abrar aziz

"Jadilah orang yang benar-benar hidup, bukan sekedar bernafas ..."

Sabtu, 11 Mei 2013

Islamku, Islam Galau

Diposting oleh abrar aziz

Ini tentang Islamku, teman.Bukan Islammu, bukan Islam menurut ustad, atau Islam menurut Kitab. Tapi Islamku. Islamyang kurasa, yang kupikir. Pernah kubaca dan kudengar bahwa Islam adalahpenerimaan atas apapun yang diputuskan-Nya. Dia, Tuhan Yang Maha Berkehendak.Akalku bertanya, jika Dia Maha Berkehendak, mengapa Dia menciptakan kehendaklain, yaitu pikiran kita, manusia. Jika kutanya hal itu pada ustad sepertimu,kau pastilah akan menuduhku kafir. Dan kau akan menjawab; Tuhan punya rahasiayang tidak akan kita mengerti. Setelah itu diam. Seolah jawaban itumenyelesaikan persoalan. Sesungguhnya aku punya ratusan pertanyaan serupa.Akalku yang berkehendak atas kehendak Tuhan ini tidak bisa begitu saja puasdengan jawaban sapujagad; Tuhan berkuasadan maha mengetahui segala, maka dari itu jangan pertanyakan apapunkeputusan-Nya meskipun keputusan itu tak kau pahami. Inilah jawaban sapujagaduntuk semua pertanyaan tentang Tuhan. Pertahanan terakhir para ustad. Inilah Islamku, kawan. Islamyang penuh kegalauan. Dan bagiku inilah Islam yang sebenarnya. Pencarian yangtak boleh berakhir. Jika kegalauanku berakhir dan aku mencapai puncakketenangan, mungkin aku tidak butuh Islam. Seperti perintah sholat yang takpernah putus. Selalu berulang-ulang gerakaan dan bacaan yang itu-itu sajasetiap hari. Bagiku itu adalah simbol dari pencarian yang tak pernah putus.Itulah sebabnya aku tak ingin keluar dari kegalauan dan menemukan kebenaransejati. Karena jika kebenaran sejati kutemukan, maka untuk apa Islam buatku? Lalu apa yang aku cari denganIslamku? Yang kucari adalah harmony, teman. Harmony adalah kesatuan dariperbedaan. Keindahan dari keberagaman. Aku tak pernah ingin merubah Islamku sepertiIslammu. Dan kau pasti tak akan merubah Islammu menjadi sepertiku. Kauberkali-kali sudah katakan Islamku sesat dan kafir. Itu baru kita. Belum lagiagama lain. Perbedaan akan semakin meruncing. Apapun keyakinan selain Islam adalahkafir dan hanya Islam satu-satunya agama yang diridhai-Nya. Lalu kenapa agama-agama laintetap eksis dan berjaya. Bukankah seharusnya Tuhan menghancurkan agama-agamaitu karena satu-satunya agama yang direstui-Nya hanyalah Islam? Ternyatajawabannya adalah harmony. Dalam firman-Nya kutemukan; jika Aku ingin, maka akanKu-buat kalian satu umat saja. Tapi Aku ingin menguji kalian dengan perbedaan.Apakah kalian bisa menciptakan harmony dengan perbedaan itu atau malah membuatkegaduhan? Demikian Tuhan kita berkata. Islamku seumpama kumpulan alat musikyang menjadi harmony dalam perbedaan. Perbedaanlah yang membuat gitar, drum, bass, piano,dan yang lainnya bisa menciptakan harmony yang indah. Islamku terasa lebihindah justru karena kehadiran yang lain. Aku percaya bahwa kepercayaan selainapa yang kupercayai adalah cara Tuhan membuat kepercayaanku terasa lebih indah.Bayangkan jika di dunia ini hanya ada satu warna. Langit putih, awan putih,gunung putih, laut putih, semua putih. Perbedaanlah yang membuat dunia inimenjadi indah. Itulah Islamku, teman. Islamku adalah Islam apaadanya. Islam yang tidak menutupi kehinaan dengan jubah dan gamis. Yang takmenutup noda dengan jenggot dan slogan. Aku adalah pendosa. Dan aku tidak malumenjadi pendosa. Karena Tuhan menciptakan manusia memang sebagai pendosa. Yangseharusnya malu adalah para pendosa yang membungkus dirinya dengan jubahkesucian, ayat-ayat kemunafikan, khutbah-khutbah kebohongan. Bagiku parapendosa berjubah ini terlihat lebih menyedihkan. Aku baru sadar kenapa Tuhanmengampuni segala dosa kecuali musyrik dan murtad. Dosa adalah jalan manusiamenuju tangga yang lebih tinggi. Jika engkau berdosa, mengakuinya, dan insyafatas dosa itu, maka kau akan naik ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi jika kauberdosa, tidak mengakuinya. Malah menunjuk-nunjukkan jarimu ke hidung oranglain, maka kau akan semakin terpuruk dalam kemunafikan. Sabar dulu, teman. Aku tidakingin mengatakan bahwa buatlah dosa sebanyak-banyaknya jika kau ingin menjadimulia. Sama sekali bukan itu. Tapi yang ingin kukatakan adalah; dosa sebagaisalah satu sifat yang menyatu dengan manusia sejak diciptakan bukan sesuatuyang bisa diingkari keberadaanya. Kita semua adalah pendosa. Dan sikap kitaterhadap dosa itu akan mempengaruhi tangga kemuliaan kita. Itu Islamku, teman.Pasti berbeda dengan Islammu. Dan aku harap kau menikmati perbedaan itu. Islamku bukanlah Islam yangberbahan baku hukum haram, halal, qishash, rajam, atau cambuk. Aku percayaTuhan menciptakan kehidupan ini bukan sekedar untuk bermain sepak bola dimanakau akan terhukum jika melakukan pelanggaran. Bahan baku Islamku adalah cintakasih. Dan penciptaan ini adalah bukti ke-Maha Cinta-an-Nya. Seperangkat hukumdan aturan dibuat hanyalah untuk menjamin agar harmony bisa tetap berjalan. Jika kau hidup dengan cinta kasih, kau takakan membutuhkan hukum-hukum itu. Saat Islammu berbeda dengan Islammereka, cintailah mereka yang berbeda itu tanpa kau harus merubah pendirianmu,maka kau akan merasakan nikmatnya perbedaan. Tak perlu kau mengacungkan pedanghukum dan menakut-nakutinya dengan dosa dan kekafiran. Tak perlu juga kaumemaksa mereka agar memandang Islam seperti cara pandangmu. Cinta adalah hukumtertinggi. Jika kau mencintai Tuhan dan semua makhluknya dengan tulus, tak akanada hukum yang kau langgar. Itulah Islamku, teman. Islam penuh cinta. Islamku adalah Islam yang takpernah menemukan kebenaran. Aku percaya Tuhan tidak akan membebani manusiadengan perintah yang tak mungkin bisa dilakukannya, yaitu menemukan kebenaran.Karena Dia sendiri yang memastikan bahwa Dia-lah pemilik kebenaran. Islamkuadalah Islam yang mencari, bukan menemukan. Kegalauanlah yang membuatkubertahan dalam pencarian. Jika aku merasa sudah benar dan tak lagi galautentulah aku akan berhenti mencari. Itu berarti aku kehilangan Islamku. Makakunikmati galau ini untuk terus mencari. Sebuah pencarian tak berujung. Inilah Islamku, teman. Akumerasa ini adalah jalan yang benar meski aku tak mengatakan jalanmu salah.Kuharap jalan yang berbeda-beda ini memiliki muara yang sama, yaitu kedamaiandi hadapan Tuhan, Sang Kebenaran Sejati. Namun jika kau dan teman-teman kitayang lain tetap menganggapku tersesat dan kafir, akan kunikmati itu sebagaiwarna dari pertemanan kita. Bukankah Imam Ali dikafirkan Khawarij karena menerimatahkim, para cendekiawan seperti Ibnu Sina dan Al Farabi dikafirkan ImamGhazali karena filsafat mereka, dan guru kita, Kiyai Dahlan dikafirkan KiyaiPenghulu Kamaludiningrat karena gagasan pembaruannya. Apakah mereka menjadihina dengan pengkafiran itu? tidak, teman. Aku tetap mencintaimu dan semua yangberbeda denganku. Karena itulah Islamku. Desa Batang Tajongkek, 20April 2013, 1.45 WIB.

