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ada, Tuhanku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?' tanya Haji Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka kucar-kacir selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.' "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dan sekarang ke mana dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dia pergi kerja."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-1603034582311223481?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/1603034582311223481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=1603034582311223481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/1603034582311223481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/1603034582311223481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2011/06/robohnya-surau-kami.html' title='ROBOHNYA SURAU KAMI'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-438033629185911096</id><published>2010-08-10T15:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T15:55:55.345-07:00</updated><title type='text'>Puisi Jalaludin Rumi</title><content type='html'>Menangislah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matsnawi, Buku Kelima 65-149&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tangisan awan, taman pun tersenyum&lt;br /&gt;Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata&lt;br /&gt;“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung&lt;br /&gt;Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”&lt;br /&gt;Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan awan dan panas mentari&lt;br /&gt;Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan&lt;br /&gt;Mana mungkin bakal kembang semua badan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mungkin musim silih berganti&lt;br /&gt;Jika kemilau dan tangis ini berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari yang membakar dan awan yang menangis&lt;br /&gt;Itulah yamg membuat dunia segar dan manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar&lt;br /&gt;Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu&lt;br /&gt;karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur&lt;br /&gt;Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu&lt;br /&gt;Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu&lt;br /&gt;Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu&lt;br /&gt;Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji&lt;br /&gt;Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian&lt;br /&gt;Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan: Jalaluddin Rakhmat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-438033629185911096?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/438033629185911096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=438033629185911096' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/438033629185911096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/438033629185911096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/08/puisi-jalaludin-rumi.html' title='Puisi Jalaludin Rumi'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-4335772098217536830</id><published>2010-04-25T06:20:00.001-07:00</published><updated>2010-04-25T06:34:11.663-07:00</updated><title type='text'>Sambutan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Untuk Muktamar XIV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah</title><content type='html'>Sambutan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;br /&gt;Untuk Muktamar XIV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah  makhluk pencipta sejarah. Setiap zaman melahirkan pelaku-pelaku sejarah yang selalu di bincang sepanjang masa. Tentu saja hanya mereka yang mampu berperan signifikanlah yang mendapat tempat khusus dalam  lembar sejarah. Apa yang membuat Soekarno selalu dibicarakan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia? Apa yang dilakukan Simon Bolivar hingga tidak ada seorang sejarawanpun yang melupakannya saat membicarakan kemerdekaan Negara-negara Amerika Latin? Yang mereka lakukan adalam mengambil peran yang sangat signifikan hingga mustahil mereka terlewatkan saat kita membicarakan kemerdekaan Negara mereka masing-masing. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah juga sepertinya sudah terlanjur mempercayakan kepada mahasiswa untuk melakukan perubahan. Sebut saja ketika revolusi mengusir Uni Soviet dari Hungaria tahun 1956 dimotori oleh Dewan Mahasiswa Revolusioner melalui Manifesto 14. Union National des Etidiants de France (UNEF) - wadah perjuangan mahasiswa Perancis – memelopori pemogokan umum menyeluruh selama dua bulan pada Mei - Juli 1968. Aksi ini memicu “Krisis Mei” yang tercatat dalam sejarah sebagai krisis paling hebat di Prancis sepanjang abad 20.&lt;br /&gt;Di Sudan, University Student’s Union, gerakan  mahasiswa disana, dengan  kuat menekan rezim Jenderal About tahun 1964 dengan  melakukan pemogokkan umum dan berhasil memaksa sang Jenderal memberhentikan menteri-menterinya yang korup.&lt;br /&gt;Di Indonesia, gerakan para mahasiswa Indonesia di Belanda yang awalnya bernama Indische Vereeninging, dan kemudian dikenal dengan Perhimpunan Indonesia, melakukan propaganda kemerdekaan Indonesia. Sepanjang sejarah kemerdekaan dan masa pembangunan bangsa pasca-proklamasi, gerakan mahasiswa tidak pernah absen untuk menorehkan namanya dalam lembar-lembar sejarah bangsa. &lt;br /&gt;Dalam hal ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang lahir dari rahim sejarah pergolakan  bangsa Indonesia pada 1964 juga terus bergerak mengawal kemerdekaan. Melalui pencerahan intelektual dan praksis gerakan – sebagaimana semangat gerakan Ahmad Dahlan – IMM berperan besar dalam proyek pencerahan  tersebut. Sebagaimaa dalam deklarasi awal berdirinya; Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amala adalah ilmiah (poin ketiga "Enam Penegasan IMM").&lt;br /&gt;Deklrasai ini menunjukan bahwa corak gerakan IMM adalah intelektual progressive atau intelektual organic dalam  istilah Gramci, Karl Mannheim, atau Ernest Gellner. Menurut mereka, kaum intelektual memiliki tanggung jawab yang besar dalam memperjuangkan kebenaran guna mewujudkan keadilan dan kebebasan. Model intelektual seperti ini yang juga diteladankan oleh KH. Ahmad Dahlan. Beliau adalah cendekiawan ulung sekaligus aktivis yang selalu bergerak melakukan pencerahan umat. Sebuah teladan yang harus selalu diikuti oleh semua ortom, termasuk IMM.&lt;br /&gt;Muktamar XIV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tahun ini merupakan momentum untuk kembali mengambil peran sejarah untuk kebaikan negeri ini. Hiruk pikuk dan sirkus politik yang terjadi dewasa ini harus segera diakhiri. Masa transisi demokrasi – sejak reformasi – sudah berjalan terlalu lama hingga diperlukan sebuah gerakan yang mengakhiri masa “transisi” ini dan menggantikannya dengan masa demokrasi seutuhnya.  Dan bagaimanapun, gerakan mahasiswa – yang oleh sejarah terlanjur dipercaya untuk melakukan perubahan – harus berada digarda untuk menjalankan misi tersebut.&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, Muktamar kali menjadi sangat penting maknanya. Yaitu untuk mempertajam  misi amar maruf nahi munkar, baik dalam ikatan, persyarikatan, dan lebih-lebih dalam problematika kebangsaan. Tema yang diusung; Menorehkan Tinta Emas Menuju Indonesia Sejahtera, merupakan niat luhur yang harus diwujudan dalam ikhtiar mengambil peran  membangun bangsa. &lt;br /&gt;Sejarah harus mencatat IMM dengan tinta emas karena perjuangan panjang yang telah dilakukan. Dan IMM harus terus mengukir perjuangan itu jika tidak ingin terkubur dalam rimba sejarah yang gulita. Karena waktu terus bergulir dan hanya mereka yang mampu mengambil peran signifikanlah yang akan dicatat dengan  tinta emas dalam sejarah. Muktamar kali ini, sekali lagi, adalah momentum untuk kembali menorehkan tinta emas tersebut.&lt;br /&gt;Selamat ber-Muktamar…!!!&lt;br /&gt;Jayalah IMM jaya,,, abadi perjuangan kami,,,!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 April 2010 &lt;br /&gt;Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-4335772098217536830?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/4335772098217536830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=4335772098217536830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4335772098217536830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4335772098217536830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/04/sambutan-pimpinan-pusat-ikatan-pelajar.html' title='Sambutan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Untuk Muktamar XIV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-2962410108324046557</id><published>2010-03-24T07:19:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T04:05:20.373-07:00</updated><title type='text'>Pengilmuan Islam dan Integrasi Ilmu dengan Etika: Gagasan Kuntowijoyo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zainal Abidin Bagir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Center for Religious and Cross-cultural Studies, Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia&lt;br /&gt;Secara garis besar, ada dua gagasan utama Kunto yang dibahas di sini: pengilmuan Islam dan integrasi ilmu dengan etika. Meskipun di tulisan-tulisan awalnya (80-an dan awal 90an) ia tampak bersimpati pada gerakan islamisasi ilmu, belakangan ia membedakan gagasannya tentang pengilmuan Islam dari gerakan tersebut, bahkan mengatakan bahwa “gerakan islamisasi ilmu mesti ditinggalkan”. Kuntowijoyo meyakini objektifitas ilmu, namun menolak klaim bebas-nilainya, dalam artian netralitas/ketakberpihakan. Di satu sisi, Islam mesti dijadikan ilmu (diobjektifikasi); di sisi lain, ilmu-ilmu (khususnya sosial) mesti menyatakan keberpihakan yang jelas, yaitu kepada cita-cita profetik universal agama-agama: humanisasi, liberasi, dan transendensi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Kuntowijoyo pernah membawakan kisah yang dikutipnya dari Bakdi Sumanto. Alkisah, Pak Fulan bin al-Jawi, seorang pensiunan, duduk di kursi goyang sambil memutar tasbihnya. Ia gelisah, “Apa yang kurang ya?” Pajak … sudah, zakat … sudah, premi asuransi sudah, Takaful sudah…. Tiba-tiba ia teringat: Tuhan menyuruhnya masuk Islam secara total. Padahal, mobil Kijangnya yang baru belum masuk Islam. Ia pun mengambil gergaji dan jongkok di samping mobilnya. Ketika ditanya istrinya, ia menjawab, “ternyata mobil kita belum masuk Islam. Maka saya sedang menyunat, memotong ujung knalpotnya.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sembarangan kiranya jika Kunto mengambil kisah ini untuk menggemakan peringatannya. Kisah ini adalah satu sisi krusial dari beberapa persoalan besar yang ingin dipecahkannya. Sebagai seorang Muslim pemikir, Kunto ingin menemukan bagaimana janji Islam sebagai rahmat bagi alam semesta dapat dijadikan kenyataan. Haruskah untuk itu Islam dijadikan ideologi? Atau paradigma keilmuan? Haruskah hermeneutika diterapkan untuk memahami pesan al-Qur'an? Atau strukturalisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah pembuka tulisan ini memang amat sinis, tapi juga merupakan ilustrasi amat kuat tentang bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat alam semesta dapat dipahami sebagai gerakan “islamisasi semua bidang kehidupan demi menjalankan Islam kaaffah” dalam wujudnya yang naif. Sebagai seorang ilmuwan, Kuntowijoyo menggali pandangan-pandangan alternatif yang berputar di sekitar beberapa konsep kunci: objektifikasi, pengilmuan Islam (atau Islam sebagai ilmu), dan cita-cita profetik. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah, frasa “pengilmuan Islam” berarti menjadikan Islam sebagai ilmu. Dari sini saja bisa muncul banyak pertanyaan. Pertama, perlu diperhatikan bahwa ia tak hanya berbicara mengenai Islam sebagai sumber ilmu, atau etika Islam sebagai panduan penerapan ilmu, misalnya. Tapi Islam itu sendiri yang merupakan ilmu. Dengan “pengilmuan Islam”, yang ingin ditujunya adalah aspek universalitas klaim Islam sebagai rahmat bagi alam semesta—bukan hanya bagi pribadi-pribadi atau masyarakat Muslim, tapi semua orang; bahkan setiap makhluk di alam semesta ini. “Rahmat bagi alam semesta” adalah tujuan akhir pengilmuan Islam. Rahmat itu dijanjikan bukan hanya untuk Muslim tapi untuk semuanya. Tugas Muslim adalah mewujudkannya; pengilmuan Islam adalah caranya. Secara lebih spesifik, Islam di-ilmu-kan dengan cara mengobjektifkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objektifikasi Islam: dari mitos dan ideologi menjadi ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu cara untuk memahami gerak “pengilmuan Islam” adalah dengan memperhatikan periodisasi sistem pengetahuan Muslim yang dibuat Kunto. (ISI, 80-81) Periodisasi penting untuk memahami apa yang akan dikerjakan pada suatu periode tertentu. Keputusan baik yang diambil di suatu periode belum tentu akan bermanfaat di periode yang lain. Dalam periodisasi ini, umat Islam bergerak dari periode pemahaman Islam sebagai mitos , lalu sebagai ideologi , dan terakhir sebagai ilmu . Pembahasan lebih dalam mengenai ini ada di cukup banyak tulisan Kunto yang tersebar sejak tulisan-tulisan awalnya mengenai analisis sosisal politik umat Islam Indonesia . Untuk keperluan makalah ini, cukuplah dikemukakan beberapa unsur terpentingnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periodisasi ini sesungguhnya awalnya dibuat untuk membagi sejarah politik umat Islam (khususnya di Indonesia ). Namun karena pembagian ini dibuat berdasarkan sistem pengetahuan masyarakat, ia berguna pula untuk memahami gerakan pengilmuan Islam yang diusulkan untuk periode terakhir umat Islam ini. Pada periode pertama, Islam dipahami lebih sebagai mitos ; sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal perlu dipertahankan, dijaga kemurniannya dari campuran-campuran non-islami, dan jika perlu dipertahankan dari serangan pihak luar. Karenanya Kunto menyebut bahwa tradisi ini biasanya bersifat deklaratif atau apologetis. (MTM, 102-103). Sebuah indikasi menarik yang diajukan Kunto adalah mengenai maraknya buku-buku jenis itu yang diterbitkan Bina Ilmu atau Gema Insani Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai ideologi sudah bersifat lebih rasional, tapi masih terlalu apriori/ nonlogis. Di sini Islam ditampilkan sebagai ideologi tandingan bagi ideologi-ideologi dunia seperti kapitalisme dan komunisme. Dalam bidang politik, ciri utama gerakan ini adalah berdirinya organisasi-organisasi politik, dan ditandai dengan gagasan pembentukan Negara Islam. Islam eksis hanya jika ia eksis secara institusional-formal. Karena itu, ketika di Indonesia semua ormas diharuskan berasas Pancasila, ini dipahami sebagai upaya de-islamisasi. Padahal, kata Kunto, ini juga bisa dilihat sebagai isyarat bahwa Islam perlu memasuki babak baru, yaitu periode Islam sebagai ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam periode ilmu, yang diperlukan adalah objektifikasi Islam, yang akan di bahas di bawah. Untuk mengambil contoh aktifitas dalam periode ini di bidang politik, Kunto memahami benar bahwa bagi para founding fathers Indonesia yang Muslim, menghapuskan tujuh kata dari Piagam Jakarta amat berat dilakukan, namun toh akhirnya dilakukan juga. Keputusan yang sama beratnya mesti diambil ketika pada masa Orde Baru terjadi marjinalisasi keterlibatan politik Muslim. Namun, kata Kunto, “sekali lagi diminta kesadaran bahwa umat menjadi bagian dari bangsa yang plural.” (ISI, 50) “Orang mengira bahwa Islam hanya bisa diterjemahkan ke dalam satu jenis saja, yaitu ideologi. … [Padahal] Islam hanya memasuki babak baru dalam politik… yaitu periode ilmu.” (ISI, 82) Gagasan objektifikasi Islam diharapkan “dapat membebaskan umat dari prasangka politik pihak-pihak birokrasi, umat sendiri, dan nonumat.” (ISI, 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kurang tepat namun mungkin cukup instruktif, bisa dikatakan bahwa dengan melakukan objektifikasi, “baju Islam” (“Islam sebagai baju”) ditanggalkan, dan Islam secara substansial tampil secara universal. Nilai-nilai Islami menjadi sesuatu yang bisa diterima orang, Muslim ataupun non-Muslim, karena kebaikan nilai-nilai itu sendiri, bukan karena nilai-nilai itu disebut “Islami”. [4] Dengan cara ini, Islam menjadi rahmat untuk alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ini mensyaratkan bahwa agama lebih dulu diobjektifikasi, agar ia benar-benar bermanfaat untuk seluruh umat manusia, tak hanya memenuhi keinginan eksklusif sebagian kaum beragama tertentu untuk menegaskan identitasnya. Persis itulah yang menjadi salah satu tujuan objektifikasi, yaitu untuk menghindari dominasi satu kelompok agama atas kelompok-kelompok lainnya. (ISI, 65) Dengan ini, Muslim masih dapat tetap menjadikan al-Qur'an sebagai sumber hukum. Namun, “Objektivikasi Islam akan menjadikan al-Qur'an terlebih dahulu sebagai hukum positif, yang pembentukannya atas persetujuan bersama warga negara.” (ISI, 66) Muslim tak dapat serta merta menerapkan syari'ah menjadi hukum negara, misalnya, tapi itu hanya dapat dilakukan jika ada kesepakatan dari semua, termasuk non-Muslim. Ini hanya bisa dicapai jika nilai-nilai Islam itu telah diobjektifikasi sehingga tampil sebagai nilai-nilai yang dapat diterima semua orang lepas dari latar belakang/sumber nilai-nilai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Kunto juga menyarankan bahwa semua agama melakukan hal yang sama, objektifikasi. (ISI, 67) Jika demikian, ini akan menjamin bahwa konflik dapat dihindari. Islam—dan sesungguhnya semua agama—bukan lagi berwujud identitas atau simbol yang diterjemahkan dalam label-label institusional yang menarik garis antara kelompokku dan kelompokmu, tapi justru ditransformasikan menjadi sumber pemecahan masalah bersama secara objektif. Kalaupun, misalnya, partai Islam atau partai Kristen ingin didirikan, perjuangannya tak lagi bersifat partisan. Nilai-nilai agama tertentu bisa diusung dalam agenda perjuangannya, tapi sebagai nilai-nilai yang kebaikannya bersifat objektif, bisa dipahami semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pra-anggapan filosofis: rasionalisme dan pluralisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa paragraf terakhir di atas menyiratkan beberapa pra-anggapan filosofis Kuntowijoyo. Setidaknya ada du hal yang bisa dicatat di sini: (1) Dalam polarisasi mazhab rasionalis dan tekstualis, posisi Kuntowijoyo ada dalam “kubu” pemikiran Islam yang lebih rasionalis; (2) Ia meyakini bahwa semua agama memiliki keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Sejak masa awal pemikiran Islam, ada perdebatan di kalangan pemikir Muslim yang membagi mereka ke mazhab-mazhab rasionalis ( mu'tazili ) dan tekstualis. Kaum tekstualis, misalnya, memahami bahwa sesuatu perbuatan bersifat baik atau buruk karena ia diperintahkan atau dilarang oleh Tuhan; kaum rasionalis, sebaliknya, melihat bahwa sesuatu perbuatan dilarang atau diperintahkan oleh Tuhan karena perbuatan tersebut bersifat baik atau buruk. Yang pertama menaruh kesetiaannya pertama-tama pada teks; yang kedua terutama melihat adanya nilai inheren yang objektif dalam agama. Ini jelas memberi ruang yang cukup besar bagi manusia untuk memikirkan rasionalitas teks. Bahkan, bagi kaum rasionalis yang cukup “ekstrem”, karena kebaikan tersebut bersifat objektif, itu berarti ia accessible untuk pikiran manusia. Implikasinya, kebenaran-kebenaran tersebut dapat dicapai tanpa melalui medium kenabian/kitab suci. (Inilah salah satu yang ingin ditunjukkan dalam novel populer Hayy ibn Yaqzhan. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunto saya kira tak ingin bergerak sejauh itu. Namun secara teoretis, keyakinannya akan rasionalitas Islamlah yang memungkinkannya menggagas objektifikasi Islam. Sementara kaum tekstualis selalu ingin kembali kepada teks; kaum rasionalis seperti Kuntowijoyo berangkat dari teks namun kemudian bergerak jauh untuk menjelajahi dunia. Yang pertama biasanya bersifat amat normatif, yang kedua empiris. Inilah yang di bawah nanti akan ditunjukkan sebagai salah satu pembeda pengilmuan Islam dari islamisasi ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri utama periode ilmu adalah aktifitas objektifikasi Islam agar “Islam jadi rahmat untuk semua”. (ISI, 50) Gagasan-gagasan normatif Islam ditampilkan sebagai nilai-nilai universal, bersifat publik, dan dijustifikasi secara rasional. Nilai-nilai tersebut layak diterima bukan karena ia berasal dari Islam; berasal dari Islam atau tidak, itu tak penting lagi. Yang penting adalah bahwa nilai-nilai itu bisa ditunjukkan sebagai mengandung kebaikan pada dirinya sendiri, sehingga sumber nilai-nilai itu menjadi tak penting; yang penting adalah kemampuan menjustifikasinya secara rasional, demi mempersuasi sebanyak mungkin orang untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasilnya, “Meyakini latar belakang agama yang menjadi sumber ilmu atau tidak, tidak menjadi masalah, ilmu yang berlatar belakang agama adalah ilmu yang objektif, bukan agama yang normatif.” (ISI, 57) Objektifikasi ilmu adalah ilmu dari orang beriman untuk seluruh manusia, tanpa mengenal agamanya, non-agama, bahkan anti agama. “Pendeknya, dari orang beriman untuk seluruh manusia.” (ISI, 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Hal yang persis sama berlaku untuk agama-agama lain, yang bagi Kunto juga perlu melakukan objektifikasi agar manfaatnya dirasakan semua orang. Ini karena ia tampak yakin benar bahwa semua agama memiliki keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang serupa. Untuk ini, cukuplah mengutip pernyataannya yang paling jelas dan eksplisit dalam tulisan terakhirnya “Maklumat Sastra Profetik” (MSP) di Horison (Mei 2005). Sebagai sarana untuk mencapai pengetahuan yang lebih tinggi, yang melampaui keterbatasan akal manusia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Kitab Suci yang satu tidak lebih tinggi daripada Kitab Suci lainnya. Mereka sejajar. Islam mengajarkan (Al-Quran, 3: 64) tentang adanya kalimah sawa' (titik temu, konsensus, common denominator ). Tidak ada pertentangan tentang hal-hal yang fundamental, meskipun ada perbedaan dalam detailnya. Maka sekalipun dalam maklumat ini saya hanya mengemukakan ajaran dari satu Kitab Suci saja, saya yakin dapat mewakili semua Kitab Suci lainnya. Sebab, maklumat ini hanya akan membicarakan hal-hal yang ada titik temunya, dan yang tidak kontroversial.” (MSP, 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat terakhir perlu digarisbawahi: bagi Kunto, keberpihakan pada etika profetik (yang dijabarkannya menjadi humanisasi, liberasi, dan transendensi) adalah hal-hal yang tak kontroversial, bisa diterima semua orang (kecuali mungkin nilai ketiga, yang bermakna hanya bagi kaum beragama). Bagi Kunto yang Muslim, inspirasi mengenai ketiga cita-cita profetik ini didapatnya dari Al-Qur'an 3: 110 (“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf , dan mencegah dari yang munkar , dan beriman kepada Tuhan ”). Kunto membaca ayat ini sebagai perintah untuk meperjuangkan humanisasi ( amar ma'ruf ), liberasi ( nahi munkar ), dan transendensi (beriman kepada Tuhan). Tanpa melakukan kajian lebih jauh, tampaknya tak sulit menemukan cita-cita profetik yang serupa di agama-agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan terakhirnya, “Maklumat Sastra Profetik”, ia menjabarkan agenda etika profetik itu secara lebih terinci. Yang pertama, adalah melawan kecenderungan dehumanisasi (dalam wujud manusia mesin, manusia massa , dan budaya massa ). Agenda liberasi adalah pembebasan masyarakat dari penindasan politik dan negara, ketidakadilan ekonomi, dan ketidakadilan gender. Agenda transendensi adalah “menghidupkan kembali” Tuhan yang telah dibunuh oleh beberapa aliran filsafat Barat. (MSP, 11-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamisasi ilmu versus pengilmuan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas “pengilmuan Islam” dicoba dipahami dengan membandingkannya dengan Islam sebagai mitos dan ideologi. Untuk lebih jauh memahami ini dalam konteks yang lebih luas, kita bisa melihat alternatif lain bagi gerakan “pengilmuan Islam”. Dalam konteks yang berbeda, Kunto membandingkan pengilmuan Islam dengan kodifikasi Islam dan islamisasi ilmu . (ISI, 6-11) Pengilmuan Islam (yang dalam konteks ini disebutnya sebagai demistifikasi Islam) adalah gerakan dari teks ke konteks; islamisasi adalah sebaliknya, dari konteks ke teks; sementara kodifikasi berkutat di sekitar eksplorasi teks, nyaris tanpa memperhatikan konteks. Ketiga gerakan ini adalah ragam perwujudan dari keinginan untuk kembali kepada teks (al-Qur'an dan Sunnah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa pembahasan Kunto, pengilmuan Islam terkadang sulit dibedakan dari islamisasi ilmu, dan tampaknya di tulisan-tulisan awalnya Kunto tak secara ketat membedakan keduanya. Atau, penjelasan yang menurut saya lebih memuaskan adalah bahwa Kunto sesungguhnya telah mengubah posisinya mengenai gagasan islamisasi ilmu, yang di tahun 80-an dan 90-an merupakan gagasan yang amat populer di dunia Muslim. Perubahan posisi Kuntowijoyo tampak cukup jelas dalam buku Islam sebagai Ilmu yang mengandung bab-bab yang ditulis pada 1991 hingga 2004. Sebagai contoh, di bukunya Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1991) ia menyebutkan secara positif (dan eksplisit) upaya islamisasi ilmu yang dipahami sebagai upaya perumusan teori yang didasarkan pada paradigma al-Qur'an. (ISI, 26). Ia juga tak bersepakat dengan Ziauddin Sardar yang mengkritik upaya Islamisasi ilmu pengetahuan. (ISI, 93) Namun dalam tulisannya yang terbit pada 2002, ia menghadapkan pengilmuan Islam sebagai alternatif bagi islamisasi ilmu. (ISI, 6). Di pengantar buku itu, Kunto bahkan secara tegas mengatakan, “… gerakan intelektual Islam harus melangkah ke arah ‘pengilmuan Islam'. Kita harus meninggalkan ‘Islamisasi pengetahuan'….” (ISI, 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan-tulisannya yang belakangan itu, tampak setidaknya ada dua pembedaan pengislaman ilmu dengan pengilmuan Islam. Perbedaan pertama adalah dalam hal metodologinya. Yang pertama tampaknya lebih bersikap reaktif, yaitu reaksi terhadap bangunan keilmuan yang sudah wujud, yang dipandang tak sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan ingin dikembalikan kepada Islam yang lebih dipahami sebagai teks. (ISI, 8) Pengilmuan Islam memiliki sikap yang lebih terbuka dalam hal ini. Gerakan ini dengan rendah hati mengakui bahwa penggagasnya lahir di alam ilmu-ilmu sekular, yang terkadang tampak bermusuhan dengan agama. Sementara umat beriman mungkin memiliki keberatan terhadap sebagian bangunan ilmu kontemporer, namun mereka tak ingin menggantikan ilmu-ilmu sekular. (ISI, 53) Berangkat dari keyakinan akan misi profetik agama (transendensi, emansipasi dan humanisasi), yang diinginkannya adalah memastikan bahwa agama dapat memainkan peran yang cukup besar dalam memastikan keberlangsungan hidup dan masa depan umat manusia. Salah satu kritik gerakan ini terhadap ilmu-ilmu sekular adalah bahwa yang belakangan sedang terjangkiti krisis, dalam artian tak dapat memecahkan persoalan. (ISI, 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah terletak perbedaan kedua dengan islamisasi ilmu. Pengilmuan Islam sesungguhnya bukan hanya persoalan keilmuan saja; salah satu tujuan utamanya adalah mengkontekskan tek-teks agama; dengan kata lain, menghubungkan agama dengan kenyataan. Istilah lain yang bisa digunakan di sini adalah “membumikan Islam”. Kenyataan hidup adalah konteks bagi keberagamaan. Ketika berbicara tentang ilmu sosial profetik, ia bahkan lebih jauh menyebut bahwa ilmu sosial ini bersifat transformatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di satu sisi, yang diinginkan adalah justru melanjutkan perjalanan ilmu-ilmu sekular, dan mencoba memperbaiki dari dalam. Pencapaian ilmu-ilmu sekular tak dinafikan, tapi diintegrasikan dalam suatu kerangka teoretis baru yang punya keberpihakan cukup jelas kepada nilai-nilai humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendensi. (ISI, 52, 57) Kerangka teoretis inilah yang ingin diturunkan Kuntowijoyo dari kitab suci (dalam hal ini, al-Qur'an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, bagi Kunto, modal utama untuk memperbaiki ilmu-ilmu modern adalah agama. Agama penting dilibatkan di sini justru karena keberpihakannya cukup jelas, yaitu kepada kepentingan kemanusiaan (yang, sebagaimana disinggung di atas, dijabarkan menjadi humanisasi, liberasi, dan transendensi) . Namun, sekali lagi, ini mensyaratkan bahwa agama lebih dulu diobjektifikasi, agar benar-benar bermanfaat untuk seluruh umat manusia, tak hanya absah bagi pemeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemaparan sejauh ini, perlu diperhatikan bahwa meski Kuntowijoyo menyebut pengilmuan Islam sebagai alternatif islamisasi ilmu, gagasan ini tak bisa semata-mata ditempatkan dalam rubrik “ilmu dan agama”. “Ilmu dan agama” biasanya berbicara tentang hubungan ilmu dan agama (misalnya, pertanyaan mengenai apakah keduanya dalam konflik atau harmoni? Bagaimana mengintegrasikan keduanya? Perlukah ilmu menjadikan agama sebagai salah satu sumbernya?) Pengilmuan Islam sedikit banyak memang berbicara tentang hubungan ilmu dan agama, tapi juga tentang bagaimana Islam sebagai sebuah agama mesti dihayati Muslim kontemporer. Untuk yang belakangan ini, contoh-contoh terbaiknya justru berada dalam wilayah pembicaraan tentang posisi Muslim dalam ranah sosial-politik Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama , melalui analisis tiga periode yang diajukannya, pengilmuan Islam berusaha menjelaskan posisi umat Islam dalam panggung sosial politik. Kedua , tak berhenti pada memberikan penjelasan, pengilmuan Islam juga merupakan saran kemana umat Islam mesti bergerak. Ketiga , secara lebih umum, pengilmuan Islam dapat dianggap sebagai suatu teori sosial mengenai gerak sejarah umat Islam. Di sinilah tampaknya kedua makna pengilmuan Islam bertemu: karakter ilmu sosial yang digagas Kunto tak sekadar berhenti sebagai ilmu (yang fungsi utamanya adalah menjelaskan fenomena/peristiwa), tapi punya ‘ambisi' melakukan transformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisannya, Kuntowijoyo menyinggung tentang gagasan teologi transformatif yang dikemukakan Moeslim Abdurrahman, dan ia mencoba memahami mengapa gagasan ini sulit diterima kebanyakan Muslim. (ISI, 88-91) Sebabnya, bagi mereka teologi adalah sesuatu yang sudah selesai—tak perlu ada teologi baru. Dengan pembahasan di paragraf sebelum ini, kita bisa memahami mengapa kemudian dalam kesempatan itu Kunto mengajukan “ilmu sosial profetik” sebagai alternatif bagi “teologi transformatif”. “Ilmu” bisa menjadi alternatif bagi “teologi” ketika keduanya dipahami secara lebih luas. Di satu pihak, teologi dipahami bukan sebagai sekumpulan doktrin tentang masalah-masalah ketuhanan saja, tapi juga keingina n menyikapi kenyataan empiris menurut perspektif ketuhanan (ISI, 89); dengan kata lain, teologi adalah juga cara menafsirkan realitas empiris, dan karenanya dinamis. Di pihak lain, ilmu dipahami sebagai tak bebas-nilai (tak berpihak), tapi mengandung aspirasi transformasi sosial dalam bentuk cita-cita profetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya: apakah ketakbebasnilaian itu tak bertentangan dengan keinginan untuk bersikap objektif (melakukan objektifikasi)? Satu penjelasan yang bisa diajukan adalah, ketika Kunto menyebut objektifitas, yang lebih ingin ditekankannya adalah karakter ilmu yang objektif, dalam artian pengalaman publik yang bisa dipahami/diverifikasi/dihayati bersama-sama oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat (dan karenanya bisa mengantarkannya ke universalitas). Bersifat objektif adalah mengambil jarak dari subjektifitas pengamat. Filsafat ilmu kontemporer telah cukup menunjukkan bahwa “objektifitas murni” jelas tak mungkin, dan karenanya sebagian filosof kini lebih senang menggunakan istilah trans-subjektif. Tapi ujung-ujungnya sama: ada kesepakatan mengenai realitas di antara komunitas keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, keberpihakan (ketakbebasnilaian) adalah persoalan lain. Kuntowijoyo melihat bahwa sementara ilmu-ilmu sosial modern mengklaim bersifat bebas-nilai, sesungguhnya dalam banyak kasus ada keberpihakan atau kepentingan yang tersembunyi. Beberapa contoh yang bisa diberikan adalah ilmu antropologi awal yang berpihak kepada kepentingan kolonial; ilmu ekonomi (neo-)liberal yang lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal [5] ; ilmu mengenai sumber energi yang lebih dikembangkan ke teknologi tertentu (misalnya, energi fosil dan nuklir, sembari mengabaikan energi surya); dan sebagainya. (Contoh-contoh lain diberikan dalam ISI, 57) Dalam kasus-kasus tersebut, selalu ada beberapa pilihan yang tersedia dan harus diambil salah satunya; ini adalah proses pemilihan etis. Sejauh ini, kalaupun pertimbangan etis diikutsertakan, sifatnya hanya sebagai imbuhan eksternal, tak inheren dalam ilmu itu sendiri. Yang diupayakan Kuntowijoyo adalah memasukkan pertimbangan-pertimbangan etis itu ke batang tubuh ilmu. Pada akhirnya, ilmu yang lahir bersama etika tidak boleh partisan, namun harus bermanfaat untuk manusia seluruhnya. (ISI, 57) Ilmu yang integralistik tak akan mengucilkan Tuhan ataupun manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini bisa kita simpulkan bahwa perbedaan pengilmuan Islam dengan islamisasi ilmu terletak dalam beberapa hal. Pertama , pengilmuan Islam lebih terbuka terhadap ilmu-ilmu sekular. Kedua , islamisasi ilmu lebih bersifat reaktif dan normatif (mengembalikan konteks ke teks) dan memberikan perhatian lebih rendah pada kondisi aktual empiris. Ketiga , pengilmuan Islam (dalam wujudnya sebagai ilmu sosial profetik) lebih menekankan pada berkeinginan untuk memberikan arah etis bagi transformasi kondisi empiris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntowijoyo adalah suatu sosok multidimensional—seorang ilmuwan sosial, sejarawan, dan sastrawan. Dengan mengangkat gagasan pengilmuan, ia ingin menekankan pada sifat ilmu yang objektif (atau trans-subjektif), yang publik, melampaui individu. Kekurangan ilmu yang dilihatnya adalah keterpisahannya dari etika, dan menghindari keberpihakan. Ini dicoba diatasinya dengan mengintegrasikan ilmu modern dengan cita-cita profetik yang bersumber dari agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini kita bisa memahami “ambisi”-nya melakukan outreach ke sebanyak mungkin orang, tanpa mengenal batasan-batasan identitas. Perhatian utamanya adalah kemanusiaan, dan semua aktifitas, termasuk aktifitas beragama, mesti ditujukan untuk melayani kepentingan umat manusia. Tak mengherankan jika ia sempat menolak ajakan malaikat untuk terbang ke langit, seperti disampaikan oleh puisi yang menjadi motto seminar ini. Sebagaimana ditunjukkan Nabi Muhammad, hatinya ada bersama manusia yang hidup di dunia ini, khususnya kaum yang menderita. Salah satu kisah Nabi Muhammad yang tampaknya menjadi favoritnya dan kerap disampaikannya adalah kisah yang disampaikan penyair-filosof Muhammad Iqbal mengenai penolakan Nabi untuk tetap tinggal di langit dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Ia ingin kembali ke bumi untuk melaksanakan cita-cita profetiknya. Solidaritas kemanusiaan universal inilah kiranya yang menjadi pesan utama dakwah Kunto, dan yang sulit ditolak bahkan oleh kaum pasca-modernis yang mencurigai setiap klaim universalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Rujukan Karya-karya Kuntowijoyo:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MSP: “Maklumat Sastra Profetik”, Horison , Mei 2005, 8-19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI: Islam Sebagai Ilmu , Jakarta : Teraju-Mizan, Juni 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MTM: Muslim Tanpa Masjid , Bandung : Mizan, Februari 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPUI: Identitas Politik Umat Islam, Bandung : Mizan, Mei 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Disampaikan dalam diksusi tentang pemikiran Kuntowijoyo yang diadakan Masyarakat Yogyakarta untuk Ilmu dan Agama (MYIA) dan Badan Koordinasi Mahasiswa Sejarah (BKMS) UGM, 26 Mei 2005, di UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Diungkapkan Kuntowijoyo dalam makalahnya untuk Seminar dan Lokarya IAIN Sunan Kalijaga, 18-19 September, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Bahan terpenting untuk makalah ini adalah salah satu buku terakhirnya, Islam Sebagai Ilmu (Teraju, Juni 2004; selanjutnya disingkat ISI) Buku ini sebetulnya merupakan kumpulan tulisan dari bab-bab atau makalah-makalah yang sudah pernah diterbitkan di tempat lain. Meski demikian, ini sama sekali tak mengurangi nilainya. Benih-benih gagasan ini telah ada sejak tulisan-tulisan paling awalnya, dan tersebar di banyak tempat. Dengan menyatukannya dalam satu buku, gagasan ini mampu tampil dengan lebih utuh. Alasan lain penerbitan buku ini, seperti diakui penulisanya sendiri, adalah karena gagasan pengilmuan Islam yang digagasnya telah cukup sering dikacaukan dengan islamisasi ilmu yang memang cukup populer, tak hanya di Indonesia tapi di dunia Muslim umumnya, sejak sekitar dasawarsa 70-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Kuntowijoyo membandingkan ini dengan gagasan Nurcholish Madjid, “Islam Yes, Partai Islam No”; substansinya mirip, tapi argumennya berbeda. (ISI, 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Satu contoh untuk ini adalah gagasan ekonomi Pancasila yang dikembangkan Alm. Prof. Mubyarto. Secara singkat, ekonomi Pancasila adalah ekonomi rakyat; ekonomi yang meletakkan kesejahteraan rakyat, bukan pemilik modal, pada prioritas pertama. Keberpihakan kepada rakyat dalam hal ini adalah suatu nilai yang perlu diajukan tidak secara normatif, tapi dengan cara mengobjektifkannya: yaitu, meyakinkan orang lain secara argumentatif dan menggunakan data-data empiris bahwa ekonomi yang sehat harus meletakkan kepentingan rakyat pada prioritas pertama. Jadi, di sini ada pilihan etis, dan ekonomi, menurut ilmu profetik, tak seharusnya bersikap netral. Keinginan untuk netral seringkali justru berarti keberpihakan tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah Dipresentasikan dalam Diskusi Sehari tentang Pemikiran Kuntowijoyo, Diselenggarakan Masyarakat Yogyakarta untuk Ilmu dan Agama (MYIA) dan Badan Koordinasi Mahasiswa Sejarah (BKMS) UGM, 26 Mei 2005, di UGM.