Paradoks Dunia Laksmi

Diposting oleh abrar aziz

Aku ingin berbagi kisah denganmu, teman. Kisah semasa aku di Jakarta dulu. Seperti yang mungkin kau mafhum, Jakarta tak pernah tidur. Jika di waktu siang hiruk pikuk kemacetan menjadi detak jantung ibukota, maka di malam hari musiklah detak jantungnya. Kau penikmat musik, bukan? cobalah berkeliling Jakarta di malam hari. Setiap sudut kota ini akan memanjakan telingamu dengan berbagai alunan musik. Kalau kau penikmat musik dangdut dan kebetulan sedang tidak memegang banyak uang, kau bisa minum teh di pinggiran jalan Prumpung, Jatinegara. Suguhan dangdut jalanan akan membuatmu sulit menghentikan goyangan. Tapi hati-hati, disana banyak laki-laki berwujud wanita seksi yang akan menggoda imanmu. Kalau punya uang agak lebih, sebuah café kecil di pinggiran Manggarai bisa jadi pilihan. Dari café inilah cerita akan ku mulai. Sebut saja namanya Laksmi. Jika kau ingin menemuinya kau bisa berjalan kaki dari halte Busway Halimun kira-kira seratus meter ke arah selatan. Di sebelah kiri jalan, sebuah café kecil dengan lampu temaram berkedap kedip akan menyambutmu. Disinilah Laksmi bekerja. Tugasnya adalah menemani para tamu untuk sekedar minum atau bercengkrama. Atau jika ingin penghasilan yang lebih besar, layanan lebihpun harus siap diberikan. Usianya dua puluh enam tahun. Menikah di usia tujuh belas tahun dan bercerai di usia dua puluh tahun dengan satu anak laki-laki. Kondisi inilah yang membawa Laksmi meninggalkan kampungnya, Cianjur, dan mencari hidup sendirian di Jakarta. Sementara si buah hati diasuh oleh neneknya. Dan di café ini laksmi berjuang menafkahi putra tercinta. “Aku hanya menginginkan anakku menjadi anak yang pintar dan sholeh”. Ucapnya sambil memandangi temaram lampu. Di sela jarinya terselip sebatang rokok yang hampir habis. Sebuah gelas besar berdampingan dengan botol bir hitam selalu setia menemaninya. Setelah mengisap rokoknya sedalam yang dia sanggup, menghembuskan asapnya sekuat yang dia bisa, Laksmi kembali bercerita. “Jika ada kerjaan yang lebih baik tentu aku tak akan mau kerja disini. Setiap hari aku berdoa agar Tuhan memberi jalan yang lain. Tapi sampai saat ini hanya inilah pilihan yang ku punya. Sepertinya hanya jalan ini yang disediakan Tuhan untukku. Ya, aku terima saja pilihan-Nya ini”. Sulit ditebak rona wajah datar itu. Bagi Laksmi, hidup adalah perjuangan membesarkan anaknya. Dia sedari awal telah menyadari betapa besar resiko yang harus dihadapi dengan pekerjaan ini. Sebagai remaja yang lahir dan besar di tengah lingkungan yang religius, Laksmi mengerti betul ancaman siksaan akibat perbuatannya. Tapi dia rela membayar semahal itu demi membesarkan anaknya. “Biarlah aku yang dipanggang di neraka asalkan anakku bisa menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi agama”. Kalimat itu meluncur tanpa beban dari bibir tipisnya. Menjelang subuh, Laksmi pulang ke kontrakan kumuhnya dekat stasiun Manggarai dan tidak pernah lupa sholat subuh sebelum tidur. Bukan hanya subuh, sholat lainpun ternyata tak pernah ia tinggalkan. Kiriman uang untuk biaya sekolah anak tak pernah telat setiap bulan. Dari hasil “jasa kenikmatan” itulah anaknya sekolah, belajar mengaji, membeli al Quran, pakaian muslim dan buku-buku agama. Dengan bangga dia memperlihatkan foto anaknya. Seorang bocah sekitar delapan tahun berpakaian muslim lengkap dengan peci haji bergaya seadaanya. Putra kebanggaanya. Inilah dunia Laksmi, dunia yang tak pernah bisa kupahami. Pahamkah kau dunia apa yang sedang ditinggali Laksmi ini, teman? Setidaknya uang dua ratus ribu rupiah harus kau sediakan jika ingin berbincang dengan Laksmi. Ingat, hanya berbincang. Seratus ribu untuk membayar bir hitam dan rokonya, seratus ribu untuk nafkah anaknya. Tapi jika kau ingin lebih dari sekedar berbincang, kantongmu harus kau keruk lebih dalam. Ada banyak wanita seperti Laksmi di Jakarta. Perkiraanku ribuan jumlahnya. Mulai dari yang bertarif lima puluh ribu di pinggiran rel kereta Jatinegara, persis di depan LP Cipinang, atau di pinggir jalan Hayam Wuruk, ada juga di pinggir gerbang tol Kemayoran, sampai yang kelas menengah di tempat-tempat hiburan kawasan Gajah Mada atau Glodok Plaza, bahkan yang bertarif jutaan di hotel-hotel berbintang lima. Perjalananku di lanjutkan ke Utara Jakarta, tepatnya beberapa puluh meter dari Mangga Dua TownSquere. Sebelah kanan dari arah Pasar Senen. Tempatnya sangat mudah di temukan. Sebuah bangungan berlantai empat dengan empat tiang besar gaya Yunani kuno. Terlihat sepi jika kau lihat dari luar. Tapi jika kau masuk pada jam sepuluh malam sampai jam dua dini hari, suasananya ku jamin berbeda. Disana kau bias bertemu Diana. Usianya jauh lebih muda dari Lakmsi, sembilan belas tahun. Postur tubuhnya yang relatif pendek dengan rambut sebahu mempertegas usia remajanya. Tapi jika kau ingin masuk ke gedung ini persiapanmu harus lebih baik. Orang pakai sandal dilarang masuk. Pakailah sepatu. Kau harus registrasi dulu di lantai satu sebelum melanjutkan ke lantai dua, bar, ruang full musik. Sebuah raungan besar dikelililingi sofa berwarna merah. Dengan lampu kedap kedip, hentakan musik diiringi empat wanita muda yang menari meliuk-liuk di tengah ruangan akan memacu degup jantungmu. Semua minuman dan layanan lainnya akan dipesan melalui sebuah kartu pesanan yang kau terima saat registrasi tadi. Begitupun jika kau ingin bertemu Diana, kau harus memesanya dengan kartu itu. Jika kau bisa berbincang dengan Laksmi sampai subuh hanya dengan dua ratus ribu rupiah, maka kau harus merogoh kocek tiga ratus ribu rupiah agar dapat bertemu Diana untuk waktu dua jam. Itu belum termasuk minuman dan rokok. Kira-kira lima ratus ribu rupiah yang harus kau siapkan untuk sekali kunjungan. Diana adalah wanita cantik asal Subang, Jawa Barat. Sebagaimana Lakmsi, nikah di usia sangat muda dan bercerai dengan satu anak membuat dia rela menempuh perjalanan delapan jam menuju Jakarta. Anak perempuannya berusia dua tahun. Terlihat sangat cantik, seperti ibunya. Foto gadis mungil itu diperlihatkan padaku melalui BlackBarry Gemini putih miliknya. Awalnya dia tertarik ke Jakarta saat diajak temannya untuk menjadi pembantu. Ayahnya mengizinkan. “Yang penting pekerjaannya halal. Dapat uang sedikit tidak apa-apa”. Ucapnya menirukan kata-kata sang ayah. Tapi kenyataan sungguh berlainan. Panjang ceritanya hingga dia berakhir disini. Meski kepada orang tua di kampung Diana tetap mengaku bekerja ebagai pembantu. Saat ramai Diana bisa menemani sampai tiga orang tamu. Dengan deretan kamar yang tersedia di lantai tiga dan empat gedung itu, Diana bukan hanya bercengkrama di ruangan bar yang luas nan ramai, tetapi pada jam berikutnya harus menemani sang tamu ke dalam kamar mewah. Bayangkan kawan, dia bisa melayani tiga lelaki dalam satu malam. Itulah malam penuh kontradiksi dalam hidupnya. Satu sisi dia merasa jijik harus melayani para lelaki pendosa itu, di sisi lain dia bisa tersenyum karena lima ratus hingga delapan ratus ribu rupiah dapat dibawa pulang. Uang itu cukup untuk membeli banyak keperluan anak kesayangannya. Tapi jika malam sepi dan dia tidak mendapat satu orang tamupun, kontradiskipun kembali menghampirinya. Dia bersyukur tidak harus meladeni birahi para pendosa, tapi pulang dengan kecewa karena tak ada sepeser uangpun yang dia peroleh. Di akhir perbincangan kami, Diana masih antusias dengan harapannya untuk pekerjaan yang lebih baik. Tak seberapa jauh dari tempat Diana bekerja, ada sebuah hotel yang baru berdiri. Persis beberapa meter di belakang Hotel Sheraton. Dua kilometer sebelum gerbang Ancol. Di sana bekerja seorang wanita belia bernama Syerly. Tugasnya adalah memijat para tamu yang kesemuanya lelaki. “Tapi aku tak pernah benar-benar memijat mereka, aku kan ga bisa mijat. Jadi kubiarkan saja mereka yang memijatku, hahaha”. Aku tak percaya semua lara itu mampu diceritakannya dengan terawa. Meski tawa itu sama sekali tak menyembunyikan perih di hatinya. Beberapa pengunjung warung pinggir jalan tempat kami berbincangpun melihat Syerly dengan tatapan aneh. Mungkin mereka tau apa pekerjaan perempuan delapan belas tahun asal Parung, Bogor itu. Tempat kerja Sherly persis di seberang warung. Semua pertemuan itu terjadi lebih dari dua tahun lalu. Laksmi sudah kembali ke kampung halamannya dan bekerja di sebuah pabrik kecil. Aku tak tau kabar Diana, semoga dia sudah kembali ke Subang dan membesarkan gadis mungil kesayangannya. Sekarang usia anaknya sudah empat tahun. Pasti sangat cantik. Syerly entah ada dimana. Pertemuan di warung makan itu adalah pertama dan terakhir bagiku. Aku berdoa untuk wanita-wanita luar biasa ini. Aku ingat kisah seorang pelacur yang masuk surga gara-gara memberi makan seekor anjing yang kesakitan. Mereka harusnya mendapat tempat yang lebih mulia karena perjuangan mereka. Kuceritakan semua ini kepadamu, kawan. Agar kau melihat mereka tidak seperti sebagian orang melihat mereka. Mereka tampak seperti najis bagi orang-orang yang merasa pantas menilai orang lain. Di mata orang-orang “suci” ini, Laksmi dan teman-temannya adalah sampah masyarakat, pezina yang harus dirajam, atau wanita murahan. Kuharap kau tak demikian kawan. Laksmi lebih baik dari manusia-manusia “suci” itu. Pantai Gandoriah Pariaman, 14 Maret 2013. 10.40 WIP.

Pariamanku Kini

Diposting oleh abrar aziz

Disini aku lahir, disini aku besar, disini aku merasa bodoh,,, (Iwan Fals – Kotaku) Inilah kampungku, kawan. Pariaman. Sepuluh tahun lalu aku pergi meninggalkannya. Rupanya rentang waktu itu terlalu singkat untuk sebuah perubahan. Dulu, kampungku ini merupakan pelabuhan penting dalam rute dagang internasional. Sejak abad ke 15, pelabuhan Pariaman sudah dikenal oleh bangsa asing sebagai pelabuhan strategis. Catatan tertua tentang kampungku ini ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Kapal – kapal dari Gujarat setiap tahun singgah di Pariaman membawa kain untuk dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda. 21 November 1600, untuk pertama kalinya bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, dengan dua buah kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen. Tahun 1686 orang Pariaman memulai hubungan perdagangan dengan Inggris dan begitulah sampai kemudian pemerintah Hindia Belanda memusatkan semua kegiatan di Padang dengan dibukanya rute kereta api dari Padang ke Pariaman. Maka lama kelamaan pamor Pariaman memudar dan hilang sama sekali dalam panggung sejarah Minangkabau. Satu lagi, Kawan. Dan ini sangat penting. Kampungku yang berada di pesisir barat Minangkabau ini adalah pusat penyebaran agama Islam. Konon, kata Pariaman berasal dari kata “Paria”, yaitu sebuah kasta Muslim di India dan kata “Man” yang berarti laki-laki. Aku tidak tau kebenaran cerita itu. Tapi yang pasti, jika kawan berkunjung ke makam Syeikh Burhanuddin, penyebar Islam di Minangkabau, kawan akan menemukan fakta bahwa dari kampung kecilku inilah Islam diajarkan ke santero Minangkabau. Hingga kemudian terjadilah kesepakatan antara Syeikh Burhanuddin dengan Kerajaan Pagaruyung di Bukit Marapalam tahun 1668 yang melahirkan postulat Minangkabau nan terkenal itu ; Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Itulah kampungku kawan. Kampung yang dahulunya sangat religius bahkan menjadi pusat penyebaran Islam. Kenapa aku katakan dahulunya? Itulah yang ingin ku curahkan padamu. Waktu tentu tidak berhenti disini, dia terus berjalan melanjutkan detak zaman hingga akhirnya Allah benar-benar menghentikannya. Dua puluh tahun yang lalu. Ketika aku setiap pagi berangkat ke Sekolah Dasar, siangnya kami mengaji ke Sekolah Mengaji, dan malamnya kami mengaji lagi ke Surau. Itulah rutinitasku di masa kecil. Aku bersyukur karenanya. Setiap hari minggu aku dan teman-teman dengan riang gembira membersihkan Surau di kampung kami mulai dari pekarangan Surau hingga ke kuburan di belakang Surau. Itulah kami, anak-anak kampung yang di besarkan oleh Surau. Bahkan tidurpun kami jarang sekali di rumah. Lebih banyak tidur di Surau. Makanya kau jangan terlalu heran, kawan. Bagaimana mungkin aku dengan tampang berantakan tak terurus begini bisa juga sedikit-sedikit memberi ceramah layaknya seorang ustad? Itu adalah sisa-sisa didikan masa laluku, yang harus ku akui sekarang sudah banyak terlupa daripada yang teringat. Tapi tak apalah. Tetap saja harus disukuri. Jakarta memang membuat insting kebaikan menjadi tumpul, insting maksiatlah yang meruncing. Soal ini, tentu kau sudah paham, kawan. Tak perlu ku ceritakan. Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku meninggalkan kampungku ini, aroma religiusitas masih terasa. Sebelum berangkat ke Jakarta dan bertemu denganmu, aku adalah seorang guru mengaji. Eh, kau jangan kaget, kawan. Aku memang guru mengaji. Tapi itu dulu. Sebelum kau dan kotamu itu menghilangkan banyak hafalan al Quranku. Dan kini. Sepuluh tahun kemudian. Kampungku ini sudah mulai berubah, bahkan sangat berubah. Kampungku ini sudah tidak sudi lagi disebut kampung. Maunya dipanggil kota. Tapi bagiku dia tetap kampung. Meskipun dia tidak rela kupanggil demikian. Memang, sudah tidak ada lagi yang membedakan kampungku ini dengan Jakarta kecuali tugu monas dan gedung-gedung tingginya. Soal gaya hidup, kau jangan tanya kawan. Lebih metropolis, atau tepatnya lebih norak dari Jakarta. Anak-anak sekolah juga sudah menggunakan kata “loe gue” sebagai instrument komunikasi sehari-hari. Model kehidupan religius yang pernah kutemui dua puluh tahun yang lalu sudah punah, tak bersisa. Perempuan minang yang dikenal sopan dan anggun sudah jarang. Mereka digantikan gadis-gadis bernasib malang yang dikalahkan oleh obsesi mereka tentang Jakarta. Saban hari mereka mondar mandir di pinggir pantai dengan pamer paha dan dada kemana-mana. Bagiku pemandangan seperti ini biasa saja. di Jakarta ini adalah keseharianku. Tapi disini, di kampung ini, ini adalah pemandangan yang lucu. Aku kadang-kadang tertawa geli menyaksikan ulah anak-anak yang hampir tak mengenali dirinya ini. Mereka benar-benar tidak berdaya melawan arus globalisasi yang melanda bak tsunami. Mungkin zamanlah yang patut disalahkan. Dia berjalan terlalu cepat tanpa mampu dikejar oleh akal anak-anak ini. Dalam kemaksiatan kampungku ini tak mau ketinggalan dengan Jakarta. Mulai dari geng motor, narkoba, hingga prostitusi terselubungpun sudah ada di kampungku. Hebat bukan? Meskipun jumlahnya tentu tak sampai dua atau tiga. Ada lagi isu yang sama sekali tidak pernah ku dengar di masa kecilku, yaitu korupsi pejabat daerah. Sebenarnya soal korupsi ini aku tidak kaget. Di Negara ini mana ada daerah yang tidak ada kurupsinya. Desentralisasi kebijakan pasti akan menghasilkan desentralisasi korupsi pula. Itu hukum alamnya barangkali. Satu-satunya yang membuatku agak terhibur adalah jumlah Masjid dan Surau yang terus bertambah. Setiap satu desa rata-rata memiliki dua atau tiga masjid dan surau. Tapi jangan kau tanya soal aktifitasnya. Aku malu menjawabnya. Ingin rasanya aku meruntuhkan Surau-Surau tak berpenghuni itu. Sekarang, disinilah aku berdiri. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Memperbaiki? Memperbaiki apa? Atau mungkin memang seharusnya begini. Aku saja yang terlalu bodoh untuk memahami. Aku pernah mengutuk Jakarta sebagai keraknya neraka. Tapi kini, di kampung nyala api neraka sudah mulai berkobar. Entah siapa yang akan memadamkan. Aku tidak tau. Kurai Taji, Pariaman, 17 12 2012, 16.22 WIP

Siapa yang Membunuh Tuhan?

Diposting oleh abrar aziz

Dulu semasa kuliah, saya berlangganan di sebuah toko buku murah dan bisa ngutang bernama Gerak Gerik. Lokasinya di pinggir jalan Pesanggerahan persis sebelah kanan kampus UIN Jakarta. Entah sekarang toko buku itu masih ada atau tidak. Suatu hari saya menemukan buku dengan judul yang sangat provokatif. Saya lupa persis redaksi judulnya, mungkin Para Pembunuh Tuhan atau redaksi lain yang semakna. Sekarang buku itu sudah hilang entah kemana. Bagi teman yang masih menyimpan sudilah kiranya berbaik hati meminjamkan saya :). Tidak banyak yang bisa saya ingat dari buku tersebut. Yang jelas, beberapa orang telah mendeklarasikan “kematian Tuhan”. Friedrich Nietzsche adalah salah satu tokoh yang ikut dalam “deklarasi” ini. Kalau tidak salah tokoh-tokoh seperti Agustin Comte, Sigmund Freud, dan Karl Marx juga masuk rombongan. Membicarakan gagasan-gagasan orang-orang ini akan menimbulkan kerumitan tersendiri. Jadi mari kita tinggalkan mereka. Yang ingin saya urai adalah; benarkah Tuhan telah mati? kalau benar, siapa yang membunuh-Nya? Nietzsche mengatakan ; “Tuhan sudah mati… Dan kita telah membunuh-Nya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri?”. Kata “mati” atau “membunuh” pastilah tidak bermakna harfiah. Mungkin yang dia maksud adalah bahwa gagasan tentang Tuhan sudah tidak lagi mampu menjadi landasan dalam kehidupan manusia. Kata “kematian Tuhan” adalah sebuah cara untuk menyampaikan kepada manusia bahwa agama sudah tidak lagi menjadi dasar perilaku dan moral. Agama menggantung jauh di langit sementara manusia asik bekerja dan berbuat semaunya di bumi. Jika makna ini yang dimaksud Nietzsche, Cs., maka saya bersedia ikut gerombolan orang-orang ini. Tidak ada perang yang lebih mengerikan selain perang atas nama Tuhan. Perang ini sudah berlangusng berabad-abad. Di era modern ini kita tiap hari mendengar satu kelompok, atas nama Tuhan, merasa berhak membunuh kelompok lain. Para “tentara Tuhan” ini berkeliaran dimana-mana seolah-olah mereka mendapat mandat dari Tuhan untuk membunuh siapapun yang dianggap musuh-Nya. Tuhan yang sebenarnya Maha Lembut dan Penyayang mereka “bunuh” untuk kemudian menciptakan tuhan imajiner dalam ilusi mereka; tuhan yang haus darah. Setiap melancarkan aksinya, orang-orang ini berteriak menyebut kebesaran Tuhan, tapi di hatinya terpendam sifat yang bertolak berlakang dengan sifat Tuhan; kebencian, dendam, keangkuhan, dan penghinaan terhadap ke-Maha Kasih-an Tuhan. Maka saya memilih untuk menempatkan orang seperti ini dalam kategori Pembunuh Tuhan. Kategori Pembunuh Tuhan yang lain adalah; mereka yang hanya menempatkan Tuhan dalam pikirannya tapi membuang Tuhan dari hatinya. Sebagian kita gemar menghafal nama-nama, sifat-sifat, dan pujian-pujian terhadap Tuhan. Tapi kita tidak pernah benar-benar menghadirkan-Nya dalam kehidupan. Di Negara-negara Islam, atau berpenduduk mayoritas Islam, sebagaimana Indonesia, korupsi justru merajalela. Bahkan di Indoensia departemen yang mengurusi urusan Agama mendapat julukan departemen terkorup. Sebagian mereka adalah para ustadz, mubaligh, ulama, atau cendekiawan. Tentulah mereka menghafal firman-firman Tuhan jauh lebih banyak. Inilah yang saya maksud dengan menciptakan Tuhan dalam hafalan namun membunuh-Nya dalam kehidupan. Orang yang secara kasat mata terlihat paling rajin beribadah justru menunjukkan sifat-sifat jauh dari Tuhan. Dalam Islam, para ahli tasawuf mengkritk cara hidup yang hanya menempatkan Allah pada hafalan semata. Ibn `Arabi menyebutnya dengan al haq al makhluk fil i`tiqad atau “Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan”. Mestinya, menurut ahli tasawuf, Allah tidak hanya didefenisikan dalam sifat-sifat, tetapi harus dirasakan kehadiran-Nya. Saya jadi ingat cerita pendek populer karya Ali Akbar Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami. Dalam cerpen itu, Haji Saleh, yang semasa hidupnya menjadi orang yang paling rajin beribadah ternyata di akhirat mendapat tempat paling rendah dalam neraka. Di kerak neraka. Haji Saleh dalam cerita ini mewakili tipologi manusia yang menciptakan Tuhan dalam imajinasinya tapi membunuh Tuhan dalam hatinya. Terakhir. Kata “kematian Tuhan” juga ingin memberi petunjuk pada sebuah fenomena; agama sudah tidak penting lagi bagi sebagian manusia modern. Di lingkungan anda, berapa persen orang yang menjalani hidupnya berdasarkan norma agama? Berapa banyak anak-anak muda yang berlatar belakang pendidikan agama kemudian terjebak pembunuhan, pencurian, atau narkoba? Dimana mereka meletakkan Tuhan yang mereka pelajari? Pergilah ke tempat-tempat pelacuran. Tanyakan kepada wanita-wanita malang itu, tentu yang beragama Islam, apakah mereka bisa baca al Quran? Sebagian akan menjawab; Bisa!. Sebagian mereka bahkan tetap melaksanakan sholat dan puasa. Lalu dimana mereka menempatkan Tuhan?. Berapa banyak wanita-wanita yang rajin ke gereja tapi melakukan aborsi? Dimana mereka menempatkan Tuhannya?. Dan saya, anda, kita semua harus kembali bertanya; dimana kita telah menempatkan Tuhan? Sudahkah kita menempatkan-Nya dalam posisi yang seharusnya? Ataukah kita telah membunuh-Nya? Wallahu a`lam bisshowab. Simpang Basoka Kurai Taji, Pariaman Selatan. Sabtu, 3 Nopember 2012. 02.43 WIB.