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-2962410108324046557?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/2962410108324046557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=2962410108324046557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/2962410108324046557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/2962410108324046557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/03/pengilmuan-islam-dan-integrasi-ilmu_24.html' title='Pengilmuan Islam dan Integrasi Ilmu dengan Etika: Gagasan Kuntowijoyo'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-8568470642705123425</id><published>2010-03-24T07:18:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T04:16:58.801-07:00</updated><title type='text'>Bahaya Itu Masih Ada</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abrar Aziz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku berjudul “Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia” di luncurkan beberapa waktu lalu. Sebagaimana banyak tersiar di media bahwa buku tersebut memliki target bidikan yang sangat jelas, gerakan Islam “garis keras”. Tentu saja ini bukan karya pertama yang mengkaji tentang gerakan yang juga disebut Islam Transnasional ini. Haedar Nashir, Imdadun Rahmat, Hamid Algar, dan beberapa cendekiawan lainnya telah menyumbangkan pemikirannya tentang gerakan yang ditasbihkan kepada beberapa organisasi Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Wahabi ini. Tulisan ini tidak berniat mengomentari karya intelektual tersebut. Namun sekedar mengingatkan bahwa bahaya itu masih ada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah bangsa dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, Indonesia jelas merupakan target dari berbagai ideologi yang berkepentingan dengan Islam. Sebuah kenyataan yang tidak begitu mengherankan. Pertarungan ideologi dan pengaruh antar gerakan Islam sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Negara ini didirikan. Contoh yang paling mudah diingat adalah khilafiah yang terjadi antara dua organisasi Islam tertua di negeri ini, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Meski apa yang terjadi sebetulnya bukanlah perang ideologi melainkan perbedaan dalam hal furu` (cabang dalam fiqh) saja. Sehingga dua ormas Islam ini tetap menjadi pilar Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal dasar Negara misalnya, tidak ada perbedaan pandangan bagi keduanya. Hukum positif yang berlaku di Indonesia adalah final karena sejatinya sudah Islami meski tidak berlabel Islam. Sebaliknya jika hukum nasional itu dilabeli dengan stempel Islam tentu hal ini akan menimbulkan kecemburuan bagi agama lain. Selain itu, stempel Islam bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika yang selama ini kita anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun akhir-akhir ini dinamika pemikiran Islam di Indonesia menjadi sangat menarik untuk disimak dengan hadirnya beberapa organisasi Islam yang memiliki ideologi berbeda dengan dua ormas di atas. Para cendekiawan menyebutnya dengan Islam transnasional karena mereka membawa ideologi Islam “asing” ke Indonesia. Hizbut Tahrir (HT) misalnya, mereka hadir dengan cita-cita luhur membagun sebuah dinasti Islam yang mereka sebut Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqiyudin Nabhani, pendiri HT, berpandangan bahwa umat Islam hari ini telah kembali ke zaman jahiliah. Hal terjadi karena umat Islam tidak bisa lepas dari cengkraman Barat. Untuk itu berdirinya Khilafah internasional dimana hukum Islam dijadikan sebagai hukup positif, merupakan sebuah keniscayaan untuk merebut kembali kejayaan Islam masa lampau. Gerakan yang berasal dari Yarusalem Timur ini telah menyebar empat puluh Negara, termasuk di Indonesia dengan nama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah hasil ijtihad, ide untuk mendirikan Khilafah Islamiyah ini tentu tidak ada masalah. Karena, sebagaimana demokrasi, hasil ijtihad manusia harus dihargai terlepas benar atau salahnya ijtihad itu. Namun jika imperium Islam itu dianggap sebagai satu-satunya sistem yang diridhoi Allah, persoalannya menjadi lain. Yang jelas sistem Khilafah sebagaimana dimaksud oleh Hizbut Tahrir sama sekali tidak memiliki rujukan teologis yang kuat sebagaimana termaktub dalam keputusan Majelis Bahtsul Masa’il Nahdatul Ulama tentang Khilafah. Selain itu, secara historis sistem ini juga bermasalah. Al Quran dan Sunnah memang menjelaskan bahwa pemimpin yang ideal itu adalah pemimpin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta juga mencintai ummatnya sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan Khalifah Rasyidin. Namun tidak ada petunjuk bagaimana membangun sistem pemerintahan. Bahkan jika kita merujuk kepada sistem kekhalifahan setelah Rasulullah sekalipun, rujukan itu tetap saja menuai masalah. Sejarah membuktikan bahwa sistem khilafah sangat rawan konflik dan perebutan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan Khalifah Rasyidin menyisakan perih tak terkira dalam sejarah Islam. Tiga khalifah pengganti Abu Bakar Shiddiq meninggal berkuah darah. Setelah itu, cerita tentang khilafah adalah cerita tentang perang, intrik politik, fitnah, dan bahkan pembantaian keji terhadap cucu Baginda Nabi Hasan dan Hussain. Mungkinkah sejarah kelam itu akan dibangkitkan lagi. Meskipun tidak bisa dinafikkan bahwa pada masa kepemimpinan beberapa khalifah peredaban Islam mengalami kemajuan. Namun tetap saja hal itu tidak bisa menutupi fakta bahwa peradaban itu berdiri diatas simbahan darah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain HT, gerakan ‘import” lain yang hadir di Indonesia adalah Ikhwanul Muslimin (IM). Di Negara asalnya, Mesir, organisasi yang didirikan Hasan al Banna pada tahun 1928 ini dianggap berbahaya. Namun di Indonesia mereka mendapat lahan yang cukup “basah” terutama setelah berhembusnya angin reformasi dengan didirikannya Partai Keadilan yang kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Tujuan gerakan ini adalah membawa umat Islam kepada ajaran Islam yang murni. Sebuah tujuan yang sangat mulia tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tujuan baik ini dilakuka dengan cara yang ekstrim. Sayyid Qutb, ideolog IM memimpin gerakan yang agressif melawan panguasa. Setelah ditangkap dan disiksa dalam penjara, Qutb menyerang pemerintah melalui tulisan-tulisannya yang keras. Dalam tulisannya Quth menjelaskan bahwa terwujudnya Negara Islam adalah cita-cita agung yang harus diperuangkan. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian mengilhami segenap pengikutnya untuk melakukan aksi-aksi kekerasan yang mengancam keselamatan para pejabat Negara di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, gerakan ini berbagai diberbagai elemen masyarakat terutama di kampus, masjid, sekolah, dan tentu saja pemerintahan dan parlemen. Mereka lebih dikenal dengan nama Gerakan Tarbiyah. Tujuannya kurang lebih sama, yaitu kembalinya Piagam Jakarta. Hal ini dimulai dengan memberlakukan perda-perda syari`h dimana kader-kader mereka berhasil merebut kekuasaan. Seperti yang diberlakukan gubernur Jawa Barat yang mulai membatasi tradisi yang sudah melekat lama di masyarakat, tari Jaipongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KH. Hasyim Muzadi, ide dan gagasan formalisasi syari`at adalah gagasan yang tidak memiliki akar dalam tradisi ke-Indonesia-an. Sehingga jika dipaksakan akan menimbulkan konflik. Integrasi bangsa berada dalam ancaman serius jika syari`at Islam berlaku sebagai hukum formal. Kita harus meyakini Islam sebagai sebuah ajaran yang universal dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Menghilangkan tradisi atas nama Islam adalah suatu hal yang tidak dapat dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya soal agenda, cara yang ditempuh kelompok ini juga membuat ormas-ormas Islam gerah. Bahkan Pimpminan Pusat Muhammadiyah merasa perlu mengeluarkan Surat Keputusan nomor 149/KEP/I.0/B/2006 yang intinya mengingatkan warga Muhammadiyah agar berhati-hati dengan ideologi tersebut. SK ini tentu tidak keluar dengan sendirinya. Kasus penyusupan kader-kader Tarbiyah ke masjid-masjid Muhammadiyah, sekolah, dan amal usaha lainnya adalah topik paling hangat dalam Muhammadiyah dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, gerakan terakhir yang diyakini sadang melakukan import ideologi besar-besaran adalah Wahabi. Di Indonesia, gearakan yang didirikan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab tahun 1703 M ini bergerak dalam berbagai gerakan seperti Front Pembela Islam, Laskar Jihad, LIPIA, Majelis Mujahidin Indonesia, dll. Ciri gerakan ini adalah pembacaan terhadap teks secara tertutup. Mereka menolak pengetahuan humanistik, apalagi menafsirkan teks dengan perspektif sejarah. Hasilnya adalah perlawanan yang keras terhadap siapapun yang berbeda pandangan dengannya. Kekerasan bahkan perang sekalipun adalah suatu hal biasa bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perang adalah salah satu jalan yang pernah ditempuh Rasulullah. Namun pelaksanaannya harus melalui institusi Negara. Bukan pribadi atau kelompok. Inilah yang menjadi titik soal dari kelompok ini. Mereka merasa berhak menyatakan perang karena menganggap Negara ini dipimpin oleh orang kafir hingga tidak perlu diikuti. Aksi kekerasan itu bukan hanya dilancarkan kepada orang-orang non Islam, tapi juga kepada sesama muslim yang berbeda paham dengan mereka. Tindakan ini tentu saja sangat bertentangan dengan semangat kasih sayang yang diajarkan Al Quran. Dan yang lebih penting lagi, otoritas kebenaran hanya milik Tuhan semata. Sehingga siapapun yang merasa berhak menghakimi keberagamaan orang lain, maka sejatinya mereka telah merampas hak Tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Islam yang hadir di bumi Indonesia seharusnya memiliki “wajah pribumi” yang pluralsitik hingga mampu berdampingan dengan kekayaan tradisi yang ada di negeri ini. Tradisi Islam yang “diimport”, baik itu dari Palestina, Mesir, bahkan Mekkah sekalipun hanya akan membuat Islam terasa asing. Sekali lagi, sebagai sebuah hasil itihad, gagasan tentang Khilafah, Negara Islam, dan apapun namanya adalah suatu hal yang patut dihargai. Namun memaksakan kehendak ditengah keberagaman merupakan tindakan yang tidak bisa diterima. Sistem apapun yang digunakan, jika masyarakatnya hidup dengan penuh kasih sayang dan saling menghormati, maka masyarakat tersebut sejatinya telah hidup dalam nuansa Islami. Meskipun bukan Negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-8568470642705123425?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/8568470642705123425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=8568470642705123425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/8568470642705123425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/8568470642705123425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/03/bahaya-itu-masih-ada.html' title='Bahaya Itu Masih Ada'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-3487978690662931734</id><published>2010-03-24T07:17:00.001-07:00</published><updated>2010-03-28T04:16:09.063-07:00</updated><title type='text'>Agama, Kekerasan, dan Kelompok Sesat</title><content type='html'>Abrar Aziz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah panjang umat manusia telah dihiasi dengan berbagai bentuk kekerasan. Mulai dari kekerasan dalam skala ringan sampai kepada bentuk kekerasan yang lebih sadis seperti perbudakan dan pembantaian. Pilihan menggunakan kekerasan kerap kali diambil oleh manusia primitive yang hidup berkelompok untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Alasannya tentu bisa kita tebak, karena masyarakat primitive belum mampu mengguanakan rasionalitas dalam menyelesaikan masalah. Maka kekerasan adalah pilihan paling mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah ternyata juga masih menghinggapi sebagian masyarakat modern yang harusnya memiliki kecerdasan melebihi keum primitive. Bahkan yang terjadi hari ini jauh lebih mengerikan. Mereka bisa melakukan kekerasan atas nama apa saja. Bahkan atas nama Tuhan sekalipun. Benarkah Allah menyuruh manusia menggunakan kekerasan untuk membela-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, sebagaimana disebutkan al Quran, bahwa kehadiran Islam ke muka bumi hanya memiliki satu misi, yaitu menyampaikan kasih sayang bagi seluruh alam. Kita tidak perlu mendalami ilmu tafsir sampai ke tingkat yang paling tinggi untuk memahami ayat tersebut. Maksudnya sangat jelas bahwa kehadiran Islam di muka bumi haruslah membarikan rasa aman dan damai bagi seluruh makhluk alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa ada sekelompok umat Islam yang merasa berhak mewakili Tuhan untuk mengadili siapapun yang dianggap sesat? Kenapa mereka merasa memiliki otaritas untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah? Bukankah hanya Allah saja yang berhak menentukan kebenaran dan kesesatan? Pertanyaan diatas tentu sangat mengusik benak kita mengingat kelompok yang merasa menjadi tentara Tuhan sangat yakin sehingga senantiasa menggunakan simbol-simbol Islam dalam setiap jihadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita mulai dengan memberikan pemahaman yang benar tentang agama. Untuk siapa agama diciptakan? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan sikap keberislaman kita. Dalam ayat terakhir yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad saw. jelas disebutkan bahwa Islam diturunkan untuk kepentingan manusia (al yauma akmaltu lakum diinakum). Ajaran ini diperjelas oleh Rasulullah ketika melaksanakan haji wada` melalui pidatonya yang mengatakan bahwa turunnya wahyu secara umum memiliki tiga tujuan, pertama, untuk menyatakan kebenaran. Kedua, untuk melawan penindasan, dan ketiga, membangun ummat yang didasarkan kesetaraan, keadilan dan kasih sayang. Pada banyak tempat dalam al Quran juga disebutkan tentang dimensi kemanusiaan Islam. Seperti adanya prinsip humanisasi (kemanusiaan), liberasi (pembebasan), dan transendensi (Q.S Ali Imran 110). Bahkan orang yang tidak peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan disebut sebagai pendusta agama (Q.S Al Ma`un 1-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman keislaman seperti ini menjadi sangat penting ketika kita melihat kenyataan banyak umat Islam yang menganggap bahwa Islam adalah agama Tuhan. Hal ini membuat sebagian kita merasa berhak mengatasnamakan Tuhan dan menghakimi pihak lain yang berbeda pandangan. Konflik atas nama agama yang terjadi belakangan ini membuat kita sangat prihatin. Bagaimana mungkin orang yang mengaku beragama sampai hati melakukan kekerasan terhadap saudara seiman hanya karena beda pemahaman? Padalah Islam lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Namun, yang terjadi adalah saling curiga dan benci antar sesama kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan normative persaudaraan kasih sayang antar umat manusia terdapat dalam al Quran yang menyatakan bahwa keragaman suku bangsa merupakan sunatullah (ketetapan Allah), namun perbedaan itu tidak dimaksudkan agar manusia saling bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal dan menjalin persaudaraan (Q.S Al Hujurat 13). Bahkan secara eksplisit Allah menyebutkan; Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu akan dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu…(Q.S Al Maidah 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman yang dibangun Tuhan dalam kosmologi kehidupan manusia ini tidak dimaksudkan untuk mensubordinatkan satu sama lain. Perbedaan tidak menunjukkan kemuliaan satu sama lainnya. Yang membedakan manusia dalam pandangan Tuhan bukanlah pada fakta perbedaan itu sendiri, melainkan upaya kita untuk memasrahkan diri (bertaqwa) dan memperbaiki kualitas diri. Dan yang meninggikan darjat manusia disisi Tuhan adalah kulaitas iman dan ilmunya (Q.S Al Mujadalah 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa mesti ilmu? Ilmu adalah entitas penting dalam peradaban manusia untuk mencapai kemajuan. Ilmu juga yang membuat manusia mampu menghargai orang lain. Secara kasat mata kita dapat melihat perbedaan cara menyelesaikan masalah antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Iman dan ilmu adalah syarat mutlak yang harus dimiliki agar kita dapat menempatkan agama pada posisi yang sebenarnya. Tidak ada rumusan bahwa orang yang beriman dan berilmu dapat secara membabi buta merusak dan menghancurkan rumah ibadah, meledakkan bom di tengah keramaian, atau menyerang kelompok yang berbeda pandangan dengannya. Inilah yang seharusnya menjadi spirit keberagamaan kita. Yaitu, meningkatkan kualitas keimanan kita dan diwujudkan dengan sikap menghargai pandangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dan Kelompok Sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat jelas bahwa menggunakan kekerasan dalam menyampaikan pandangan dan keyakinan sama sekali tidak memiliki landasan teologis yang jelas. Kekerasan atas nama Tuhan yang dilakukan oleh segelintir orang Islam mungkin disebabkan oleh dua hal. Pertama, mereka adalah kelompok yang frustasi terhadap kondisi sosial masyarakat yang masin sembraut. Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di negeri ini ternyata tidak mampu memberikan jalan keluar, bahkan sebagian malah menjadi biang masalah. Disamping banyaknya muncul kelompok-kelompok keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang sudah mapan. Dan kelompok keyakinan ini ternyata tumbuh begitu pesat sehingga menimbulkan kepanikan. Dan di tengah suasana panik dan frustasi, pada saat itulah akal menjadi tumpul, dan kekerasan adalah satu-satunua jalan keluar yang tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemahaman yang kurang tepat terhadap ajaran Islam membuat mereka memahami agama hanyalah untuk Tuhan semata. Bagi mereka cita-cita tertinggi adalah ketika gugur dalam membela tuhan-Nya. Padahal Allah tidak butuh pembelaan dari siapapun. Karena tidak satupun makhluk yang akan mampu menandingi-Nya. Allah justru menyuruh agar manusia menyampaikan kasih sayang dan perdamaian serta melakukan pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para “tentara Tuhan” ini sepertinya lupa bahwa jalan kekerasan adalah jalan kaum primitive yang tidak mampu mengoptimalkan rasionalitas. Bahkan biasanya kekerasan yang membabi buta dilakukan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik, misalnya untuk melakukan perampokan dan penjarahan. Namun untuk menyampaikan nilai-nilai luhur agama, jalan kekerasan bukanlah pilihan yang terpuji. Bagaimana mungkin Islam yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian didakwahkan dengan cara kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas bahwa kelompok yang menggunakan kekerasan atas nama agama telah keliru dalam bertindak. Karena mereka telah melawan kehendak Tuhan. Meskipun mereka tetap merasa telah berbuat kebajikan. Hal ini rasanya sesuai dengan apa yang difirmankan Allah “Katakanlah; Pernahkan kami kabarkan kepadamu tentang orang yang paling merugi amal perbuatannya?. (Yaitu) orang yang sesat jalan hidupnya, tetapi merasa sedang berbuat kebajikan” (QS. Al Kahfi 103-104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kelompok yang mengakui adanya rasul setelah Muhammad saja yang dianggap aliran sesat, namun kelompok yang merasa berhak menghukum siapa saja yang dianggap berseberangan dengan “kebenaran” juga dapat disebut sebagai kelompok sesat. Karena mereka telah “merampas” otoritas Allah sebagai pemegang hak kebenaran mutlak. Wallahu a`lam bis shawwab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-3487978690662931734?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/3487978690662931734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=3487978690662931734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3487978690662931734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3487978690662931734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/03/agama-kekerasan-dan-kelompok-sesat.html' title='Agama, Kekerasan, dan Kelompok Sesat'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-7198846375973794924</id><published>2010-03-24T07:06:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T04:18:39.518-07:00</updated><title type='text'>Prahara Kuasa dan Tunakuasa</title><content type='html'>Abrar Aziz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung korup, kekuasaan yang absolute cendrung menimbulkan korup yang absolute pula)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan bangsawan Inggris, Lord Acton di atas sangat popular dalam kamus kekuasaan di Indonesia. Bukan saja karena ungkapan itu bertebaran di berbagai tulisan dan mimbar politik, tetapi juga kerena negeri ini mengerti betul bagaimana pahitnya diperintah oleh rezim dengan kekuasaan yang absolut. Tiga puluh tahun lamanya kita dipimpin oleh kekuasaan absolut yang menyebabkan korupsi absolut pula.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akibat yang ditimbulkan dari rezim ini sangat jelas. Rakyat tidak diberi banyak pilihan kecuali mengikuti semua kebijakan penguasa tanpa bisa menyuarakan bahwa kebijakan tersebut sangat tidak berpihak kepada mereka. Rakyat dipaksa untuk membenarkan setiap tindakan penguasa meski kadang mereka tahu persis bahwa tindakan yang dianggap benar itu sebetulnya tidak benar. Bagi yang memiliki modal keberanian untuk menyampaikan keberatan-keberatan atas kebijakan rezim, tuduhan subversif berikut berbagai siksaan siap menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, sebelas tahun setelah rezim absolut itu runtuh, Indonesia masih belum keluar dari masa transisi. Kurun waktu yang sangat lama untuk sekedar masa transisi. Tentu saja masa transisi ini harus segera diakhiri untuk memulai Indonesia baru yang mandiri dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Pilpres 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan umum 2009 menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang dan pasangan SBY – Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih dengan kemenangan yang nyaris sempurna. Dengan koalisi besar yang menguasai labih dari separoh kursi parlemen, pemerintahan ini diharapkan dapat menjadi pemerintahan yang kuat. Apalagi jika Partai Golkar benar-benar bergabung dengan Partai Demokrat, maka kekuatan SBY jelas tidak akan terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pangkal masalahnya. Jika logika Lord Acton diatas kita ikuti, maka yang terbentuk bukan pemerintahan yang kuat, tetapi pemerintahan yang absolut yang pada ahkirnya berujung pada korupsi yang absolut pula. Jika Partai Demokrat benar-benar membuka diri terhadap bergabungnya Partai Golkar, dan apalagi PDIP setelah pertemuan Boediono dengan Megawati beberapa waktu lalu, maka langit demokrasi Indonesia akan runtuh dan kita akan memulai perjalanan kembali ke masa lalu; kekuasaan tanpa kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja perilaku politik rakyat Indonesia. Faktor utama yang mempengaruhi pilihan rakyat adalah figur dan citra. Bukan lagi visi dan jejak rekam para kandidat. Ini membuktikan bahwa kekuasaan sangat efektif digunakan sebagai media pencitraan. Beberapa survei menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat telah menentukan pilihan jauh-jauh hari sebelum kampanye dimulai. Karena citra positif berhasil dibangun oleh SBY dan timnya selama memegang puncak kekuasaan. Meski apa yang dicitrakan itu belum tentu benar sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini tidak disikapi secara jernih, maka jalan menuju kekuasaan absolut sepertinya sudah mulai terbuka. Sudah selayaknyalah partai-partai besar seperti Golkar dan PDIP, bahkan termasuk Hanura dan Gerindra, berani mengambil sikap oposisi sebagai upaya menjaga agar langit demokrasi kita tidak runtuh dan untuk mencegah kekuasaan absolut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kasus, meskipun ini tidak bisa dipastikan keterkaitannya, menunjukkan indikasi bahwa kita sudah mulai berjalan memutar waktu. Upaya sebagian kelompok untuk mengecilkan peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya. Sekali lagi, meskipun kita belum bisa memastikan keterkaitannya, namun upaya memperlemah posisi lembaga yang sudah memberi harapan besar kepada kita untuk memberantas prektek korupsi ini secara sistematis nampaknya mulai dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mencuatnya kasus ketua KPK non-aktif Antasari Azhar, KPK pun mulai digerogoti oleh beberapa kelompok. Bahkan sempat tersiar kabar bahwa beberapa anggota komisioner juga akan diperkarakan di pengadilan. Belum jelas betul siapa atau kelompok mana yang berada di balik upaya mengkerdilkan peran KPK ini. Namun yang jelas kelompok ini sangat bernafsu menghalangi upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. Dan itu jelas merupakan mental koruptor absolut seperti yang pernah terjadi selama puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi lainnya adalah disiapkannya Rancangan Undang Undang (RUU) Rahasia Negara. Agak mengherankan memang sikap pemerintah yang bersikeras mengesahkan RUU ini secepatnya. RUU ini berupaya keras untuk mempersempit akses publik terhadap penyelenggara negara dan birokrasi. Prinsip kerahasiaan dalam RUU ini memiliki cakupan sangat luas sampai ke aspek birokrasi. Dan parahnya lagi, RUU ini memberikan kewenangan yang sangat besar kepada birokrasi untuk menentukan mana yang merupakan rahasia negara dan mana yang bukan. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Akan sangat mungkin bagi seorang pejabat birokrasi untuk melindungi diri atau koleganya dari jeratan hukum jika mereka melakukan korupsi. Karena mereka memiliki kewenangan untuk menentukan sesuatu sebagai rahasia negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prahara Tunakuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan absolut memiliki kekuatan untuk meyakinkan rakyat terhadap kebijakan yang diambilnya. Dengan penguasaan media secara massif dan sistematis, rakyat dipaksa percaya kepada penguasa. Rakyat tidak memiliki pilihan lain kecuali percaya bahwa apa yang dilakukan sang penguasa adalah benar. Kondisi tidak punya banyak pilihan kecuali meyakini kebenaran penguasa inilah yang disebut tunakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah tunakuasa pertama kali penulis temukan dalam tulisan Amien Rais (1999). Yaitu suatu keadaan dimana rakyat tidak memiliki akses terhadap pengambilan kebijakan. Meskipun sebenarnya mereka sadar bahwa ini adalah kondisi yang tidak layak. Namun ketiadaan akses terhadap pengambilan kebijakan serta kemampuan penguasa meyakinkan mereka bahwa setiap kebijakan yang diambil adalah sesuatu yang benar dan harus didukung membuat kelompok tunakuasa harus menerima kondisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kekuasaan absolut merupakan musuh bebuyutan demokrasi, tunakuasa juga membawa kemudaratan yang sangat besar. Demokrasi yang sudah dibangun dengan susah payah akan runtuh seiring terbatasnya ruang berpendapat dan akses terhadap pusat-pusat penyelenggaraan negara. Padahal kebebasan berpendapat dan terbukanya akses terhadap pemerintahan adalah tiang utama demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, langkah para elit bangsa ini sangat menentukan arah perjalanan kita nantinya. Apakah kita akan terus maju dengan memparkuat demokrasi. Atau kita harus berjalan mundur dengan menebas satu persatu pilar demokrasi. Kearifan dan kejernihan hati para politisi mutlak dibutuhkan agar kita tidak memutar arah jarum jam. Karena negara ini adalah milik seluruh bangsa Indonesia, maka partisipasi rakyat dalam setiap kebijakan harus terus menerus ditingkatkan sebagai wujud penguatan pilar-pilar demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-7198846375973794924?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/7198846375973794924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=7198846375973794924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7198846375973794924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7198846375973794924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/03/pengilmuan-islam-dan-integrasi-ilmu.html' title='Prahara Kuasa dan Tunakuasa'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-425455191377183663</id><published>2010-02-21T06:27:00.000-08:00</published><updated>2010-03-28T04:20:17.212-07:00</updated><title type='text'>Tanah Air Mata</title><content type='html'>Tanah airmata tanah tumpah dukaku&lt;br /&gt;mata air airmata kami&lt;br /&gt;airmata tanah air kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sinilah kami berdiri&lt;br /&gt;menyanyikan airmata kami&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;di balik gembur subur tanahmu&lt;br /&gt;kami simpan perih kami&lt;br /&gt;di balik etalase megah gedung-gedungmu&lt;br /&gt;kami coba sembunyikan derita kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami coba simpan nestapa&lt;br /&gt;kami coba kuburkan duka lara&lt;br /&gt;tapi perih tak bisa sembunyi&lt;br /&gt;ia merebak kemana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bumi memang tak sebatas pandang&lt;br /&gt;dan udara luas menunggu&lt;br /&gt;namun kalian takkan bisa menyingkir&lt;br /&gt;ke manapun melangkah&lt;br /&gt;kalian pijak airmata kami&lt;br /&gt;ke manapun terbang&lt;br /&gt;kalian kan hinggap di air mata kami&lt;br /&gt;ke manapun berlayar&lt;br /&gt;kalian arungi airmata kami&lt;br /&gt;kalian sudah terkepung&lt;br /&gt;takkan bisa mengelak&lt;br /&gt;takkan bisa ke mana pergi&lt;br /&gt;menyerahlah pada kedalaman air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sutardji Calzoum Bachri)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-425455191377183663?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/425455191377183663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=425455191377183663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/425455191377183663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/425455191377183663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2010/02/tanah-air-mata.html' title='Tanah Air Mata'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-6007330019908056953</id><published>2009-07-14T05:08:00.001-07:00</published><updated>2010-03-28T04:21:26.660-07:00</updated><title type='text'>My First Love</title><content type='html'>Everyone can see&lt;br /&gt;There’s a change in me&lt;br /&gt;They all say I’m not the same&lt;br /&gt;Kid I use to be&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Don’t go out and play&lt;br /&gt;I just dream all day&lt;br /&gt;They don’t know what’s wrong with me&lt;br /&gt;And I’m too shy to say&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s my first love&lt;br /&gt;What I’m dreaming on&lt;br /&gt;When I go to bed&lt;br /&gt;When I lay my head upon my pillow&lt;br /&gt;Don’t know what to do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My first love&lt;br /&gt;He thinks that I’m too young&lt;br /&gt;He doesn’t even know&lt;br /&gt;Wish that I could tell him what I’m feeling&lt;br /&gt;’cause I’m feeling my first love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirror on the wall&lt;br /&gt;Does he care at all&lt;br /&gt;Does he ever notice me&lt;br /&gt;Does he ever found&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tell me teddy bear&lt;br /&gt;My love is so unfair&lt;br /&gt;Will I ever found away&lt;br /&gt;An answer to my pray&lt;br /&gt;For my first love…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-6007330019908056953?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/6007330019908056953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=6007330019908056953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6007330019908056953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6007330019908056953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2009/07/my-first-love.html' title='My First Love'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-3314712197552259991</id><published>2008-08-26T10:40:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:31:34.367-08:00</updated><title type='text'>Tak Cukup dengan Kegiatan Karitatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/SLRAl-0yj7I/AAAAAAAAACA/ksipK43c8SM/s1600-h/icrp.jpg"&gt;&lt;img style="width: 242px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/SLRAl-0yj7I/AAAAAAAAACA/ksipK43c8SM/s320/icrp.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238883287802482610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menguatkan identitas keagamaan dan semangat intoleransi memperlemah integrasi sosial komunitas lintas agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kekerasan-kekerasan sosial maupun komunal di beberapa daerah seperti Aceh, Maluku, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Barat telah mereda. Namun, konflik kekerasan komunal mulai muncul di daerah-daerah yang sebelumnya dikenal relatif damai. Bentuknya pun beragam,  dari sekadar ancaman, pemukulan, hingga pengrusakan sarana ibadah dan simbol-simbol keagamaan lainnya serta perlakuan diskriminatif baik oleh aparat negara maupun kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta di atas terekam dalam Focus Groups Discussion (FGD) yang dihelat Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 20-21 Agustus lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FGD yang mengangkat topik “Revitalisasi Kelompok Moderat: Memperkuat Integrasi Sosial Komunitas Lintas Agama” ini diikuti 23 peserta dari 7 komunitas agama dan penghayat kepercayaan, yakni Buddha, Hindu, Protestan, Katolik, Penghayat Kepercayaan, Khonghucu, dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi dan sikap intoleran yang kerap terjadi di beberapa wilayah di tanah air ini biasanya dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas yang dianggap keluar dari mainstream dan  oleh aparat negara kepada warganya. Sikap intoleran ini kadangkala dilegitimasi oleh elite keagamaan, atas nama kesucian doktrin agama dan ‘kebenaran’ yang dianut kelompok maenstream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jakarta, dan Nusa Tenggara Barat merupakan contoh konkret diskriminasi agama yang dilakukan kelompok mayoritas atas kelompok minoritas. Sedang perlakuan diskriminatif oleh aparat negara kepada warganya juga terjadi di beberapa daerah di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya masih kesulitan menyantumkan identitas agama Khonghucu di KTP dan KK saya sendiri,” tutur Suryani yang tinggal di Pamulang, Banten ini. Tak hanya itu, petugas Kelurahan pun mengintimidasinya dengan mengatakan dirinya tidak tahu diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang, putri Suryani yang masuk sekolah di SMP Negeri di Pamulang pun mendapat perlakuan yang sama. Saat gurunya menanyakan apa agamanya, dan dijawab Khonghucu, guru tersebut menukasnya dengan berkata: “Khongucu?” Guru pun melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan: siapa nabinya, apa kitab sucinya, dst. “Pertanyaan-pertanyaan itu seolah hendak memberitahukan ke siswa-siswa lain apa betul Khonghucu itu agama atau bukan,” kata Suryani yang mengaku anaknya sangat stress pasca ‘intrograsi’ di sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sulitnya mendapatkan ijin pendirian rumah ibadah seperti gereja juga mengemuka dalam forum itu. Termasuk juga pengrusakan gereja dan mesjid milik Jemaat Ahmadiyah di berbagai daerah. “Ini menunjukkan bahwa persoalan tak hanya dalam konteks antaragama, tetapi juga intra agama,” tukas salah seorang peserta Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya mendirikan rumah ibadah seperti gereja dan vihara ditengarai karena tidak adanya komunikasi dan interaksi antar pemuka agama dan antar masyarakat di satu tempat yang berbeda, sehinga, ketika satu kelompok hendak mendirikan rumah ibadah, kelompok lain yang berbeda agama langsung menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi dan interaksi itu pun sebetulnya dapat dilakukan dalam beragamam bentuk. “Agar rencana pendirian Vihara di Aceh bisa terwujud, kami berbaur dulu dengan masyarakat di sana. Dalam peringatan 17 Agustus kemarin misalnya, kami turut berbagai lomba Agustusan seperti panjat pinang dan sebagainya,” ujar Renny Turangga, aktivis