Curhat Setan

Diposting oleh abrar aziz

Bagaimana jadinya jika setan sudah tidak lagi mengajak manusia ke jalan yang sesat? Bisa jadi anda akan merasa senang karena anda terselamatkan dari kesesatan? Tapi tunggu dulu, saya punya cerita tentang itu. Suatu hari di saya mampir ke sebuah musholla di Jakarta. Tidak terlalu besar memang. Tapi pada waktu maghrib biasanya musholla lebih ramai jika dibanding dengan waktu-waktu yang lain. Begitu memasuki pekarangan musholla saya menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Jika pada waktu-waktu menjelang sholat tiba, setan-setan akan sangat sibuk mengganggu manusia sejak dari tempat wudhu hingga tempat mereka sholat. Mereka dengan semangat juang tinggi tak kenal lelah akan menggoda manusia-manusia yang sedang sholat. Tapi senja ini suasananya berbeda sekali. Para setan terlihat begitu santai bahkan cenderung murung. Sebagian tidur-tiduran dalam musholla, sebagian duduk di depan pintu. Bahkan tidak sedikit yang duduk bermenung sambil mencoret-coret tanah persis seperti anak yang merajuk karena dimarahi bapaknya. Sebenarnya bagi saya ini berita baik. Orang-orang yang sedang beribadah di musholla akan lebih tenang ibadahnya karena para setan mungkin sedang dilanda masalah serius atau memang barangkali mereka sedang malas. Bosan mungkin. Berates ratus tahun mereka melakukan rutinitas yang sama tanpa henti. Jadi agak masuk akal kalau mereka hari ini agak bermalas-malas. Refreshing barangkali. Tapi tetap saja ini menjadi fenomena yang tidak biasa. Selepas sholat maghrib saya berbincang-bincang dengan beberapa jamaah sambil terus melirik setan-setan yang wajah mereka lebih menunjukkan rona sedih daripada malas. Selepas isya, setelah jamaah lain meninggalkan musholla, saya sempatkan menemui para setan ini. “Hei, ada apa ini”. Tegur saya sambil menepuk pundak setan yang paling besar di antara yang lain. Mungkin dia komandannya. “Apa hari ini kalian sedang libur?”. Komandan setan ini sepertinya tidak terlalu antusias menerima saya. “Ayolah, cerita padaku. Kenapa kalian tidak bertugas hari ini? Memang ini hari libur atau gimana?”. Saya terus mendesak. “Hmmmm,,, sepertinya kami akan kehilangan pekerjaan”. Kata komandan setan yang tingginya dua kali lipat di atas saya. “Maksudmu?. Kalian di PHK? Aku baru tahu kalau di dunia setan ada PHK!!”. “Bukan. Bukan itu”. Sambil menyandarkan badannya ke pintu musholla sang komandanpun menghisap rokoknya dalam-dalam. “Ini benar-benar di luar kendali kami”. Setelah semburan asap hitam rokoknya, mulut bertaring itu mulai lancar bercerita. “Sudah hampir seribu tahun aku dinas di divisi ini, baru kali ini aku menemukan masalah serumit ini”. “Rumit bagaimana?”. “Kau tau, dulu divisi ini merupakan divisi paling sulit dari semua divisi yang ada di dunia setan. Bagaimana tidak, mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid atau musholla adalah tugas yang sangat berat jika dibanding dengan mengajak orang berjudi, mencuri, apalagi berzina. Itu semua pekerjaan mudah. Tapi aku dan teman-teman hampir seribu tahun tetap bertahan di divisi ini karena kami sangat termotivasi dengan tantangan yang berat ini”. Mata merahnya menyala memandang ke dalam musholla. “Ok. Lalu sekarang apa masalahnya?”. Sekali lagi dia menghisap rokok dalam-dalam dan membuang asapnya sekaligus. “Aku tidak habis pikir”. Lanjutnya. “Tanpa aku ganggupun, orang-orang ini sudah tidak lagi sholat sebagaimana mestinya. Raganya sholat di sini, tapi fikirannya sudah kemana-mana. Kau lihat pak haji yang pake sorban besar tadi itu. Sedang sholat masih saja dia sempat memikirkan daftar piutang harus dia tagih. Beberapa pelanggan di toko bangunannya belakangan agak sulit dalam pelunasan hutang. Maklumlah, krisis katanya”. Saya mengangguk saja, mulai mengerti arah pembicaraannya. “Lalu kau lihat lagi ibu hajah yang pakai mukena mewah gemerencing tadi. Baru saja selesai sholat, bibir kotornya sudah bersimbah gunjingan. Ada saja kesalahan orang yang jadi bahan gunjingannya. Adalagi bapak-bapak yang baru pulang dari sini langsung ke meja judi atau ke Bandar togel. Ah, rupanya orang-orang sekarang sudah lebih setan dari setan itu sendiri”. Sekali hisapan panjang terakhir, rokok cerutu panjang itupun langsung habis hingga api menyentuh bibir komandan setan ini. “Kalau begitu baguslah. Kalian tidak perlu lagi bekerja keras. Tanpa kalian ganggupun, mereka sudah tersesat dengan sendirinya”. Saya coba menghibur mereka. “Apanya yang bagus? Kalau kami tidak bekerja, kapan pangkat kami akan naik. Sudah lima ratus tahun tanda melati tiga ini menempel di pundakku. Aku ingin segera mendapat bintang satu, perwira tinggi dalam dinas persetanan. Kalau begini terus, aku bisa pensiun hanya dengan pangkat perwira menengah. Bah,, bisa mampus aku”. “Ooow,, begitu rupanya. Kalau begitu aku beri kalian saran. Jangan dinas di Indonesia. Pergilah ke luar negeri. Ku dengar orang-orang Islam di Eropa justru lebih komitmen memegang ajaran agama mereka. Kalau kau terus-terusan bertugas di Indonesia ini, kau hanya akan bertemu dengan setan-setan berwujud manusia. Mulai dari pejabat sampai ulamanya, hanya wujudnya saja yang terlihat suci seperti manusia. Tapi dalam hati mereka jauh lebih setan dari kalian. Sampai matipun kau tak akan dapat bintang satu. Percayalah padaku”. Dan sayapun berlalu sambil meninggalkan sekelompok setan yang sepertinya sedang berpikir keras itu. Balai Kurai Taji, Kota Pariaman. 10.10.2012. 17.20 WIP

Selasa, 04 Desember 2012

Abad Kedua Muhammadiyah; Kembali ke Islam ala Protestan

Diposting oleh abrar aziz

Istilah Islam Protestan bukanlah merupakan istilah baru dalam khazanah intelektual Islam, terutama di Muhammadiyah. Saya sendiri baru mendengar istilah ini lewat tulisan seorang senior di IMM Ciputat, Sukidi, dalam sebuah artikel di harian Kompas tahun 2005 silam. Binkes, seorang pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia pada tahun 1913 mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan warga Indonesia yang memiliki tipe Calvinis layaknya reformasi Protestan abad ke 15 dan 16. Gerakan reformasi Islam Muhammadiyah sebenarnya telah lama dipandang oleh ilmuan sebagai gerakan yang paralel dengan gerakan reformasi puritan dalam sejarah Kristen. Clifford Geertz, W. F. Wertheim dan James Peacock adalah di antara ilmuan tersebut. Meski bukan istilah yang terlalu baru, tetap saja bagi sebagian warga Muhammadiyah istilah ini terdengar tidak lazim dan aneh. Sebagian barangkali menganggap istilah Islam Protestan sebagai pengaburan makna atau bahkan pelecehan terhadap Islam. Jika ada Islam Protestan tentu ada Islam Katolik. Demikian mungkin sebagian anda berkomentar. Tentu saja istilah ini bukan dalam konteks teologis, melainkan sosiologis semata. Ada banyak kesamaan antara gerakan reformasi Protestan di Eropa dengan reformasi Islam ala Muhammadiyah. Pertama, gerakan pemurnian Kristen yang dimotori Marthin Luther dan Johanes Calvin memberi tekanan yang sangat kuat kepada semangat rasionalitas keagamaan. Dalam hal berhubungan dengan Tuhan misalnya, reformasi Protestan menentang keras keharusan mediasi yang wajib melibatkan pihak ketiga, yaitu Gereja. Bagi mereka, setiap umat Kristen berhak berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa harus dimediasi oleh siapapun. Ini merupakan satu gebrakan yang luar biasa di masa itu mengingat kekuasaan Gereja yang sedemikian kuat dan berhak menentukan doktrin yang benar dan yang salah serta menjadi satu-satunya institusi yang berhak menafsirkan kehendak Tuhan. Kondisi yang hampir sama terjadi pada umat Islam di Jawa awal abad ke 20. Permohonan doa kepada Allah mestilah melalui Kiyai tertentu. Jika tidak, maka permohonan tidak akan dikabulkan. Selain itu, permohonan juga tidak akan sampai kepada Allah jika tidak disertakan sesajen yang dipercaya menjadi medium komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Muhammadiyah hadir mendobrak tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini. Semangat rasionalitas keagamaan dikobarkan dengan mengamputasi semua medium komunikasi tersebut dan mengajarkan cara berdoa yang saat itu tidak lazim, yaitu langsung berbicara kepada Allah secara pribadi. Tanpa perantara siapapun dan apapun. Kiyai dan orang biasa memiliki hak yang sama untuk berdo`a kepada-Nya. Maka sebagaimana reformasi Protestan yang mendapat perlawanan keras dari Gereja, Muhammadiyah juga harus berhadapan dengan institusi ulama yang sangat berkuasa dalam urusan ritual-ritual agama. Kedua, doktrin yang cukup terkenal dalam reformasi Protestan adalah puritanisme atau pemurnian. Doktrin ini terkenal dengan istilah sola sciptura, yaitu kembali kepada teks/Bible. Setiap umat Kristen berhak merujuk langsung kepada Bible tanpa harus terjebak pada mazhab dan tafsir-tafsir Gereja. Sekali lagi ini merontokkan dominasi Gereja atas penafsiran doktrin. Sementara Muhammadiyah secara terang-terangan meneriakkan purifikasi atau pemurnian melalui slogannya yang terkenal; arruju` ila al quran was sunnah, merujuk langsung kepada al Quran dan Sunnah Nabi. Sebagaimana purifikasi Protestan, purifikasi Muhammadiyahpun mampu menggoyang dominasi mazhab-mazhab fiqh yang selama ini dianggap mapan. Protestanisme Kristen secara radikal mampu merubah pola tanggungjawab manusia yang awalnya bisa dilimpahkan dengan mudah kepada pimpinan Gereja, menjadi tanggungjawab pribadi langsung kepada Tuhan. Demikian juga reformasi Islam Muhammadiyah. Peranan Kiyai, sesajen, kuburan suci, dan benda-benda keramat lain yang biasanya dipercaya sebagai medium komunikasi dengan Allah dikategorikan sebagai perbuatan syirik dan khurafat. Sehingga kedua gerakan ini, baik reformasi Protestan maupun Muslim puritan Muhammadiyah sama-sama meyakini bahwa kebenaran mampu dicapai secara pribadi antara individu dan Tuhannya tanpa ikut campur pihak manapun. Ketiga, dan ini suatu kebetulan yang sangat menarik. Baik reformasi Gereja maupun purifikasi Islam ala Muhammadiyah mendapat tempat yang subur di kalangan pedagang. Pada penggerak reformasi ini, menurut Binkes, memiliki tipikal yang sama; saudagar, tekun, cerdas, militan. Karakter inilah yang menjelaskan kenapa kedua gerakan ini memberi penekanan yang kuat terhadap rasionalitas keagamaan, membuat inovasi-inovasi, dan kemandirian. Usia Satu abad Tanggal 18 November 2012 merupakan titik penting perjalanan Muhammadiyah. Pada hari itu, satu abad yang lalu, Kiyai Dahlan bersama sekelompok pemuda berkumpul di langgar Kidul untuk mendirikan Muhammadiyah. Meskipun deklarasinya baru dilakukan pada malam Minggu terakhir bulan Desember 1912 di Gedung Loodge Gebauw Malioboro, Yogyakarta. Sejak itu, Muhammadiyah terus berkembang serupa bola salju. Semakin hari kian besar, semarak, dan dinamis. Dakwah melalui media dipelopori Muhammadiyah dengan mendirikan majalah Suara Muhammadiyah tahun 1915, gerakan perempuan berdiri tahun 1917. Dan gerakan pelayanan sosial yang dikenal dengan Penolong Kesengsaraan Oemom (PKO) berdiri tahun 1922. Muhammadiyah kemudian terus bergerak melintasi zaman dengan ciri reformis yang kain kentara. Deliar Noer, James Peacock, William Shepard, dan sebagian besar peneliti menyebut Muhammadiyah dengan istilah islamic modernism. Sementara Clifford Geertz, George Kahin, Robert van Neil, dan lainnya menyebut Muhammadiyah dengan gerakan sosio kultural. Pengamat lain seperti Alfian, Wertheim, dan yang lain menyebut dengan istilah islamic reformism. Hingga kini, satu abad kemudian, Muhammadiyah telah menjelma menjadi organisasi raksasa dengan jaringan dan amal usaha yang sulit dicari tandingannya. Data dari Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah menunjukkan jumlah jaringan dan amal usaha Muhammadiyah ; 4.623 TK, 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/MTs, 1.143 SMA/SMK/MA, 67 Pondok Pesantren, 172 Perguruan Tinggi, 457 Rumah Sakit/Rumah Bersalin/Klinik, 318 Panti Asuhan, 54 Panti Jompo, 82 Rehabilitasi Cacat, 71 Sekolah Luar Biasa, 6.118 Masjid, 5.080 Musholla, dan 20.945.504 M tanah. Saya tidak ingin terlibat perdebatan apakah Muhammadiyah organisai Islam terbesar pertama atau kedua di Indonesia. Jika ukurannya adalah jumlah anggota mungkin saja Muhammadiyah yang kedua atau ketiga, meski organisasi lainpun tidak punya data akurat tentang jumlah warganya. Tapi mari kita lihat penilaian objektif dari luar. Media-media di Amerika Serikat, sebagaimana sering disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin, selalu menyebut Muhammadiyah sebagai the largest reformist Islamic organization. Nurcholish Madjid memberi penilaian; jika dilihat dari sudut pandang gerakan dan amal usaha, maka Muhammadiyah bukan saja gerakan Islam terbesar di Indonesia, tapi juga di dunia Islam. Antropolog Amerika Serikat, James L. Peacock, menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam terkuat di Asia Tenggara. Bahkan `Aisyiyah, menurut Peacock, merupakan organisasi perempuan terbesar dan paling dinamis di dunia. Saya kutipkan catatan James Peacock dan Howard Federspiel ; tahun 1923 Muhammadiyah memiliki anggota 2.622 laki-laki dan 724 wanita. Tahun 1925 anggotanya berjumlah 4.000 dan mengelola 55 sekolah, dua rumah sakit, dua panti asuhan. Tahun 1930 keanggotaanya meningkat menjadi 24.000. tahun 1950 menjadi 159.000. Tahun 1963 Muhammadiyah mengelola 4.600 sekolah, termasuk pesantren dan perguruan tinggi. Tahun 1970 Muhammadiyah memiliki 2.134 cabang, lebih dari 2.500 ranting dengan total anggota 6 juta. Dan hari ini Muhammadiyah telah memiliki 33 Wilayah, 417 Daerah, 3.221 Cabang, dan 8.107 Ranting. Sebuah jumlah yang sulit dicari tandingannya. Bagaimana sekarang? Seiring berjalannya waktu, Muhammadiya terus bergerak menuju usia yang semakin menua. Selain berbagai prestasi dan kebesaran yang telah diraih, Muhammadiyah juga harus mampu berbenah agar tidak ditinggalkan oleh zaman yang bergerak semakin cepat. Banyak pengamat memberi kritik atas kelambanan Muhammadiyah dalam membaca tanda-tanda zaman. Penyakit rutinisme dan birokratisasi merupakan hal lumrah terjadi bagi organisasi setua dan sebesar Muhammadiyah. Untuk itu, memasuki abad kedua usianya, Muhammadiyah perlu meresapi kembali semangat Islam Reformis ala Protestan sebagaimana diajarkan oleh generasi awal. Watak reformis yang menjadi ciri utama Muhammadiyah harus kembali ditumbuhkan. Kejumudan dan kemandegan pemikiran maupun gerakan Muhammadiyah lebih disebabkan oleh anggapan keliru sebagian warga Muhammadiyah yang menganggap persyarikatan ini telah mapan dan tidak perlu ada perubahan. Padahal, ciri utama gerakan reformis adalah senantiasa terbuka untu perubahan. Jika Muhammadiyah ingin bertahan dalam pusaran zaman yang semakin kompleks, maka pembaharuan jilid kedua harus segera dimulai. Saya percaya akan sebuah hadits yang mengatakan setiap satu abad akan lahir seorang pembaharu. KH. Ahmad Dahlan telah melakukan tugasnya sebagai pembaharu jilid pertama bagi Muhammadiyah. Maka inilah saatnya lahir pembaharu jilid kedua, dengan tipologi yang tentu saja harus sama dengan pendahulunya; militan, cerdas, dan terbuka, sebagaimana Reformasi Protestan d Eropa. Puncak, Cianjur, 5 Desember 2012. 00.05 WIC