Buddha Dharma Indonesia. “Masyarakat di sana heran, koq ada orang Tionghoa yang mau main panjat pinang,” imbuh Renny menirukan komentar masyarakat Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Renny diamini oleh Yosep Setiawan. Pengajar agama Buddha di kawasan Cina Benteng, Tangerang ini menuturkan bahwa orang-orang Tionghowa sudah lama berbaur dengan masyarakat pribumi asli. “Kami di Tangerang ini sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Suku-suku lain seperti Batak, Jawa, atau Padang lah yang merupakan pendatang di Tangerang, bukan kami yang Tonghoa,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru para pendatang inilah yang kerap membuat masalah di Tangerang. Misalnya, begitu berdiri rumah Padang di satu tempat, langsung disampingnya didirikan Warteg oleh orang Tegal. Kemudian muncullah persoalan,” imbuh pemuda yang mengaku lebih pribumi ketimbang pribumi asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tak menampik bahwa Kristenisasi itu memang ada. Pengalaman dia menunjukkan hal itu. Pernah ia dibujuk oleh seseorang untuk masuk Kristen. Menurut seseorang yang dulunya Buddha itu, dari segi nama, Yosep sudah mirip orang Kristen. “Tetapi saya menolak tegas bujuk rayu itu. Tidak tahu apa kalau saya ini guru agama Buddha,” kata dia sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kebijakan pemerintah menurut sebagian peserta juga dinilai bermasalah. Alih-alih dapat memperkuat integritas sosial, yang ada justru merusak tatanan dan kerukunan antar masyarakat yang plural ini. Keberadaan Bakor Pakem Kejaksaan Agung yang dapat menilai sesat tidaknya suatu agama atau aliran agama adalah salah satunya. Lembaga tersebut justru bertentang dengan semangat UUD 1945, terutama pasal 28 dan 29 yang mengatur soal kebebebasan beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Ulama Indonesia (MUI) meskipun bukan lembaga pemerintah, tetapi karena kerap pemerintah mengamini fatwa-fatwa yang dikeluarkan organisasi Islam ini, turut memberikan andil terhadap disintegrasi sosial. Fatwa-fatwa MUI dinilai bertentangan dengan semangat kebhinekaan. Pengharaman terhadap paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme adalah salah satunya,” ujar Abrar Azis dari Ikatan Remaja Mughammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekularisme, pluralisme, dan liberalisme itu kan pemikiran. Bagaimana mungin pikiran bisa dihakimi?” imbuh Azis mempertanyakan fatwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Tap Pres No. 1/1065 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri No. 8 &amp;amp; 9/2006 yang salah satunya mengatur pendirian rumah ibadah, dan SKB Tiga Menteri No. 3 Tahun 2008/ No. 199 Tahun 2008 tentang peringatan terhadap penganut Ahmadiyah juga dinilai bermasalah karena bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fakta-fakta ini, peserta FGD sebetulnya memiliki harapan besar terhadap media massa. Peran media massa sebagai salah satu pilar demokrasi diharapkan mampu menjadi piranti integrasi sosial. Tetapi, yang kerap terjadi adalah karena medialah konflik sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Media massa sering melakukan simplifikasi terhadap fakta-fakta di lapangan, sehingga fakta yang sesungguhnya kerap tidak terungkap,” tutur Trisno Suhito dari Himpinan Mahasiswa Islam MPO. Mantan wartawan di Banyuwangi ini menyontohkan, media mengatakan HMI dan HMI MPO telah berislah. Padahal menurut dia, tidak ada islah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta FGD juga kecewa terhadap media massa karena hanya mengangkat peristiwa-peristiwa kriminal atau kejadian buruk di masyarakat. Keterjebakan pada ‘idiologi’ bad news is good news masih belum bisa ditinggalkan, sehingga kegiatan-kegiatan seperti upaya-upaya perdamaian sering tidak terekam oleh media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, para pegiat lintas agama ini sudah melakukan berbagai upaya untuk memperkuat integrasi sosial. Hanya saja, dinilai masih sebatas karitaif dan elitis. Misalnya dengan menggelar dialog antar agama, live in, youth camp, kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum ada kegiatan-kegiatan antarumat beragama  yang berjalan permanen,” tandas Jesaya A. Wagimin dari WKPUB Jakarta Timur. Tapi, ia mengakui, baru pada tahap itulah yang sekarang ini bisa  kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan-tantangan lain yang mengemuka adalah tiadanya ruang interaksi di antara masyarakat yang plural ini. Masyarakat urban seolah kehilangan tempat untuk saling bertemu, berinteraksi, dan kemudian saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dari intereksi inilah diharapkan akan menepis prasangka atau kecirigaan yang masih ada di diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, inisiator mewujudkan ruang interaksi itu juga masih langka. Ada pegiat lintas agama, tetapi dinilai masih terlalu karitatif dan kurang massif. Kelemahan lain adalah tiadanya komunikasi dan koordinasi antar pegiat lintas agama itu sendiri.Untuk itu, ke depan, para aktivis lintas agama ini,  bertekad untuk merumuskan dan mengupayakan instrumen-instrumen yang memungkinkan antar kelompok masyarakat bisa saling bertemu, berinteraksi dan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan besarnya, moderasi beragama menjadi pilihan masyarakat Indonesia daripada beragama dengan menghalalkan kekerasan atau beriman dengan pedang yang memberikan rasa takut dan ketidaknyamanan pada yang lain. [ ] Ahmad Nurcholish&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-3314712197552259991?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/3314712197552259991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=3314712197552259991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3314712197552259991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3314712197552259991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/08/tak-cukup-dengan-kegiatan-karitatif.html' title='Tak Cukup dengan Kegiatan Karitatif'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/SLRAl-0yj7I/AAAAAAAAACA/ksipK43c8SM/s72-c/icrp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-7856651844893745628</id><published>2008-07-30T06:11:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:46:22.652-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>Teologi Al Maun; Landasan Teologis Membela Kaum Tertindas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harian Singgalang,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                       &lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; font-family: georgia;" class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;      Jumat, 25 Juli 2008    &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;     &lt;div align="left"&gt;                    &lt;!--   @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh Abrar Aziz&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah 2006-2008, Direktur Qalam Institute for Education and Democracy&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejarah umat manusia adalah sejarah penindasan dan perbudakan. Menurut Ali Syari`ati, simbol-simbol peradaban manusia sesungguhnya dibangun atas nyawa dan darah jutaan orang. Dibalik kemegahan Piramid, simbol peradaban Mesir kuno, tersimpan cerita memillukan tentang sebuah rezim penindasan dan perbudakan. Dibutuhkan 800 juta keping batu yang harus di bawa sejauh 980 km dari Aswan menuju Mesir hanya untuk membangun kuburan para terkutuk itu. Jutaan nyawa budak manusia adalah harga yang harus dibayar demi ambisi Fifaun, sang penindas.&lt;/span&gt;&lt;!--   @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;    &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seiring perjalanan waktu, penindasan dan perbudakan terus bergulir dengan berbagai bentuknya. Hari ini kita tidak lagi melihat tragedi perbudakan untuk membangun kuburan. Namun dengan sangat jelas dapat dilihat bahwa proses penindasan masih terus terjadi dengan berbagai motif tapi dengan tujuan yang sama, yaitu memuaskan nafsu segelintir orang. Hari ini perbudakan terjadi dengan modus yang lebih halus. Atas nama perang terhadap teroris, ribuan tentara AS harus terbunuh atau membunuh orang yang tidak pernah mereka kenal di Irak dan Afghanistan. Bahkan penindasan bisa terjadi atas nama agama sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebaliknya, jika sejarah manusia adalah sejarah penindasan, maka sejarah kenabian adalah sejarah pembebasan terhadap kaum tertindas (mustadh^afin). Kehadiran mereka di muka bumi bukanlah sekedar penyampai wahyu Tuhan, namun juga memimpin kaumnya dalam melakukan perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan. Karena itu, tidak jarang mereka harus berhadapan dengan penguasa yang zhalim dan tiranik. Nabi Musa AS harus bersusah payah mengeluarkan kaumnya dari perbudakan Firaun. Nabi Isa AS harus menjadi buronan Raja Herodes karena terus-menerus menyuarakan perlawanan teradap penguasa zhalim itu. Dan Rasulullah SAW sendiri, harus rela meninggalkan kampung halamannya demi menyelamatkan kaumnya dari penindasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sepanjang masa kenabiannya, Nabi Muhammad SAW telah berhasil membebaskan kaum lemah Arab, terutama dari kebodohan dan perbudakan. Posisi kaum perempuan yang sebelumnya sangat hina, bahkan bisa diwariskan dan diperjual belikan, diangkat menjadi makhluk yang mulia bahkan berhak atas harta warisan. Para budak yang biasanya diperlakukan sebagai barang dagangan diberikan kebebasan sebagai manusia merdeka yang memiliki hak yang sama dengan manusia lain, bahkan dengan nabi sekalipuin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Orang musyrik Mekkah seringkali mencela Islam dengan mengatakan bahwa pengikut Muhammad hanyalah kaum miskin saja. Sementara kaum bangsawan dan pemuka suku Quraisy tidak besedia mengikuti seruan Islam. Hal yang sama terjadi pada nabi Nuh AS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS Nuh 27)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitulah, kaum dhu’afa memang sangat dekat dengan para rasul, dan sebaliknya keberadaan mereka sangat dibenci dan dihina oleh kaum penguasa. Para penguasa lalim tersebut tentu saja tidak senang jika kelompok tertindas tersebut melakukan perlawanan terhadap kekuasaannya. Sehingga berbagai cara dilakukan agar perbudakan tetap terjadi sehingga kelompok tertindas tersebut tetap berada dalam kesulitan. Cerita tentang penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap para budak tentu sangat sering kita dengar dalam sejarah perjalanan nabi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membumikan Teologi al Ma’un&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam surat al Ma’un dijelaskan bahwa pengingkar Tuhan bisa datang dari orang yang beribadah namun tidak memiliki kepekaan sosial. Dalam tafsirnya, Al Maraghi mengatakan bahwa pengingkar Tuhan adalah orang yang rajin beribadah tetapi riya. Penanda keriyaan itu adalah ketidakpedulian kepada kaum mustadh’afin. Al Quran, melalui ay at ini, dan pada banyak ayat yang lain, menegaskan kritiknya kepada perilaku kapitalsitik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahkan dengan sengat jelas Al Quran memberikan defenisi kebajikan (al birri). Menurut Al Quran, yang disebut kebaikan adalah keterpaduan antara keimanan (transendesi) dengan praksis gerakan (QS. Al Baqarah 177). Al Quran dengan tegas melakukan kritik terhadap praktek ritual yang individualistic Ritual ibadah menjadi tidak ada artinya jika tidak diikuti dengan aksi nyata untuk kemanusiaan. Islam bukan hanya masalah kalkulasi dosa dan pahala. Islam juga bukan sekedar mengiming-imingi manusia dengan surga dan menakut-nakutinya dengan neraka. Lebih dari itu, Islam adalah ajaran rahmat bagi seluruh alam. Islam adalah cara Tuhan untuk melakukan transformasi dari zaman penindasan menuju zaman pembebasan. Dan umat Islam, dengan demikian, adalah agen yang diperintahkan Tuhan untuk membawa misi pembebasan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika agama hanya dipahami sebagai hubungan mesra antara seseorang dan Tuhan-Nya, maka tidaklah berlebihan kiranya tuduhan bahwa agama hanyalah candu. Agama hanya membuat manusia “terlena” dengan kenikmatan ritual tanpa peduli dengan realitas disekelilingnya. Bagaimana mungkin di negara yang warganya mayoritas muslim ini ternyata budaya korupsi, suap dan free sex menjalar seperti jamur di musim hujan? Bagaimana mungkin angka kemiskinan terus meningkat ditengah makin bertambahnya jumlah jamaah haji dari Indonesia? Ini membuktikan bahwa kehidupan umat Islam ternyata masih jauh dari nilia-nilai lihur yang diperjuangkan para nabi, yaitu kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Asghar Ali, konsep tauhid bukan sekedar bermakna keesaan Tuhan tapi juga bermakna kesatuan manusia. Tauhid adalah jalan untuk pembebasan kemanusiaan. Untuk itu, penanaman tauhid yang kokoh mestilah diikuti dengan komitmen kemanusiaan yang kokoh pula. Menurut Hasan Hanafi, pada dasamya Islam memiliki perangkat yang cukup untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan. Selama ini, kita sering menjadikan ritual-ritual sebagai tujuan. Padahal, ikrar kita bahwa tiada Tuhan selain Allah berarti ikrar bahwa setiap penindasan harus dihancurkan. Karena penindasan adalah bentuk pengingkaran terhadap kekuasaan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan landasan teologis tersebut, maka setiap ritual ibadah haruslah memiliki misi kemanusiaan. Seperti shalat harus memilki fungsi sebagai yang mampu melepaskan manusia dari kemungkaran dan sifat kikir. Puasa harus mampu merasakan rasa lapar dan penderitaan orang lain. Sehingga ibadah puasa mampu meniadi motifasi dalam membela kaum tertindas. Terakhir, sebagai muslim, kita sepertinya perlu melakukan kaji ulang terhadap cara keberislaman kita. Misi pembebasan sebagaimana lerdapat dalam surat Al Ma’un haruslah menjadi semangat keberislaman. Islam harus benar-benar ditempatkan sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Islam bukan agama yang diciptakan untuk kepentingan Tuhan. Islam diciptakan bukan untuk meyenangkan Tuhan. Karena Tuhan tidak butuh apapun kecuali diri-Nya sendiri. Jadi Islam adalah agama manusia dan oleh karena itu umat Islam haruslah senantiasa komitmen memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-7856651844893745628?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/7856651844893745628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=7856651844893745628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7856651844893745628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7856651844893745628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/07/teologi-al-maun-landasan-teologis.html' title='Teologi Al Maun; Landasan Teologis Membela Kaum Tertindas'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-4955666091347617214</id><published>2008-05-30T07:39:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:47:43.323-08:00</updated><title type='text'>Kenaikan BBM, Kado Ulang Tahun Reformasi</title><content type='html'>Harian Padang Ekspress, Jumat, 30 Mei 2008                       &lt;div align="justify"&gt; &lt;b&gt;Oleh : &lt;/b&gt;Abrar Aziz, Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah Periode 2006-2008, Direktur Qalam Institute for Education and Demokracy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pada tahun 2005 pemerintahan SBY – JK memberikan kado istimewa atas setahun pemerintahannya kepada rakyat, yaitu kenaikkan harga BBM sebesar 126% hingga harga bensin premium mencapai angka Rp. 4.500,-. Pemerintah mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;p align="justify"&gt; Ketika harga minyak mentah menurun hingga 57 US$, harga BBM ternyata tidak ikut menurun. Dan sekarang, pemerintah memberikan  kado istimewa lagi kepada rakyat atas sepuluh tahun reformasi, yaitu kenaikan harga BMM 28,7% yang menyebebkan harga bensin premium melonjak hingga Rp. 6000,-. Alasan pemerintah tentu saja sudah bisa kita tebak, yaitu terus melejitnya harga minyak dunia serta ketidak tesediaan dana yang cukup untuk melakukan subsisdi. Alasan yang menurut sebagian orang sangat menyesatkan. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Sementara bantuan langsung tunai (BLT) yang merupakan bagian dari skema pengamanan sosial sebagai kompensasi kenaikan harga BBM ternyata juga belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Bantuan tersebut hanya diperuntukkan bagi 19,1 juta orang miskin. Padahal menurut catatan BPS, jumlah keluarga miskin tahun ini mencapai 41,33 juta jiwa. Itu berarti masih banyak keluarga miskin yang tidak mendapat bantuan langsung tunai. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Kebijakan sepihak ini tentu saja hanya akan menambah lirih jeritan rakyat miskin. Para pejabat, presiden, para mentri, gubernur, dan walikota maupun bupati tidak akan merasakan dampak dari kebijakan anti-rakyat miskin ini. Karena semua kebutuhan mereka sudah terpenuhi dengan fasilitas Negara, yang sebagian besarnya adalah hasil dari pungutan pajak rakyat juga. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Di negara seperti Venezuela, sebagaimana dikutip worldnews.about.com, harga minyak hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, dan di Mesir Rp 2.300/liter. Cina adalah importer minyak terbesar ketiga di dunia. Tapi harga minyak di Cina hanya Rp 5.888/liter. Padahal penduduk negara itu lebih besar dari Indonesia (1,3 milyar jiwa). Di Indonesia harga Pertamax menapai Rp. 8.700/liter. Lebih tinggi dari harga di AS yaitu Rp 8.464/liter. Padahal Upah Minimum Regional (UMR) di Indonesia hanya US$ 85 per bulan sementara di AS US$ 980 per bulan.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Dengan memakai patokan harga Internasional US$ 125/barrel maka rakyat AS yang UMRnya US$ 980/bulan masih bisa menabung US$ 955/bulan sementara rakyat Indonesia yang UMRnya hanya US$ 95/bulan harus ngutang sebanyak US$ 30/bulan.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Kenyataan yang telah disebutkan diatas adalah bukti bahwa ternyata memang mental inlander masih tertanam dalam diri sebagian penyelenggara bangsa ini. Bagaimana mungkin Indonesia yang dianugerahi Tuhan kekayaan yang berlimpah namun rakyatnya harus menanggung beban yang luar biasa berat akibat kebijakan sepihak pemimpinnya sendiri. Nasib rakyat ini memang seperti ayam yang mati di lumbung padi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Kenaikan BBM, benarkah satu-satunya jalan?