Sabtu, 16 Juni 2012

Diskusi Kecil di Pojok Neraka

Diposting oleh abrar aziz

Ini adalah hari pertama Surga dan Neraka mulai beroperasi. Setelah semua manusia menjalani pemeriksaan yang ketat di sebuah pengadilan besar bernama Padang Mahsyar, kini saatnya mereka memulai kehidupan baru disini. Di Surga, hari pertama terdengar sangat riuh. Orang-orang sibuk mempersiapkan diri menghadapi hari-hari baru mereka yang menyenangkan. Rumah-rumah dibangun megah dengan arsitektur bergaya eropa klasik. Pohon-pohon rindang, sungai mengalir meliuk-liuk di tengah taman. Luas area surga jauh melebihi luas bumi. Perumahan di dalamnya terdiri dari komplek-komplek yang dipisahkan oleh taman bunga dan sungai nan elok dipandang mata. Setiap komplek memiliki fasilitas pribadi dan fasilitas umum yang super komplit. Mulai dari kolam renang, jogging track, area fitness, lapangan segala olahraga, tempat karaoke, café dan berbagai fasilitas hiburan yang dijaga oleh bidadari dengan kecantikan tak berpadan di muka bumi. Dan yang paling penting, negeri surga tidak memiliki mata uang karena semua fasilitas tersebut gratis. Di hari pertama ini, akan diadakan apel akbar. Semacam upacara penyambutan yang dipimpin langsung oleh Malaikat Kepala dengan tugas dan wewenang penuh mengatur surga, Ridwan. Dilihat dari pakaian kebesaran dengan tanda pangkat bintang tiga dibahunya, dapat dipastikan bahwa Malaikat Ridwan adalah salah satu malaikat yang sangat berpengaruh. Hanya lebih rendah satu bintang dari Panglima Tertinggi Malaikat Jenderal Bintang Empat Jibril. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan kegiatan Protaperat atau Program Taaruf dan Pengenalan Akhirat. Di sini semua penghuni akan diajak saling berkenalan dan diajarkan cara menggunakan berbagai fasilitas yang ada. Jutaan malaikat berpangkat melati satu sdan dua dengan sabar dan bersemangat mengajari mereka meskipun beberapa penghuni sangat susah diajarkan. Maklum saja, kebanyakan penghuni surga adalah kaum melarat dan kampungan. Mereka semasa di dunia tidak terbiasa dengan barang mewah, apalagi barang super mewah seperti yang ada disini. Pastilah susah mengajarinya. Pada masa istirahat, beberapa panghuni berdiskusi di tengah taman yang rindang dan menebar aroma kesejukkan. “Hei, Dullah. Apa yang kau kerjakan selama di dunia hingga kau bisa masuk kesini?”. Tanya seorang penghuni berbadan tegap dan berjenggot tipis. Didahului hisapan rokok kreteknya, si Dullah menjawab “Aku juga kurang paham. Aku dilahirkan ke dunia sebagai orang melarat, menjalani hidup tujuh puluh tahun sebagai orang melarat, dan matikupun dalam keadaan melarat. Jadi tak banyak ibadah yang bisa kukerjakan kecuali yang wajib-wajib saja”. Temannya merasa heran “Jadi kau tak paham kenapa bisa masuk ke surge ini?”. “Ya, begitulah”. Kembali Dullah menghisap kreteknya. “Orang miskin seperti aku ini tidak mungkin bisa beramal banyak. Berzakat aku tidak mampu. Apalagi naik haji, tak usah kau tanya. Setiap hari aku merawat kebun orang. Setiap panen aku jual isi kebunnya dan kuserahkan semua uang hasil penjualan utuh kepada pemiliknya. Tak sedikitpun aku kurangi. Buah-buahan yang ada di kebunpun tak pernah aku memakannya meski aku tiap hari tinggal di kebun itu. Padahal kalau mau curang aku bisa saja mengambil beberapa hasil kebun dan menjualnya, toh majikanku tinggal jauh di kota besar. Aku sendirian disini. Tapi tak mungkin itu aku lakukan. Aku ini miskin, jika tidak mampu banyak beribadah dan beramal, setidaknya aku tidak terlalu banyak membuat dosa. Itu saja yang kulakukan hingga aku mati”. “Ah, kejujuranmu itulah yang mengantarmu kemari, Dullah”. Tandas temannya berseri. “Alhamdulillah, aku bersyukur karenanya. Nah, kau sendiri apa yang kau buat semasa hidup, Kasman?”. Rupanya temannya itu bernama M. Kasman. “Sama seperti kau, Dullah. Aku menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Ibadahkupun hanya yang wajib-wajib saja. Kerjaku menjala ikan di laut dan menjualnya ke pasar. Jam dua pagi aku sudah berangkat dari rumah. Malam aku baru kembali. Meskipun kulihat teman-temanku suka mengakali timbangannya supaya hasil penjualan mereka labih banyak, tapi aku tidak tertarik melakukan hal serupa. Tentulah amalanku yang sedikit ini tak akan aku rusak dengan berbuat curang dengan pembeliku”. Kasman menyerumput kopi gingseng yang baru saja disajikan seorang bidadari untuknya. Disekeliling mereka orang saling menyapa, berkumpul dan saling bercerita tentang masa hidup mereka di dunia. Ada yang semasa hidupnya menjadi tukang cukur, tukang ojek, loper Koran, namun ada juga beberapa yang berasal dari golongan kaya, pejabat, dan ulama besar meskipun jumlah mereka tidak banyak. Beberapa bidadari dan malaikat terlihat sibuk melayani setiap kebutuhan penghuni. Dari tempat mereka berkumpul, di kejauhan terlihat samar-samar sebuah lembah yang berwarna merah menyala. Luasnya kira-kira sedikit lebih besar dari taman surga. Lembah itu adalah, Neraka. Neraka. Hari pertama mulai beroperasi. Sebagaimana di surga, kegiatan diawali dengan apel akbar, dipimpin oleh malaikat yang bertugas dan berkuasa penuh mengatur neraka, Malik. Sama seperti Malaikat Ridwan, Malaikat Malik adalah satu dari sedikit Malaikat yang sangat disegani. Tiga buah bintang bertengger di masing-masing bahunya menunjukkan betapa tinggi kedudukannya. Namun berbeda dengan penampilan Malaikat Ridwan yang bersih, Malaikat Jenderal Bintang Tiga Malik tampil dengan agak semrawut dengan kumis, jenggot dan jambang dibiarkan menutupi sebagian mukanya. “Selamat datang saudaraku sekalian”. Katanya membuka sambutan. Di depannya, milyaran manusia berbaris dengan muka penuh ketegangan. “Seperti yang mungkin pernah saudaraku sekalian dengar di dunia. Tempat ini dinamakan Neraka, tempat saudaraku semua akan dibersihkan hingga pada waktunya nanti saudaraku semua boleh bergabung dengan saudara-saudara kita yang lain di surga. Saya berharap saudaraku sekalian bisa mematuhi segala peraturan yang saya tetapkan dan dapat menjalani proses pembersihan ini dengan baik. Untuk itu, selama tiga hari ke depan akan diadakan Protaperat atau Program Taaruf dan Pengenalan Akhirat. Saudaraku semua akan dipandu oleh Malaikat Petugas untuk saling bertaaruf satu sama lain serta mengenalkan bagaimana proses pembersihan dosa dan alat-alat apa yang akan digunakan. Jadi harap saudaraku semua perhatikan dengan seksama. Proses pembersihan dosa saudaraku semua akan dimulai pada hari keempat, sehari setelah kita menyelesaikan Protaperat. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, silahkan bertanya pada Malaikat Petugas yang senantiasa bersiap di sekitar saudara. Terima kasih.” Malaikat Jenderal Bintang Tiga inipun menutup sambutannya. Upacara selesai. Barisan dibubarkan. Di sela kegiatan orientasi itu, dua orang yang rupanya saling mengenal di dunia duduk berdiskusi dibawah terik matahari yang panas. “Apa rupanya yang salah dari kita ini”. Orang pertama yang bernama Haji Karim memulai pembicaraan. “Semua perintah Allah sudah kita kerjakan. Sampai-sampai tanahpun kujual agar bisa naik haji untuk ketiga kalinya. Tapi sekarang dicampakkan-Nya kita ke neraka ini”. “Ah, aku juga tak paham, Karim. Kau baru tiga kali naik haji. Aku? Selama empat periode aku jadi anggota DPR dari partai Islam Sekali, sudah sebelas kali aku naik haji. Umrah jangan kau tanya. Infak sadakah kau takkan bisa hitung. Saban hari anak yatim makan di rumahku. Apalagi yang kurang dari amalku ini?”. Lelaki bernama Ahmad inipun melenguh panjang. “Itulah, Mad. Kulihat orang-orang yang senasib dengan kita semasa hidupnya tak kurang ibadahnya. Kau lihat itu, ada Ustad kondang, pejabat sepertimu, pengusaha sukses, semua orang-orang yang selama hidup telah banyak menyumbang harta bendanya untuk amal. Rupa-rupanya kita sudah salah memahami perintah Tuhan”. Raut wajah Haji Karim menampakkan penyesalan tak terperi. Tiba-tiba suara tawa terdengar diantara mereka. Ternyata iblis sudah mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. “Haha, kalian ini terlalu bodoh memahami keagungan Allah. Mulut kalian sibuk memuji-Nya tapi hati kalian menduakan-Nya. Makanya kalian diseret ke lembah ini”. Iblis menyengir penuh cibir. “Hei,Iblis laknat. Enak sekali kau bicara. Kaulah penyebab semua ini. Kau selalu menghasut manusia untuk ikut ke jalan sesatmu. Ini semua salahmu”. Ahmad mulai meradang melihat Iblis tiba-tiba menyela diskusi mereka. “Ha? Kau menyalahkanku. Padahal kalian sendiri yang bodoh dan egois. Yang kalian pikirkan cuma surga saja. Mulut kalian berbusa-busa memuji Tuhan dengan harapan akan mendapat imbalan surga. Itu saja yang ada di benak kalian. Kalian berzakat, tapi hati orang miskin sering kalian sakiti dengan mulut besar kalian. Kepala kalian bersujud tapi hati kalian tinggi. Apa kalian tak paham, menyakiti orang miskin adalah menyakiti Tuhan. Haah, kalian memang bodoh”. Iblis tertawa terkekeh, lalu melanjutkan kata-katanya. “Kau menyalahkanku karena hasutanku telah membuat kalian tersesat. Lalu atas kehendak siapa aku bisa menghasut kalian? Bukankah Tuhanmu yang memberiku kuasa untuk menghasut? Kenapa tidak kau salahkan saja Tuhan?”. “Hei, sombong sekali bicaramu berani menyalahkan Tuhan. Kaulah penyebab semua orang yang ada disini bernasib malang. Kau tipu semua orang dengan kemewahan dunia. Sekarang kau tertawa karena kami semua termakan tipu dayamu”. Haji Karim menumpahkan kemarahannya. Iblis kembali mengumbar tawa “Hahaha, kau lupa ya, Pak Haji. Allah telah memberi jaminan bagi orang-orang yang imannya teguh tidak akan mampu aku rayu. Orang yang ikhlas beribadah tanpa mengharap imbalan apa-apa tidak mungkin aku tembus keteguhan hatinya. Aku hanya bisa menggoda orang-orang yang hatinya tidak tulus. Memuji-muji Allah bukan karena cinta kepada-Nya tapi karena tergiur iming-iming surga. Kau pikir Tuhan mabuk pujian dan gila disembah. Aku tidak perlu memperdayamu. Keegoisaanmu telah menyeretmu kesini”. Iblis menatap bergantian kedua orang yang duduk termangu itu. “Jangan kalian pikir aku diusir dari surga itu benar-benar karena keingkaranku melawan Allah. Mana berani aku melawan perintah-Nya. Ribuan tahun aku habiskan waktuku untuk bersembah sujud kepada-Nya, tak akan kusia-siakan semua itu hanya demi egoku yang merasa lebih baik dari Adam. Kau tau, aku memang harus memainkan peran keburukan itu. Itu memang tugasku, Kawan. Musa tak akan mampu menunjukkan tanda-tanda kenabiannya jika aku tidak menyeret Firaun dalam lubang kesombongan. Apa artinya perjuangan Ibrahim tanpa kejahatan Namrud. Semua sudah diatur oleh Allah. Aku harus memainkan peranku agar terlihat jelas perbedaan mana emas mana tembaga. Bukankah Allah sudah mengatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang teguh imannya tak akan sanggup aku rayu. Itu berarti bukan aku yang merusak hidup kalian. Tapi kalianlah yang membuka pintu kerusakan itu. Di setiap ada kebaikan aku harus mengambil tempat keburukan. Hitam adalah penting agar putih terlihat lebih jelas. Jadi sekarang kau jangan menyalahkanku. Semua siksaan yang akan kau jalani nanti adalah akibat dari kebodohan dan keegoisanmu. Kau tanggunglah sendiri akibatnya. Hahahaha”. Sang Iblis berlalu dari hadapan dua orang yang terperangah menyadari kebodohannya itu.

Senin, 30 April 2012

Kontras

Diposting oleh abrar aziz

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kontras memiliki makna ; memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila dibandingkan. Jika anda mengambil kertas putih yang kosong lalu mencoretkan cat berwarna hitam pekat di atasnya maka akan terlihat jelas perbedaan antara kertas putih dan cat yang berwarna hitam. Kontras juga bisa kita pahami dalam konteks keadaan. Misalkan ketika anda melihat sebuah rumah mewah seharga sepuluh milyar berdampingan dengan gubuk kumuh yang terbuat dari kayu, maka anda akan bersepakat dengan saya bahwa itu adalah pemandangan yang kontras. Kontras dalam konteks keadaan inilah yang sehari-hari menjadi pemandangan lazim di negeri kita. Bahwa harga mobil seorang menteri yang mencapai satu koma tiga milyar adalah kontras jika dibandingkan dengan ratusan pengungsi bencana yang belum punya tempat tinggal permanen. Bahwa tunjangan perumahan anggota DPR senilai lima belas juta perbulan adalah kontras dengan gaji guru honorer dikampung saya, dua ratus lima puluh ribu rupiah perbulan. Suatu hari daerah saya kedatangan Bapak Presiden. Betapa bangganya para pejabat daerah di tempat saya. Jauh hari semua telah disiapkan matang-matang. Kunjungan RI 1 ini benar-benar spesial bagi pejabat daerah. Tapi sejauh yang saya perhatikan tidak semua rakyat antusias dengan kunjungan itu. Beberapa tetap turun ke sawah, sebagian ke sungai mengeruk pasir, sebagian tetap melaut, sebagian tetap berdagang di pasar. Sepertinya tidak terpengaruh dengan kunjungan pak Jenderal itu. Apakah sikap pejabat daerah dan rakyatnya ini bisa kita sebut kontras? Silahkan anda jawab. Bukan hanya tidak disambut antusias oleh rakyat kecil, kunjungan ini juga mendatangkan sumpah serapah bagi sebagian orang. Saya dan beberapa pengguna jalan harus rela menunggu berjam-jam karena jalan yang biasa kami gunakan harus ditutup sementara karena akan dilewati pak Presiden beberapa jam kemudian. Seorang bapak disamping saya tidak dapat menyembunyikan serapahnya kepada sang Presiden. Sepertinya dia sedang buru-buru mengerjakan suatu hal penting. Seorang bapak yang lain tak kalah seru mengumbar umpatannya karena hari ini pasti dia akan terlambat membuka warung nasinya. Di sebuah rumah seorang ibu juga kesulitan menahan umpatan karena bayinya yang baru berusia satu tahun tidak bisa tidur akibat suara sirine mobil polisi yang terus meraung-raung. Apakah ini juga bisa kita sebut kontras? Kepentingan rakyat banyak harus tersingkirkan demi kenyaman seseorang yang belum jelas apa manfaat dari kunjungannya itu? Bagi saya ini kontras. Menurut saya masih ada kontras yang lain dalam kasus kedatanga bapak Presiden ke daerah saya ini. Yaitu antara mental pejabat dengan rakyatnya. Bagi sebagian rakyat kecil, kedatangaan Presiden tidak berarti apa-apa. Menurut mereka melaut jauh lebih penting, turun ke sawah atau berjualan di pasar lebih bermanfaat daripada mengurusi orang yang jelas-jelas menyusahkan mereka dalam beberapa jam terakhir. Namun bagi pejabat daerah kunjungan ini sangat penting. Mereka bisa memamerkan keberhasilannya dalam membangun daerah, siapa tau nanti dengan kesan berhasil membangun daerah ini dana bantuan dari pusat bisa mengalir deras agar bisa dikorupsi lagi. Untuk kepentingan itu, ceritapun ditambah-tambahkan supaya bapak Presiden semakin terkesan. Mental pelabat yang inlander versus mental rakyat yang merdeka. Kontras. Desa Batang Tajongkek, Kec. Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Jum`at, 27 April 2012 pukul 00.10 WIB