&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Menurut pemerintah, sebagaimana disampaikan Wapres Jusuf Kalla dan Mentri Keuangan Sri Mulyani, kenaikan harga BBM adalah langkah terakhir yang “terpaksa” dilakukan pemerintah. Naiknya harga minyak dunia yang tidak terkendali merupakan alasan yang kerap kali digunakan. Jika kita perhatikan kondisi global, memang kenaikan harga minyak dunia tidak bisa dikendalikan. Produksi minyak dunia mencapai 85 juta barrel per hari, padahal permintaan minyak dunia sehari 87 juta barel. Hal ini mendorong pelaku pasar membuat prediksi provokatif tentang harga minyak dunia dengan asumsi bahwa dunia akan kesulitan memenuhi kebutuhannuya akan minyak. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Harga minyakpun melesat tak terkendali. Para pemimpin Negara merasa bimbang karena mereka hanya memiliki sedikit pilihan untuk menyelamatkan keuangan Negara. Bagi pemimpin Negara yang enggan bekerja keras dan berkorban untuk rakyatnya, pencabutan subsidi merupakan satu-satunya kemungkinan yang dapat dipilih. Meskipun sesungguhnya mereka menyadari bahwa  pilihan itu akan menambah beban rakyat. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Tapi apakah kenaikan harga minyak dunia itu berdampak buruk bagi Indonesia? Seharusnya tidak karena Indonesia memiliki minyak sendiri yang mempu memproduksi satu juta barrel perhari. Menurut hitungan para ekonom, jika harga minyak melambung hingga US$ 100 per barrel sekalipun, dengan harga minyak sebelum dinaikkan (Rp. 4.500,-), Negara masih untung sebesar US$ 18 milyar atau Rp. 168 triliun. Hal ini karena produksi minyak kita jauh lebih besar ketimbang impor.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Menurut Kwik Kian Gie, jika harga premium bensin kita Rp. 2000,- per liter, negara masih untung Rp. 1.350,- karena ongkos produksi hanya Rp. 650,- per liter. Produksi minyak kita dianggap masih mencukupi kebutuhan minyak nasional yaitu 3,5 juta kiloliter pertahun. Bahkan menurut Kwik, jika kebutuhan minyak nasional mencapai 60 juta kiloliter sekalipun, itu berarti setara dengan 377,36 juta barrel pertahun, dan pemerintah harus melakukan impor minyak, negara masih untung sebesar Rp. 35,71 trilyun. Karena lifting (minyak mentah yang disedot dalam perut bumi Indonesia) kita mencapai 339,28 juta barrel per tahun atau setara dengan Rp. 293,31 triliun pertahun dengan kurs Rp. 9.100,- per US Dolar. Lalu kenapa pemerintah mengatakan negara tidak punya uang? &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Pertanyaan ini yang membuat rakyat semakin bingung dalam lubang kesengsaraan. Bagaimana mungkin negara yang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa ini ternyata memiliki angka kemiskinan yang prestisius, 44,33 juta jiwa. Di negara kaya ini ternyata masih banyak rakyatnya yang tidak bisa bersekolah karena sekolah itu mahal, masih banyak ibu-ibu yang bayinya ditahan di rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya persalinan, masih ada anak yang gantung diri karena tidak mampu membayar SPP. Siapa yang menghisap harta kekayaan negeri ini? &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Sementara di istana, gedung parlemen, kantor mentri, dan rumah para pejabat daerah, puluhan mobil mewah berjejer dengan angkuhnya. Apakah para pemimpin itu tidak sadar bahwa mereka diberi amanah untuk mensejahterakan rakyat. Bukan untuk menguasai dan mensejahterakan diri dan keluarga sendiri. Berbagai kebijakan yang dibuat, seperti kenaikan BBM, ternyata malah membuat semakin sengsara. Negara menjadi penggusur orang miskin, bukan penggusur kemiskinan. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Agaknya rakyat hari ini hanya bisa memohon kepada Tuhan agar para pemimpin ini diberi petunjuk oleh-Nya sambil terus menyuarakan protes terhadap kebijakan yang tidak berpihak. Kita memang tidak bisa menggulingkan pemerintahan yang nyaris gagal ini ditengah jalan. Karena konstitusi mengamanatkan mereka memimpin bangsa ini selama lima tahun. Namun jika kepemimpinan sekarang ternyata tidak mampu mensejahterakan rakyat, maka perlu kiranya dipertimbangkan untuk tidak lagi memberikan amanah kepemimpinan kepada mereka pada periode yang akan datang. Karena orang yang beruntung adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi. Dan kita tentu tidak mau terperosok dua kali pada lubang yang sama. Jika sudah gagal, kenapa tidak cari yang lain?. Wallahu a’lam bis shawab.(***) &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-4955666091347617214?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/4955666091347617214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=4955666091347617214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4955666091347617214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/4955666091347617214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/05/kenaikan-bbm-kado-ulang-tahun-reformasi.html' title='Kenaikan BBM, Kado Ulang Tahun Reformasi'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-721729275660714117</id><published>2008-05-26T20:46:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:48:19.323-08:00</updated><title type='text'>Pilkada Kota Pariaman, Dari Elitisme Menuju Kepemimpinan yang Egaliter</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Harian Padang Ekspress, Selasa, 6 Mei 2008&lt;br /&gt;Abrar Aziz&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah periode 2006-2008, dan Direktur Qalam Institute for Education and Democracy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Pariaman tahun ini akan menyelanggarakan perhelatan demokrasi akbar, yaitu pemilihan kepala daerah langsung. Hajatan besar ini merupakan kali pertama yang dilaksanakan di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tabuik ini. Sebagaimana Pilkada langsung lainnya, Pilkada langsung kali ini tentu saja diharapkan bukan hanya menjadi ajang pertempuran politik antar elite di pentas yang lebih terbuka. Disebut elite karena dalam banyak Pilkada langsung partisipasi masyarakat hanya berkutat pada saat kampanye dan hari pencoblosan saja. Sisanya, masyarakat hanyalah penonton dari sebuah dagelan politik.&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Jika tradisi elitis ini masih berlanjut, maka bukan tidak mungkin masyarakat akan mengalami apatisme politik. Tingginya angka ketidak ikutsertaan masyarakat dalam beberapa pilkada langsung merupakan indikasi ke arah ini. Lemahnya partisipasi politik masyarakat ini boleh jadi merupakan isyarat kejemuan masyarakat dengan bualan kaum elite. Karena jika Pilkada dilakukan dengan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang tidak egaliter, maka jalannya pemerintahan juga akan sangat elitis dimana rakyat hanya dijadikan objek, bukan sebagai partner pemerintah. Inilah yang menyebabkan terjadinya krisis keparcayaan terhadap pemimpin. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Pemimpin yang amanah dan egaliter adalah dambaan setiap orang, tidak terkecuali masyarakat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Pariaman. Namun menemukan pemimpin yang demikian tentu saja bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Tetapi sepertinya tidak terlalu sulit bagi kita untuk menemukan model kepemimpinan amanah tersebut. Sejarah perjuangan kemerdekaan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap. Jalan hidup orang-orang seperti Mohammad Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Sudirman, dan tokoh pendiri bangsa lainnya adalah sebuah pelajaran tentang apa yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu kesederhanaan dan keberanian. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; kandidat Walikota dan Wakil Walikota Pariaman tentu harus belajar banyak kepada para tokoh pendiri bangsa tersebut. Mereka harus diingatkan bahwa tidak ada cerita sukses bagi pemimpin yang korup, lemah, dan elitis. Fidel Castro merebut kemerdekaan Kuba bukan dari kamar sebuah hotel, melainkan dalam belantara hutan Kuba bersama sahabatnya, Che Geuvara. Muammar Khadafi berhasil menjatuhkan pemerintahan korup bukan dari restoran mahal, melainkan dari sebuah kemah yang panas di gurun pasir &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Libya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;b&gt;Mencari Figur yang Berpihak&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Kepada siapa pemimpin harus berpihak? Jawabannya tentu saja kepada rakyat. Bukan kepada kepentingan politik elite, atau kekuasaan modal. Namun realitas menunjukkan bahwa modal masih menjadi penguasa sesungguhnya. Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang selama ini dilakukan pemerintah masih berwajah kapitalisme. Menurut Jurgen Habermas dalam bukunya Legitimation Crisis, setiap pemerintahan yang menginduk kepada kapitalisme, maka pemerintahan tersebut dengan mudah akan dihinggapi berbagai krisis. Habermas menyebut krisis kepercayaan, krisis ekonomi, dan krisis legitimasi sebagai akibat dari penghambaan kepada modal. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Tesis Habermas ini bisa jadi benar jika dikaitkan dalam konteks ke Indonesiaan. Banyak kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang lebih berpihak kepada kekuatan investor daripada kepada rakyat. Dapaknya, rakyatlah yang harus menanggung kebijakan yang elitis itu. Pencabutan subsidi BBM, mahalnya biaya pendidikan, sulitnya akses kesehatan, impor beras adalah sedikit dari sekian banyak kebijakan yang tidak berpihak. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Menurut Huston Smith, kapitalisme juga membawa manusia kepada krisis yang sangat parah, yaitu krisis spritualitas. Smith menyebut dengan cara yang sama, Timur dan Barat mengalami krisis yang luar biasa. Bahkan di Barat, agama sekalipun tidak mampu mengatasi krisis ini. Maka sudah menjadi harga mati bagi para kandidat untuk menciptakan kepemimpinan yang egaliter serta berani mengatakan “tidak” kepada kapitalisme. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Butuh keberanian untuk melawan gurita kapitalisme dan memberikan perhatian lebih kepada rakyat. Karena hanya ada satu pilihan yang bisa diambil. Melawan kapitalisme dan berpihak kepada rakyat. Atau sebaliknya, mengabaikan rakyat untuk mengumpulkan modal. Pelajaran penting mungkin harus kita petik dari para pemimpin Amerika Latin dan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Banyak yang bertanya kenapa Evo Morales sangat dicintai rakyat &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Bolivia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; padahal dia bukan orang kaya? Kenapa rakyat &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Venezuela&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; mati-matian memebela Hugo Chaves dari kudeta militer yang digagas Amerika Serikat? &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Dan kenapa Mahmoud Ahmadinejad mampu bertahan atas tekanan dunia internasional yang begitu kuat? Mengapa kondisi ini jauh berberda dengan di &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;? Jika jalannya pemerintahan “digoyang”, tidak ada rakyat yang membela kecuali sekelompok elite parpol yang berkepentingan mengusung pemimpin tersebut. Jawabannya tentu dapat dilihat dari fakta yang terjadi, bahwa para pemimpin besar itu adalah orang yang mampu mengambil pilihan berani yaitu meletakkan kepentingan rakyat diatas segala kepentingan lain. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Sekali lagi, ini memang bukan pilihan yang mudah. Mengambil sikap melawan kekuatan modal dan menjadi pembela rakyat adalah pilihan yang penuh resiko. Tapi pilihan inilah yang dipilih oleh para pemimpin besar dunia. Rakyat &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Pariaman sangat rindu dengan kepemimpinan yang bersih dan egaliter. Sebab, berbagai masalah yang dihadapi masyarakat hari ini tidak akan mampu diselesaikan dengan cara yang elitis. Pengangguran, kesenjangan sosial, korupsi, dan tumpukan masalah lainnya hanya bisa diselesaikan jika pemimpin negeri ini mampu mengambil langkah berani dan konsisten. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;Bagi masyarakat miskin, melihat pemimpinnya tidur di istana mewah di tengah tingginya angka kemiskinan tentu saja membuat hati mereka teriris. Rakyat kecil juga tentunya akan mengumpat melihat anaknya terbangun dari tidur karena bisingnya sirine mobil pejabat yang memekakkan telinga itu. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; elitis seperti inilah yang akan membuat jarak antara rakyat dan pemimpin menjadi semakin jauh. Filosofi kepemimpinan kemudian bergeser dari melayani menjadi menguasai. Untuk itulah perlunya masyarakat mengingatkan kepada para kandidat pemimpin ini untuk senantiasa belajar kepada para pemimpin besar dunia tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:12;"  &gt;Tindakan Evo Morales yang memotong gajinya sendiri dan seluruh pejabat di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Bolivia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:12;"  &gt; adalah contoh paling riil bagaimana pemimpin harusnya mengambil sikap. Kita hanya bisa mengingatkan dan menunggu langkah yang akan diambil para kandidat Walikota dan Wakil Walikota Pariaman &lt;/span&gt;&lt;st1:city  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:12;"  &gt; tahun kedepan. Tidak perlu mendengar janji mereka saat kampanye nanti, yang perlu kita lihat adalah bagaimana mereka “memperlakukan” rakyat selama ini. Jika elitisme masih menjadi &lt;/span&gt;&lt;st1:city  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:12;"  &gt; hidup para pemimpin, maka jangan salahkan jika rakyat akan semakin apatis dan bosan dengan semua sandiwara penguasa.(***) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-721729275660714117?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/721729275660714117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=721729275660714117' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/721729275660714117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/721729275660714117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/05/pilkada-kota-pariaman-dari-elitisme.html' title='Pilkada Kota Pariaman, Dari Elitisme Menuju Kepemimpinan yang Egaliter'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-3546879836158434092</id><published>2008-05-23T06:39:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:49:20.498-08:00</updated><title type='text'>10 Tahun Reformasi; Perteguh Jati Diri Bangsa</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;      Harian Padang Ekspress, Kamis, 22 Mei 2008    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abrar Aziz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah 2006-2008 dan Direktur Qalam Institute for Education and Democracy&lt;br /&gt;Tahun ini genap sepuluh tahun usia reformasi. Peristiwa penting yang diharapkan menjadi awal sebuah perubahan. Tahun ini juga, bangsa Indonesia memperingati satu abad kebangkitan nasional. Namun, meski sepuluh tahun sudah reformasi berlalu dan seratus tahun sudah kebangkitan nasional kita peringati, kita masih saja kebingungan bagaimana kita harus merayakan momen bersejarah tersebut. Reformasi yang diharapkan sebagai awal dari proses perubahan bukan saja telah kehilangan ruhnya, namun lebih dari itu, satu dekade setelah peristiwa tersebut, bangsa Indonesia ternyata jatuh semakin dalam ke lubang kemerosotan. &lt;/div&gt;   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td colspan="2" class="createdate" valign="top"&gt;     &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;        &lt;p align="justify"&gt; Presiden boleh saja berganti, namun mental pemerintah yang menghamba pada kakuatan modal tidak pernah berubah. Pemerintah kita sangat setia menjadi pelayan bagi investor asing. Dengan membuka investasi seluas-luasnya, kita membiarkan kekayaan alam kita dijarah orang lain tanpa berani menegur apalagi melawan. Dan yang menjadi korban dari kebijakan yang berwajah kapitalistik itu tentu saja adalah rakyat. Jika kita tanyakan kepada pemerintah kenapa harga BBM terus melonjak, maka pastilah jawabannya tidak ada uang lagi untuk mensubsidi. Bagaimana mungkin tidak ada uang, produksi minyak kita mampu mencapai satu juta barrel per hari. Kemana harta kekayaan kita yang melimpah? Ternyata hampir 90% dari kekayaan minyak kita dikelola oleh asing. Pertamina hanya memproduksi sekitar 109 ribu barrel, sisanya dikuasai perusahan asing. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Bahkan di Negara pasar bebas seperti Amerika sekalipun, impor barang produksi sangat dibatasi dan pemerintah memberikan subsidi sangat besar kepada produksi lokal agar mampu bersaing dengan barang impor. Anehnya, pemerintah kita malah membuka pasar seluas-luasnya hingga semua barang produksi masuk ke pasar kita dan membiarkan para petani kita kelaparan karena tidak bisa bersaing dengan produk impor. Indonesia bahkan lebih liberal dibanding Amerika sekalipun. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Dengan sangat patuh pemerintah kita mengikuti saran IMF, yang sejatinya adalah perpanjangan tangan dari kepentingan ekonomi AS, dalam mengatasi krisis ekonomi. Meskipun saran-saran tersebut sangat kental dengan aroma kapitalisme. Misalkan ketika IMF menyarankan perlunya pembatasan peran Negara dalam mengatur pasar, maka pemerintah menerbitkan UU No. 23 tahun 1999 tentang independensi BI. Dengan UU ini BI diharpkan tidak lagi menjadi kasir pemerintah seperti masa lalu. Bukan hanya itu, resep privatisasipun disambut pemerintah dengan suka cita dengan diterbiknannya UU No. 19 tahun 2003 tentang BUMN yang kemudian menjadi awal dari penjualan besar-besaran asset bangsa ke perusahaan asing.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Bahkan dalam Peraturan Presiden No. 77 tahun 2007 di sebutkan bahwa batas kepemilikan modal asing di sektor energi dan sumber daya mineral adalah 95% dalam bidang usaha Pembangkit Tenaga Listrik; 95% Jasa Pengeboran Minyak dan Gas Bumi di Lepas Pantai Indonesia Bagian Timur; 95% Transmisi Tenaga Listrik; 95% Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir; 95% Jasa Pengeboran Minyak dan Gas Bumi di Darat; 95% Pengembangan Tenaga Peralatan Penyediaan Listrik; dan lain sebagainya. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Peraturan yang didasari resep privatisasi dari IMF ini bukan saja telah membuat kita kehilangan kedaulatan ekonomi, lebih dari itu Peraturan ini telah memberikan izin kepada korporasi asing untuk menjarah semua kekayaan bangsa kita untuk dibawa keluar negeri dengan meninggalkan limbah kotor untuk rakyat Indonesia. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Yang lebih mengerikn adalah bahwa sektor pendidikan juga boleh dimiliki asing hingga 49% untuk bidang Usaha Pendidikan Dasar dan Menengah; 49% untuk Pendidikan Tinggi; dan 49% untuk Pendidikan Non Formal. Pendidikan yang seharusnya menjadi asset jangka panjang ternyata juga telah dijadikan barang komoditas yang bisa di dijual ke luar negeri. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Resep ini ternyata bukannya membuat kita keluar dari krisis, yang terjadi justru semakin besarnya angka kemiskinan dan semakin terpuruknya ekonomi kita. Rakyat kita ternyata harus menjadi tamu di rumah sendiri. Kekayaan yang berlimpah tidak bisa kita nikmati.&lt;br /&gt;Bahkan menurut catatan Amien Rais (2008), Komite Privatisasi Perusahaan BUMN telah mengeluarkan 44 daftar BUMN yang siap digadaikan ke korporasi asing, diantaranya Garuda Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, Karakatu Steel, Batara, dll. Alasan yang kerap disampaikan pemerintah atas penjualan asset ini adalah untuk menutupi devisit anggaran atau lebih jelasnya menutupi kebolongan APBN. Padahal jika sumber daya alam kita dikelola secara mandiri, maka kita tidak perlu lagi menjual asset berharga kita untuk menutupi APBN.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Jebakan Korporatokrasi&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Istilah korporatokrasi diperkenalkan oleh John Perkins, sebagaimana dikutip Amien Rais (2008). Yaitu sebuah sistem kekuasaan yang dikontrol oleh korporasi besar, bank internasional dan pemerintahan. Korporatokrasi menggambarkan bagaimana sebauh pemerintah dikendalikan oleh kekuasan korporasi (perusahan) besar dengan bantuan lembaga donor intenasional. Korporasi besar tersebut dengan mudah mendikte dan mengarahkan suatu bangsa demi meraup keuntungan yang berlimpah. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Setidaknya ada tiga unsur yang terlibat dalam korporatokrasi ini. Pertama tentu saja adalah korporasi besar yang berambisi menguasai ekonomi dunia. Perusahaan-perusahaan kaya ini memiliki agenda ekonomi yang sangat barbahaya bagi Negara berkembang yang memiliki sumber kekayaan alam, seperti Indonesia. Kedua, lembaga keuangan internasional seperti IMF, World Bank, dan WTO. Lembaga-lembaga ini memebrikan janji-janji ekonomi dengan meminjamkan dana besar kepada Negara berkembang dengan syarat Negara tersebut bersedia membuka pasar seluas-luasnya bagi korporasi asing dan mencabut subsidi kepada rakyat. Dan unsur katiga adalah, elite pemerintah yang menjadi pelayan korporasi besar tersebut. Para pejabat ini dengan setia melayani segala keinginan korporasi besar demi menguasai harta kekayaan negeri ini. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Jika kita melihat data-data diatas, secara jujur harus kita akui bahwa Indonesia ternyata sudah terjebak dalam perangkap korporatokrasi. Bagaimana tidak, pemerintah kita belum mampu menolak berbagai resep IMF dalam melakukan pengembangan ekonomi. Ide privatisasi besar-besaran dan pelucutan peran Negara dalam mengelola pasar adalah indikasi kuat kearah itu.  &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Kasus penjarahan yang dilakukan PT. Freeport McMoran Indonesia di bumi Papua dan Exxon Mobile di Blora adalah percontohan paling nyata dari jebakan korporatokrasi. Kontrak Karya II antara Indonesia dengan PT. Freeport baru berakhir tahun 2041. Itu artinya kekayaan alam kita akan dikuras sempai 43 tahun tahun kedepan. Jika demikian, apa yang akan diwarisi oleh anak cucu kita jika semua kekayaan bangsa ini terus digadaikan kepada pihak asing? Bukan tidak mungkin generasi berikut dari bangsa ini akan semakin kelaparan karena semua sumber daya alam sudah ludes terjual.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Memperteguh Jati Diri Bangsa&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Dengan berlalunya reformasi satu dekade yang lalu, maka sudah selayaknya kita kembali melakukan perbaikan diberagai sektor kehidupan agar reformasi tidak menjadi barang basi yang tidak meninggalkan apa-apa kecuali bau yang busuk. Kuncinya adalah keberanian pemerintah untuk melawan keinginan asing untuk menjarah kekayaan kita. Pemerintah harus berani membuat aturan-aturan yang lebih menguntungkan perekonomian rakyat ketimbang kepentingan asing. Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan modern seperti mall di atas pasar tradisional harus segera di hentikan karena akan mematikan pasar rakyat tersebut. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Bahkan jika mungkin, pemerintah harus melakukan nasionalisasi terhadap asset Negara yang dikuasai pihak asing dan mengelolannya secara mandiri. Sebagaimana yang dilakukan oleh Negara Amerika Latin yang ternyata mampu mensejahterakan rakyatnya tanpa resep-resep ekonomi IMF. Atau setidaknya melakukan negosiasi ulang terhadap berbagai Kontrak Karya dengan memasukkan aturan-aturan yang lebih berpihak kepada rakyat kecil dan bukan hanya menjadi agen perusahaan asing untuk meraup harta kekayaan negeri ini. Semoga negeri yang kaya ini mampu menjadi surga bagi rakyatnya sendiri. Amiin…(***) &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-3546879836158434092?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/3546879836158434092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=3546879836158434092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3546879836158434092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3546879836158434092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/05/10-tahun-reformasi-perteguh-jati-diri.html' title='10 Tahun Reformasi; Perteguh Jati Diri Bangsa'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-7791400789104954948</id><published>2008-03-17T12:25:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:50:08.346-08:00</updated><title type='text'>Keberpihakan Kepada Mustad`afin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Ien8a6qI/AAAAAAAAAAo/-PV_iVrNcq0/s1600-h/ajo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Ien8a6qI/AAAAAAAAAAo/-PV_iVrNcq0/s320/ajo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178797049966684834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Harian Republika, Jum`at, 23 November 2007&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Apakah fungsi agama yang sebenarnya? Pertanyaan ini menjadi sangat penting jika melihat fenomena keberagamaan umta Islam dewasa ini. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa masalah serius yang kita hadapi saat ini. Pertama, bangkitnya gerakan baru Islam yang mengusung corak islam yang doktriner dan literal. Kelompok ini memiliki kecenderungan bergerak secara konfrontatif dan ekstrim. Bahkan, tidak jarang mereka bertindak sebagai polisi syariat dan polisi moral dalam memberengus kelompok yang dianggap berseberangan dan “sesat”. Anehnya kelompok ini merasa mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan tindakan anarkis tersebut. Selintas kita lihat tujuan mereka sangat mulia, yaitu membela dan menegakkan agama Allah. Namun jika dilihat dari langkah anarkis yang dilakukan kita tentu akan sangat ragu dengan niat baik itu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Keberadaan gerakan ini tentu saja sangat mengancam iklim keberagamaan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang sangat plural. Bahkan konstitusi memberikan kebebasan kepada kita untuk meyakini kepercayaan tertentu. Jika ada satu kelompok keyakinan tertentu yang bertindak anarkis bahkan berniat mengusir kelompok keyakinan lain, maka itu adalah pelanggaran berat terhadap konstitusi Negara ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kedua, maraknya perdagangan ayat-ayat tuhan yang bahkan dilakukan oleh kaum yang merasa santri sekalipun. Atas nama dakwah, mereka berani memasang harga hingga puluhan juta untuk sekali tampil. Dalam hal ini, aktivitas dakwah hanya menjadi tempat transaksi antara konsumen dan produsen. Jika transaksi sudah selasai, maka jamaah akan pulang dengan membawa cerita-cerita lucu dan sang da`i pun kembali dengan setumpuk uang dan ketenaran. Apa yang didapatkan dengan dakwah yang seperti ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bukan hanya itu, media pun sepertinya tidak mau ketinggalan untuk meraup keuntungan dari pasar muslim terbesar di dunia ini. Berbagai tayangan yang dibungkus label islami disodorkan kepada masyarakat luas. Nuansa tahayyul dan khurafat sangat kental dalam tayangan “islami” ini. Apalagi jika tayangan itu juga diakhiri dengan ceramah seorang ustadz kondang, maka semakin kuatlah legitimasi tayangan tersebut sebagai tayangan islami. Ironisnya lagi, ditengah kekhusyukkan umat dalam menyaksikan tayangan yang katanya berreting tinggi itu, tiba-tiba diselingi dengan iklan-iklan yang menampilkan gambar-gambar yang justru sangat tidak islami. Dari sini dapat kita lihat bahwa motif tayangan tersebut ternyata hanyalah bisnis semata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dua masalah diatas, dan tentunya masih banyak deretan masalah lain, menunjukkan kepada kita betapa besarnya masalah yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia. Belum lagi jika kita saksikan fenomena yang sangat menyakitkan hati, yaitu fenomena korupsi yang justru dilakukan oleh departemen yang seharusnya diisi oleh orang-orang beriman dan shaleh. Yang lebih menyakitkan, kejahatan ini dilakukan pada saat umat ini sangat kesusahan karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kepada siapa lagi umat ini harus mengadu jika lembaga agama saja sudah tidak bisa lagi dipercaya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kumpulan para ulama juga ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah yang kita hadapi. Fatwa-fatwa yang diputuskan tidak jarang justru malah memicu konflik diantara umat Islam sendiri. Kita tentu saja sangat merindukan fatwa-fatwa yang berpihak pada kaum &lt;i&gt;mustad`afin&lt;/i&gt;, fatwa tentang penggusuran atau fatwa tentang hukuman berat bagi pejabat Negara yang korup. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Hal ini mejadi sangat penting mengingat persoalan terbesar yang sedang kita hadapi adalah kemiskinan ditengah negeri yang kaya raya. Bagaimana mungkin negeri yang sangat diberkati Allah dengan bermacam kekayaan ini harus menerima kenyataan bahwa rakyatnya harus makan nasi aking dan harus antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; liter minyak tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaannya adalah, pernahkan para ulama, pengkhotbah, kaum ekstrimis yang mengaku menjadi tentara Tuhan, atau ustadz yang memasang tarif jutaan melakukan langkah kongkret untuk menyelasaikan masalah ini? Apakah cukup dengan hanya meminta umat bersabar karena setiap musibah ada hikmahnya? Atau dengan dalil bahwa Allah sangat mencintai orang yang bersabar? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Yang dibutuhkan umat adalah langkah kongkret untuk, bukan ceramah-ceramah yang tidak mampu mengatasi kelaparan, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan sosial lainnya. Bagaimana mungkin seseorang dipaksa beribadah dengan khusyu sementara perut keluarga belum terisi selama dua hari. Bagaimana mungkin seseorang harus dicambuk karena mencuri sedangkan dirumahnya tidak ada satupun yang bisa dimakan. Disinilah pentingnya kita mengkaji kembali fungsi agama bagi manusia dan kepada siapakah agama harus berpihak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Mempertegas keberpihakan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam al Quran jelas sekali disebutkan bahwa yang disebut &lt;i&gt;al birri&lt;/i&gt; kebajikan adalah beriman kepada Allah, nabi-nabi, kitab-kitab dan senantiasa mencintai orang-orang miskin, orang yang meminta-minta, anak yatim dan memerdekakan budak (QS Al Baqarah 177). Tidak ada keraguan sedikitpun bagi kita tentang maksud ayat ini. Yaitu keberpihakan kepada kaum tertindas dan lemah. Ajaran bahwa keimanan harus memberikan implikasi kepada dimensi sosialnya sangat jelas di dalam Al Quran. Dengan kata lain, iman tidak akan memiliki arti sama sekali jika tidak memiliki dimesi social. Tidak kurang dari tiga puluh enam ayat yang mengaitkan iman dan amal shaleh. Diantaranya QS. Al Baqarah; 62, Al Maidah; 69, Al An`am; 54, Al Kahfi; 88, Maryam; 60, dan ayat lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Langkah yang harus kita lakukan juga telah disampaikan oleh kitab suci, yaitu dengan memberikan sebagian harta kita kepada mereka, memberikan pertolongan, dan memperlakukan mereka sebagai manusia yang mulia. Bukan dengan mengajak mereka bersabar dan terus berdo`a. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Keberpihakan Islam terhadap kaum tertindas memang tidak dapat dipungkiri. Untuk itulah dibutuhkan sebuah gerakan dakwah yang membebaskan (liberaitf) umat dari belenggu ketertindasan. Dan gerakan ini tentu saja harus dimulai oleh para ulama, pemimpin Negara, dan kelompok-kelompok islam yang menjadi panutan masyarakat. Jika ulamanya hanya bertindak sebagai polisi syari`at, para ustadz terus memasang tarif selangit sambil menyuruh umat bersabar atas musibah, media terus membodohi umat, dan kelompok-kelompok agama sibuk berdebat soal mana yang sesat dan mana yang benar, maka jangan harap kondisi bangsa ini akan membaik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Langkah kongkret harus dimulai sesegera mungkin, para ulama diharapkan mampu menjadi pembela kaum tertindas dengan mengeluarkan fatwa-fatwa tentang menunjukkan keberpihakan itu. Seperti fatwa tentang penggusuran, hukuman bagi koruptor, atau fatwa lain yang mampu melepaskan umat dari ketertinggalan. Begitu juga pemerintah agar senantiasa menunjukkan keberpihakan kepada rakyat miskin dalam membuat setiap kebijakan, ustadz-ustadz diharapkan mampu memberikan ceramah-ceramah yang menggerakan masayarakat untuk saling peduli. Dan ingat, jangan pasang tarif yang memberatkan jamaah. Mudah-mudahan negeri ini mampu menjadi surga bagi para penduduknya. Baldatun thayyibatun waraabun ghafuur. Amiin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-7791400789104954948?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/7791400789104954948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=7791400789104954948' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7791400789104954948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/7791400789104954948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/03/keberpihakan-kepada-mustadafin.html' title='Keberpihakan Kepada Mustad`afin'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Ien8a6qI/AAAAAAAAAAo/-PV_iVrNcq0/s72-c/ajo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-6698832344871857693</id><published>2008-03-17T11:48:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:53:41.835-08:00</updated><title type='text'>Transformasi Islam untuk Pembebasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Cmn8a6oI/AAAAAAAAAAU/qCUrF0pvBF8/s1600-h/tifatul%2520sembiring%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 131px; height: 209px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Cmn8a6oI/AAAAAAAAAAU/qCUrF0pvBF8/s200/tifatul%2520sembiring%5B1%5D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178790590335871618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Islam tumbuh dalam rentang waktu dua puluh tiga tahun. Hal ini menunjukan bahwa Islam mengalami transformasi dalam pembentukan dan perkembangannya. Kita dapat menyaksikan bagaimana Islam yang awalnya hanya sebagai sebuah gerakan keagamaan kemudian menjelma menjadi sebuah gerakan sosial politik pada periode berikutnya, serta dari agama perkotaan (periode Mekkah dan Madinah) menjadi agama yang menyebar luas pada masyarakat desa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Transformasi Islam tersebut terus berkembang seiring dengan perjalanan waktu. Hingga kini, transformasi Islam terus terjadi dalam berbagai bentuk. Wahabisme misalnya, gerakan ini mencoba melawan modernisme dengan melarikan diri kepada teks sebagai satu-satunya sumber legitimasi. Ajaran ini sangat tidak bersahabat dengan misitisme dan intelektualisme. Menurut mereka, umat Islam wajib kembali kepada pemahaman Islam yang sebenar-benarnya melalui interpretasi harfiah terhadap teks. Mereka menolak pengetahuan humanistik, apalagi menafsirkan teks dalam perspektif sejarah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Transformasi Islam terus berkembang dengan munculnya gerakan salafisme. Gerakan yang dipelopori Muhammad Abduh, Al Afghani, dan Rasyid Ridho ini secara umum hampir mirip dengan Wahibisme. Hanya saja mereka lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penganut salafi mangidealkan zaman keemasan masa Rasulullah dan sahabat. Yang membedakannya dengan wahabi adalah, bahwa mereka didirikan oleh kaum nasionalis muslim yang menafsirkan kembali modernisme melalui teks-teks orisinil sehingga mereka tidak anti-Barat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Transformasi Islam di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sebagaimana perkembangan Islam di Timur Tengah, Islam di Indonesia juga mengalami perubahan menuju format idealnya. Namun Islam di Indonesia sampai saat ini belum juga menemukan bentuk ideal yang mampu membawa bangsa ini menuju kesejahteraan. Bahkan yang terjadi adalah konflik yang berkepanjangan. Banyaknya variasi gerakan Islam membuat umat Islam di Indonesia kebingungan dan senantiasa dihantui rasa takut karena banyak konflik yang terjadi antara sesama muslim. Fenomena saling menyesatkan serta fatwa-fatwa yang memicu terjadinya konflik membuat wajah Islam menjadi semakin “mengerikan”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Arah transformasi Islam menjadi semakin memprihatinkan dengan munculnya keinginan yang mengarah kepada formalisasi syari`at Islam. Keinginan ini muncul akibat kekecewaan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sangat menyedihkan. Barangkali inilah yang disebut Jurgen Habermas dengan krisis lagitimasi. Dimana terjadi ketimpangan antara kebutuhan akan motif-motif yang dikukuhkan oleh negara, sistem pendidikan, dan sistem dunia kerja di satu pihak, dan motivasi yang didukung oleh sistem sosial budaya di pihak lain telah melahirkan motivasi untuk menjadikan tuntutan norma-norma secara formal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, tuntutan yang besar terhadap formalisme agama merupakan akibat dari perasaan yang mendalam berupa kekalahan dan keterasingan dari cengkraman gurita kapitalisme. Hal ini membuat kebencian terhadap kapitalisme, yang diwakili oleh Barat, semakin besar. Akibatnya, sebagian umat Islam beranggapan bahwa apapun yang datang dari Barat adalah &lt;i&gt;kafir&lt;/i&gt; dan satu-satunya jalan untuk melawan semua itu adalah penegakan syari`at Islam secara formal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kecenderungan formalistik ini membuat semangat pembebasan Islam menjadi redup. Hal inilah yang membuat gerakan Islam di Indonesia mengalami kemunduran. Islam tidak mampu menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, tapi hanya bagi mereka yang memiliki kesamaan pandangan saja. Kita kemudian lupa bahwa misi Islam adalah misi kemanusiaan yang membebaskan manusia dari kemiskinan, keterbelakangan, dan penindasan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Fenomena ini kemudian membuat umat Islam semakin hari semakin jauh dari nilai-nilai luhur Islam itu sendiri. Sebagian kita menganggap orang lain sebagai musuh hanya karena perbedaan pandangan keagamaan. Bagaimana mungkin orang yang mengaku beragama berani melakukan pemboman di tempat keramaian dan melenyapkan ratusan nyawa yang belum tentu berdosa? Kenyataan ini diperparah dengan adanya kelompok yang merasa dirinya paling shaleh dan yang lain sesat, ada kelompok yang merasa paling rasional dan yang lain dianggap kolot, dan ada juga kelompok yang merasa berhak mewakili Tuhan sehingga memiliki wewenang untuk memvonis siapapun yang berbeda pandangan dengannya. Sebuah pandangan yang jauh dari nilai-nilai luhur keislman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Misi Profetis Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Ketika melaksanakan haji wada`, Rasulullah menyampaikan sebuah pidato yang sangat penting. Beliau menyampaikan bahwa turunnya wahyu secara umum memiliki tiga tujuan: &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; untuk menyatakan kebenaran. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; untuk berperang melawan penindasan dan &lt;i&gt;katiga,&lt;/i&gt; membangun ummat yang didasarkan kesetaraan, keadilan, dan kasih sayang. Senada dengan itu, dalam al Quran juga disebutkan tiga prinsip dasar Islam, yaitu; humanisasi (kemanusiaan), liberasi (pembebasan), dan transendensi (QS. Ali Imran 110). Tiga elemen dasar inilah yang harusnya menjadi semangat keberislaman kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Disinilah perlunya kita menyingkirkan sikap-sikap pragmatis dalam memahami teks sehingga pemahaman kita tidak hanya berkutat pada penafsiran teks. Pandangan yang tertutup dalam memahami teks hanya akan membuat Islam terkesan bengis dan sangar serta akan memperkuat stigma buruk terhadap Islam. Misi Islam sebagai agama pembebasan menjadi terkaburkan. Yang lahir justru penjajah-penjajah baru yang merasa berwenang menghakimi “kelompok lain”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Islam harus benar-benar ditempatkan sebagai agama kasih sayang (rahmat) agar bisa manampakkan wajah yang sejuk dan damai. Keyakinan kita akan kekuasaan Allah harus diikuti dengan kesungguhan dalam menerjemahkan perintah Allah untuk mengasihi sesama manusia, bahkan mengasihi musuh sendiri sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Perbedaan yang terjadi adalah cara Allah untuk menguji kita terhadap pemberian-Nya. Bahkan dalam al Quran dikatakan &lt;i&gt;“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umay saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan. Hanya Allah-lah tempat kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu&lt;/i&gt; (QS. Al Maidah 48).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Terakhir, mari kita mulai membangun kesadaran dengan spirit transformasi dari pemahaman yang literal menjadi pandangan yang terbuka, humanis, santun, dan tentu saja religius. Kemerosotan umat Islam hanya bisa diatasi jika masing-masing kelompok mampu bersikap ramah satu sama lain. Perdebatan tentang mana yang sesat dan mana yang benar paling benar hanya akan membuat kita letih sehingga persoalan umat yang lebih besar, yaitu penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan menjadi terabaikan. Agama harus dijadikan spirit bagi kita dalam memperjuangkan nilai-nilai kemnusiaan menuju Islam yang membebaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-6698832344871857693?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/6698832344871857693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=6698832344871857693' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6698832344871857693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/6698832344871857693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/03/transformasi-islam-untuk-pembebasan.html' title='Transformasi Islam untuk Pembebasan'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97Cmn8a6oI/AAAAAAAAAAU/qCUrF0pvBF8/s72-c/tifatul%2520sembiring%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7931406619302079399.post-3753400789440653827</id><published>2008-03-17T10:45:00.000-07:00</published><updated>2008-11-28T21:59:51.997-08:00</updated><title type='text'>Islam Agama Kemanusiaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97JqH8a6rI/AAAAAAAAAAw/QLXgsIQCMqo/s1600-h/ajoo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97JqH8a6rI/AAAAAAAAAAw/QLXgsIQCMqo/s320/ajoo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178798347046808242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jurnal INSIGHT, edisi April 2008&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Umat Islam meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai masalah yang menimpa dunia dewasa ini. Setiap muslim juga yakin bahwa Islam sangat relevan dalam setiap waktu dan tempat &lt;i&gt;(shalihun li kulli zamani wa makani)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Tapi terkadang timbul pertanyaan dalam benak kita ketika melihat relitas bahwa banyak umat Islam yang bertindak jauh dari nilai-nilai luhur keislaman. Apakah benar islam yang diturunkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; belas abad yang lalu masih mampu menyelesaikan polemik persoalan manusia modern yang sudah jauh berkembang?. Pertanyaan ini muncul setelah kita melihat fakta banyaknya insiden kekerasan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh sesama umat Islam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, kemajuan teknologi yang demikian pesat ternyata juga menimbulkan masalah yang tidak sederhana. Kondisi global tersebut meniscayakan terjadinya gerak arus informasi yang sangat dahsyat. Arus ini tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga nilai. Nilai-nilai yang berkembang pada akhirnya akan membawa kita pada pola hidup yang beragam. Salah satu implikasinya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebarnya nilai-nilai materialisme, pragmatisme, dan hedonisme yang pada akhirnya menyudutkan agama pada posisi yang memprihatinkan. Masyarakat kita kemudian menjadi masyarakat yang penuh dengan kelonggaran-kelonggaran, pergaulan bebas, budaya korupsi, dan gejala negative lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kemajuan teknologi ternyata juga membawa problematika kemanusiaan. Menurut Kuntowidjoyo, dunia modern sesungguhnya menyimpan potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berhasil menorganisasikan ekonomi, menata struktur politik serta membangun peradaban maju. Tetapi pada saat yang sama, kita menyaksikan bagaimana manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Dunia modern telah berhasil melepaskan manusia dari belenggu dunia mistik yang irrasional, namun manusia gagal melepaskan diri dari belenggu yang lain, yaitu penghambaan terhadap diri sendiri. Inilah yang menyebabkan manusia menganggap orang lain sebagai subordinat dan kurang penting keberadaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dengan demikian masihkan kita harus percaya bahwa Islam adalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai masalah yang kita hadapi? sementara kenyataan menunjukkan bahwa dunia hari ini telah jauh meninggalkan dunia dimana Islam diturunkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Untuk menjawab keraguan itu, marilah kita mulai dengan memberikan pemahaman yang benar tentang agama. Untuk siapa agama diciptakan? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan sikap keberislaman kita. Dalam ayat terakhir yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad saw. jelas disebutkan bahwa Islam diturunkan untuk kepentingan manusia &lt;i&gt;(al yauma &lt;b&gt;akmaltu lakum&lt;/b&gt; diinakum)&lt;/i&gt;. Ajaran ini diperjelas oleh Rasulullah ketika melaksanakan haji wada` melalui pidatonya yang mengatakan bahwa turunnya wahyu secara umum memiliki tiga tujuan, &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; untuk menyatakn kebenaran. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;untuk melawan penindasan, dan &lt;i&gt;ketiga&lt;/i&gt;, membangun ummat yang didasarkan kesetaraan, keadilan dan kasih sayang. Pada banyak tempat dalam al Quran juga disebutkan tentang dimensi kemanusiaan Islam. Seperti adanya prinsip humanisasi (kemanusiaan), liberasi (pembebsan), dan transendensi (Q.S Ali Imran 110). Bahkan orang yang tidak peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan disebut sebagai pendusta agama (Q.S Al Ma`un 1-3).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pemahaman keislaman seperti ini menjadi sangat penting ketika kita melihat kenyataan banyak umat Islam yang menganggap bahwa Islam adalah agama Tuhan. Hal ini membuat sebagian kita merasa berhak mengatasnamakan Tuhan dan menghakimi pihak lain yang berbeda pandangan. Konflik atas nama agama yang terjadi belakangan ini membuat kita sangat prihatin. Bagaimana mungkin orang yang mengaku beragama sampai hati melakukan kekerasan terhadap saudara seiman hanya karena beda pemahaman? Padalah Islam lahir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Namun, yang terjadi adalah saling curiga dan benci antar sesame kelompok Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Akibat lain dari pemahaman yang kurang tepat terhadap Islam adalah lebih dominannya keberagamaan simbolik dibanding keberagamaan substansial. Umat Islam kemudian hanya mementingkan simbol-simbol agama tanpa mampu menghayati makna agama yang sesungguhnya. Yang terjadi kemudian adalah banyaknya ritual-ritual kering tanpa makna. Bukti nyata dari kondisi adalah semakin meningkatnya jumlah jemaah haji dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ditengah semakin meningkatnya angka kemiskinan. Ironis memang, orang Islam yang melakukan ibadah haji setiap tahun terus bertambah, namun tingkat kemiskinan rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak berkurang. Ini membuktikan bahwa keberagamaan kita telah kehilangan ruhnya. Banyaknya orang muslim yang kaya ternyata tidak membuat angka kemiskinan berkurang. Ini disebabkan oleh pemahaman bahwa ibadah adalah urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Padahal dalam al Quran seringkali kata iman disandingkan dengan kata amal shaleh. Ini menunjukkan bahwa iman (orientasi ketuhanan) harus diikuti dengan amal shaleh (orientasi kemusiaan). Yang disebut kebaikan adalah ketika keimanan dan aksi sosial dilaksanakan sejalan (Q.S Al Baqarah 177). Maka dimensi keimanan tidak akan ada artinya jika tidak diikuti dengan amal. Jika keimanan terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhan, maka amal shaleh adalah hubungan dengan sesama manusia sebagai wujud kongkrit dari keimanan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Landasan normative persaudaraan kasih sayang antar umat manusia terdapat dalam al Quran yang menyatakan bahwa keragaman suku bangsa merupakan sunatullah (ketetapan Allah), namun perbedaan itu tidak dimaksudkan agar manusia saling bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal dan menjalin persaudaraan (Q.S Al Hujurat 13). Bahkan secara eksplisit Allah menyebutkan; &lt;i&gt;Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu akan dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu…&lt;/i&gt;(Q.S Al Maidah 48).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Keragaman yang dibangun Tuhan dalam kosmologi kehidupan manusia ini tidak dimaksudkan untuk mensubordinatkan satu sama lain. Perbedaan tidak menunjukkan kemuliaan satu sama lainnya. Yang membedakan manusia dalam pandangan Tuhan bukanlah pada fakta perbedaan itu sendiri, melainkan upaya kita untuk memasrahkan diri (bertaqwa) dan memperbaiki kualitas diri. Dan yang meninggikan darjat manusia disisi Tuhan adalah kulaitas iman dan ilmunya (Q.S Al Mujadalah 11).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kenapa mesti ilmu? Ilmu adalah entitas penting dalam peradaban manusia untuk mencapai kemajuan. Ilmu juga yang membuat manusia mampu menghargai orang lain. Secara kasat mata kita dapat melihat perbedaan cara menyelesaikan masalah antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Iman dan ilmu adalah syarat mutlak yang harus dimiliki agar kita dapat menempatkan agama pada posisi yang sebenarnya. Tidak ada rumusan bahwa orang yang beriman dan berilmu dapat secara membabi buta merusak dan menghancurkan rumah ibadah, meledakkan bom di tengah keramaian, atau menyerang kelompok yang berbeda pandangan dengannya. Inilah yang seharusnya menjadi spirit keberagamaan kita. Yaitu, meningkatkan kualitas keimanan kita dan diwujudkan dengan sikap menghargai pandangan orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Ijtihad kemanusiaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kembali pada pertanyaan awal, bagaimana Islam yang diturunkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; belas abad yang lalu mampu menyelesaikan persoalan yang hadir hari ini? Dalam Islam kita mengenal istilah ijtihad, yaitu sebuah upaya sungguh-sungguh mengokohkan ajaran Islam dari sisi ajaran yang dibawanya. Metodologi ijtihad perlu dikembangkan sesuai dengan persoalan zaman yang dihadapinya. Hal ini perlu dilakukan mengingat secara tekstual al Quran dan Sunnah adalah naskah yang statis, sementara kehidupan manusia senantiasa dinamis dan selalu membutuhkan hal-hal yang baru. Maka tugas kita adalah bagaimana menyelesaikan persoalan yang dinamis tersebut berdasarkan teks yang sangat terbatas (statis)? Upaya ini kemudian kita kenal dengan istilah ijtihad.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Upaya inilah yang dilakukan oleh para ulama. Mereka menghadapi persoalan modern bukan dengan merubah teks, melainkan melakukan re-interpretasi terhadap teks agar sesuai dengan tuntutan zaman. Interpretasi inilah yang kemudian disebut dengan tafsir. Sehingga kita akan mudah membedakan antara teks al Quran dan penafsiran al Quran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Spirit berijtihad lahir dari semangat mengfungsikan akal dengan menggunakan teks sebagai landasan. Tujuannnya tentu saja tetap pada kerangka awal keberagamaan yaitu menyelasaikan masalah-masalah kemanusiaan modern. Sebagaimana disebutkan Imam Asy Syatibi bahwa tujuan dasar ditetapkannya hukum adalah untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, meliputi; 1. Menjaga agama, 2. Menjaga akal, 3. Menjaga jiwa, 4. Menjaga keturunan, dan 4. Menjaga harta. Hal ini semakin mempertegas bahwa kemanusiaan adalah cita-cita luhur dari agama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Membumikan Agama untuk Kemanusiaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kondisi bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang dilanda krisis berkepanjangan membuat orang mengharap “sumbangan riil” agama sehingga agama bisa hadir membawa kesejukan ditangah badai krisis yang luar biasa derasnya. Agama harus dapat “dibumikan” dan tidak boleh dibiarkan “mengawang-ngawang” tanpa bisa dijangkau oleh pemeluknya. Karena pada kenyataannya banyak manusia merasa terasing dari kehidupan &lt;i&gt;real&lt;/i&gt; yang dihadapi. Problem kemanusiaan seperti ini tentu saja membutuhkan kehadiran agama untuk memberikan jawaban.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam konteks inilah kita perlu membumikan pesan-pesan “langit” yang hadir melalui wahyu tersebut. Agama tentu saja membutuhkan horizon yang lebih luas, sehingga dimensi kemanusiaannya lebih dominan daripada teosentrisnya. Dominasi teosentrisme dalam agama hanya akan “melangitkan” agama dan membuatnya jauh dari manusia. Hal ini seolah membenarkan tuduhan Karl Marx bahwa agama hanyalah “candu” bagi masyarakat. Jika agama benar-benar sudah jauh dari manusia, maka pantaslah “pesta kematian Tuhan” dirayakan oleh Nietzsche, Freud, Albert Camus, dll.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Menurut Masdar F. Mas`udi, agama seharusnya tampil dengan dimansi kemanusiaannya agar agama tidak hanya hadir dalam bentuk ritual-ritual simbolik dan memiliki ketegasan dalam melakukan pembelaan terhadap kemanusiaan. Dalam al Quran disebutkan bahwa Islam dihadirkan oleh Allah sebagai pembawa kasih sayang bagi alam semesta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kita tentu saja tidak bisa membuat agama berpihak pada manusia tanpa memahami bahwa agama diciptakan untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak butuh pembelaan, penyembahan, bahkan Dia tidak butuh apapun kecuali dirinya sendiri. Manusialah yang membutuhkan agama sebagai jalan keselamatan dan kesejahteraan. Andaikan seluruh rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ingkar kepada Allah sekalipun tidak akan membuat kekuasaan-Nya berkurang. Allah tetap mahakuasa dengan atau tanpa penyembahan dari manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Terakhir, mari kita mulai memaknai dimensi kemanusiaan agama dengan memandang realitas secara objektif. Jika kita hendak menolong orang lain, kita tentu saja tidak perlu menayakan apa agama dan keyakinannya. Karena kehadiran Islam, sekali lagi, bukan hanya untuk umat islam saja, melainkan menjadi pembawa kasih sayang bagi semesta. &lt;i&gt;Wallahu a`lam bis shawab.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7931406619302079399-3753400789440653827?l=abrarmuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/feeds/3753400789440653827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7931406619302079399&amp;postID=3753400789440653827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3753400789440653827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7931406619302079399/posts/default/3753400789440653827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abrarmuslim.blogspot.com/2008/03/islam-agama-kemanusiaan.html' title='Islam Agama Kemanusiaan'/><author><name>abrar aziz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12877415602765311781</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sXxqTxoPATI/R-FI8KtYVsI/AAAAAAAAABk/IqGjl7Kyb6E/S220/ajo.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_sXxqTxoPATI/R97JqH8a6rI/AAAAAAAAAAw/QLXgsIQCMqo/s72-c/ajoo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