Sahabat Dari Negeri Setan

Diposting oleh abrar aziz

Senja itu, selepas maghrib saya duduk santai di saung yang saya bangun dekat kolam ikan peliharaan, sambil menikmati secangkir kopi pahit. Setelah seharian mengurusi ikan mas yang sebentar lagi akan kami panen, duduk melamun di tengah kesunyian kampung adalah kenikmatan tersendiri. Di kampung kami, selepas senja desa ini seperti desa mati. Hampir tak ada yang mau keluar rumah kecuali beberapa anak-anak yang belajar mengaji di mushalla. Seperti senja-senja sebelumnya, pikiran saya selalu melayang jauh ke masa depan. Kira-kira dua ratus tahun yang akan datang. Dalam bayangan saya, Republik Indonesia yang sangat saya cintai ini sudah terpecah menjadi belasan negara baru. Beberapa negara mengalami kemajuan signifikan, sementara sebagian lainnya masih tetap miskin, bahkan lebih miskin dari yang saya saksikan sekarang. Jakarta, yang menjadi simbol kepongahan dan keserakahan di masa kini, sudah tidak ada lagi dalam daftar nama-nama negara bekas Republik Indonesia. Jakarta sudah hancur lebur karena kesombongannya sendiri. Beberapa negara di timur Indonesia mengalami kemajuan cukup pesat. Hasil kekayaan alamnya bisa mereka kelola dan nikmati sendiri. Tidak lagi dihisap oleh lintah-lintah yang ada di Jakarta. Satu tepukan di punggung mengagetkan saya dari lamunan. Sesosok tubuh hitam dan tinggi tiba-tiba sudah berdiri di depan saya. “Di sini kau rupanya. Sudah gemuk kau sekarang”. Dia duduk disamping saya sembari menyambar kopi yang sudah hampir dingin. Terakhir saya bertemu teman ini sekitar satu tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di Jakarta. Saat itu saya masih menjadi aktivis partai politik yang dekat penguasa di negeri ini. “Yaa,, sepertinya kampung ini lebih cocok buatku daripada Jakarta. Kemana saja kau baru kelihatan?”. Saya perhatikan sosoknya sama sekali tidak berubah. Seluruh tubuhnya hitam, sorot matanya merah menyala, bau busuk meskipun saya sudah terbiasa. Suaranya yang berat menambah kesan seram teman saya ini. Dia berasal dari sebuah negeri yang tidak pernah ada dalam peta dunia, Negeri Setan. “Ada urusan yang harus ku selesaikan di negeriku. Kan dari dulu sudah kubilang. Umar, kau tidak usahlah tinggal di Jakarta. Kau terlalu lurus. Apalagi masuk partai yang itu. Rusak kau dibuatnya”. Matanya yang merah menyala mondar-mandir kiri kanan seperti sedang menikmati suasana alam kampung ini. “Hehehe,, sudahlah. Tak usah kau bahas soal-soal yang dulu itu. Sudah ku buang jauh-jauh dari memoriku. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar pada saat aku mati negara ini masih utuh sebagai NKRI”. Saya sudah malas mendiskusikan soal-soal politik yang dulu selalu menjadi tema pokok diskusi kami. “Sekarang aku sudah cukup tenang dengan apa yang aku miliki. Meskipun dengan segala keterbatasan, tapi semua ini milikku. Hasil keringatku. Kau lihat kolam itu, sepuluh ribu ikan mas ini alhamdulillah cukup untuk menghidupiku sekeluarga”. Sesaat pikiran saya melayang ke belakang, beberapa tahun yang lalu. Di Jakarta, saya memiliki lebih dari cukup fasilitas hidup. Rumah, mobil, dana operasional, sudah disiapkan oleh ketua partai. Tak sedetikpun waktu yang terlewat kecuali kemewahan. Tugas saya adalah membangun opini bahwa ketua kami merupakan sosok yang sangat mencintai rakyatnya, politisi berbudi luhur, dan negarawan berakhlak tanpa cela. Membela nama baiknya dari serangan musuh-musuh politik adalah kesibukan saya sehari-hari. Namun lama-lama akal sehat saya mulai gerah dengan cara hidup seperti itu. Di depan publik, orang yang memberi fasilitas hidup kepada saya seolah seperti dewa yang tinggi budi dan luhur akhlak. Tapi di belakang, saya tau persis bagaimana keserakahannya terhadap kekuasaan. Dan saya harus tetap membelanya sebagai orang berhati mulia. Akal budi ini benar-benar tak bisa menerima. Saya seperti hidup bercermin bangkai. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Saya adalah orang merdeka yang terjajah, dan itu berlawanan dengan akal sehat. Maka saya putuskan melepas semuanya dan kembali ke kampung halaman. Orang tua di kampung kami sering berkata; lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. “Keputusanmu sudah tepat, kawan. Dari dulu kan sudah ku sarankan agar kau tidak usah ikut-ikut politik. Hanya ada beberapa orang saja yang bisa tetap waras di tengah hiruk pikuk politik yang semakin edan ini. Ku ramalkan, satu abad lagi negaramu ini akan terpecah berkeping-keping. Beruntunglah kau, saat itu terjadi kau sudah mati berkalang tanah, hahahaha”. Dia terkekeh sambil menepuk pundak saya berulang ulang “Ah, kau jangan sok tau. Masih banyak anak-anak bangsa ini yang gigih membela akal sehat dan nuraninya. Selama mereka masih ada, NKRI tak akan bubar. Aku yakin itu”. Saya masih berusaha membela negara ini meskipun bayangan saya tentang masa depan tidak jauh berbeda dangan ramalan sahabat saya ini. “Ckckck,, masih bisa kau bersilat kata,Umar. Ku tanya sekarang, kemana orang-orang sepertimu? Yang mengaku-ngaku membela akal sehat? Semua sudah menyingkir atau tersingkir satu-persatu. Akal sehat sudah dikalahkan nafsu kekuasaan. Dan nafsu itulah yang sekarang sedang mengendalikan negara tercintamu ini. Masih kau pelihara kayakinan naifmu itu?”. Matanya yang menyala menghujam lurus, tepat ke bola mata saya. Saya sepenuhnya menerima argumentasi itu, tapi saya masih ingin membangun secuil optimisme. “Aku masih yakin setiap satu abad pembaharuan akan terjadi. Jika abad yang lalu rahim nusantara ini telah melahirkan Tan Malaka, Sukarno, Muhammd Hatta, Sudirman, dan para pejuang lainnya, maka abad ini rahim yang sama akan melahirkan generasi baru yang akan menahkodai NKRI ini menuju arah yang benar”. Saya meyakinkan hati dengan argumentasi yang baru saja saya lontarkan. Jauh dari kedalamannya, hati ini menolak argumen yang lebih terkesan magis itu. “Huahahahaha,,,,,”. Gelegar suara tawa teman saya dari bangsa setan ini tiba-tiba menggema memecah kesunyian kampung. “Woi, Setan. Pelankan tawamu. Satu kampung bisa ketakutan mendengarnya”. Saya perhatikan sekeliling saung untuk memastikan tidak warga sekitar yang berlari keluar rumah karena mendengar suara tawa yang angker itu. “Lupa kau dengan siapa kau bicara?”. Jawabnya mengingatkan bahwa hanya saya manusia yang bisa melihat dan mendengar suaranya di kampung ini. “O, iya. Aku lupa. Sudah lama aku tak mendengar setan tertawa. Hahaha... Jadi, bagian mana dari kata-kataku yang kau anggap lucu?”. Saya membenarkan posisi duduk sambil menyeruput kopi yang sudah hampir habis diminum kawan lain bangsa ini. “Ternyata lama hidup di kampung membuat otakmu sudah mulai tumpul, kawan. Tak seencer dulu waktu kau membela mati-matian bosmu yang serakah itu”. Sahabat saya ini juga membetulkan posisi duduknya. Satu-satunya goreng pisang yang tersisa di piring saya pun langsung disambarnya. “Kau tau, Umar”. Mukanya sedikit lebih serius. “Aku sudah hidup sejak ribuan tahun lalu. Aku menyaksikan bagaimana gurumu, Aristoteles, dengan sabar mengajarkan ilmu logika dan ketatanegaraan kepada Iskandar Agung. Di depan mataku Socrates bercerita panjang tentang tugas-tugas pemimpin. Fir`aun di ujung kesombongannya menggelapar dalam dekapan laut merah menunggu kematian. Aku saksikan nabimu, Muhammad, mengajarkan kebajikan dan keluhuran budi kepada seluruh umat. Tak satupun kejadian penting di alam raya ini yang luput dari pantauanku”. Sejenak teman saya ini memandang lurus ke dalam kolam seolah sedang memastikan jumlah ikan mas yang ada di dalamnya. Diam sesaat. “Dan kau tentu tau, kawan”. Masih dengan nadanya yang serius. “Aku menyaksikan betapa Tan Malaka, yang kau sebut telah dilahirkan rahim nusantara ini sebagai pejuang, harus merelakan hampir seluruh kemerdekaan fisiknya demi membela kemerdekaan tanah airnya. Aku berada di hutan yang sama ketika Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit keras memimpin perang fisik dari atas tandu. Aku berada diantara Sukarno dan Bung Hatta ketika mereka serius dan bersungguh-sungguh membicarakan segala sesuatu tentang negeramu ini. Tak sedikitpun terlintas di benak mereka untuk memperaya diri apalagi merekayasa opini publik demi popularitas. Aku berada di rumah Bung Hatta saat kulihat temanku malaikat maut, berjalan tegap mendekati tubuhnya. Kau tau apa yang diwariskan seorang wakil presiden, kawan? Sebuah kacamata dan tumpukkan buku”. Saya hanya menunggu teman saya ini meneruskan pembicaraanya. Sudah hampir saya pastikan kemana ujung dari celotehannya itu, dan benar saja. “Lalu mereka itu yang mau kau banding-bandingkan dengan pemimpin sekarang? Apalagi ketua partaimu itu?. Hah!!!”. “Dia sudah bukan siapa-siapaku!!”. Agak malas saya memprotes. Saya pasrah saja menerima kekalahan yang sudah saya prediksi sejak awal. Setan bertubuh dua kali lebih tinggi dari saya ini melanjutkan ocehannya. “Di atas mimbar mereka berpidato dengan teks tersusun rapi tentang program-program yang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat. Seolah-olah mereka dilahirkan sebagai seorang negarawan yang visioner dan serius memikirkan masa depan bangsa ini. Tapi asal kau tau, Umar. Di belakang mimbar itu, diruang-ruang pertemuan yang mewah itu, di mobil-mobil berharga miliyaran itu, mereka sangat serius dan antusias membagi-bagikan proyek pada sanak keluarga, mencari-cari celah membohongi rakyat agar dipercaya pada pemilu berikutnya, mengutak-atik uang rakyat agar bisa dikeruk sebanyak-banyaknya, menentukan siapa saja lawan yang potensial merusak jalan menuju kekuasaan sekaligus membicarakan strategi untuk menjegalnya. Semua diskusi itu berjalan dengan sangat bergairah. Itu yang mau kau sebut pejuang pembaharu abad ini? Sudah mulai terganggu akal sehatmu, kawan”. Tatapan matanya jelas sekali bermakna cibiran terhadap pandangan saya. Sesegara mungkin saya ingin menutup tema pembicaraan kami. Sejak awal saya tidak tertarik dengan tema diskusi ini. Pandangan yang disampaikan sahabat saya ini sebetulnya hanyalah mengulang-ngulang pandangan yang ada dalam benak saya. “Yaa,,, sudahlah kawan. Sudah ku bilang aku tidak tertarik lagi mendiskusikan soal-soal seperti ini. Aku hanya mencoba menegakkan sejumput harapan di tengah samudera pesimisme yang menghantui anak-anak bangsaku. Tuhan akan memberi keputusan paling adil terhadap negaraku ini”. Saya berusaha menutup diskusi yang tak berguna itu. “Hahaha... ternyata taubatmu benar-benar serius, kawan”. Lagi-lagi tangannya menepuk pundak saya sambil beranjak dari tempat duduknya. Selanjutnya kami bertukar cerita panjang lebar. Mengenang pertemanan kami selama di Jakarta. Sampai dia berdiri sambil menatap ke langit. Malam telah jauh meninggalkan senja. “Aku harus pergi dulu, kawan”. Ucapnya sambil terus memandang berkeliling. Alam pedesaan kampung ini berhasil menyita perhatiannya. “Sering-seringlah kau jenguk temanmu ini. Minggu depan insya Allah aku panen. Mampirlah kau jika ada waktu. Kau boleh bakar ikanku sepuasnya”. Sayapun bangkit berdiri sambil berkemas untuk pulang. “Ya, tentu saja aku akan sering mengujungimu. Minggu depan ku ajak istriku kesini. Kau belum kenal kan?”. “Wah, itu lebih baik. Asal jangan kau kenalkan dia dengan istriku, bisa mati berdiri dia. Hahahaha,,,”. Tawa itu mengakhiri perjumpaan kami. Sekejap saja dia sudah lenyap dari pandangan saya. Sayapun bergegas. Tiba-tiba terdengar lagi suaranya dari kejauhan “O iya, salam dari Fitri. Pacarmu yang sering kau ajak kencan di monas dulu. Aku berhasil merayu kawan separtaimu dulu untuk memacarinya. Sekarang dia hamil tiga bulan. Hahaha”.... Suaranya menyisakan gema. “Ah, dasar kau. Setan”. Desa Batang Tajongkek, Kota Pariaman 22 April 2012  

Surat Galau Untuk Tuhan (SGUT)

Diposting oleh abrar aziz

Pengirim : Karin Novianty, Jakarta. Dear Tuhan… Gue ga tau mau mulai curhatan gue darimana. Yang gue tau dari guru al Islam gue di sekolah, Kamu Maha Tau. Jadi kalo gue ga ceritapun Kamu pasti sudah tau kan, Tuhan? Tapi gue harus cerita, Tuhan. Galau banget nih gue. Gue ga tau harus cerita ke siapa? Gue takut. Kalau cerita ke mama pasti dimarahin. Kamu kan tau Tuhan, keluarga gue pada rajin solat, rajin ngaji, gue doang yang males. Kalau sama Kamu kan ga mungkin kena marah. Kata Pak Mufti, Tuhan itu Maha Penyayang. Benar kan? Gue putus lagi, Tuhan. Rizki yang katanya cinta mati sama gue ternyata punya selingkuhan. Itu lho, si Laura, anak IPS II yang genit itu. Ga cantik-cantik amat padahal. Ini udah yang kelima gue putus, Tuhan. Teryata semua cowok itu sama aja. Ga Rendy, Lutfi, Redi, Rahmat, dan terakhir Rizki. Semua sama. Pembohong. Waktu Rendy bilang cinta ke gue empat tahun lalu, gue bahagia banget tuh. Katanya apapun yang terjadi dia ga bakal ninggalin gue. Dan gue percaya. Percaya banget malah. Tapi apaan, dia tinggalin gue gitu aja. Padahal semua maunya dia udah gue kasih. Dialah cowo pertama yang nyium bibir gue. Gue udah nolak pas malam waktu dia nyium gue itu. Kan gue sekolah Islam, pake jilbab. Apa kata orang kalau liat gue ciuman sama cowok. Tapi katanya ini bukti cinta kita. Gue percaya aja. Dan seperti Kamu saksikan sendiri, Tuhan, kami melakukannya. Awalnya gue nyesal. Tapi ya gimana? Gue cinta sama dia. Ya gue serahin aja apa yang dia minta. Lagian, jujur aja nih, gue ngerasain enaknya juga. Tapi dia ninggalin gue gitu aja setelah empat bulan kita jadian. Gue ga tau deh alasannya apa. Katanya sih kita udah ga seprinsip atau apalah, ga paham gue. Gue kan masih SMP waktu itu, mana tau gue prinsip-prinsip. Trus waktu SMA, gue pacaran lagi sama Lutfi, baik sih anaknya. Pinter ngaji. Tapi lama-lama ya sama aja, gue diputusin setelah hampir setahun kita jadian. Ga tau deh udah berapa kali kita ngelakuin yang begituan. Ga sempet gue ngitungnya. Sampai yang terakhir ini, Rizki. Tampang doang alim, pake jenggot. Ternyata cuma manfaatin kecantikan gue doang. Pake bawa-bawa nama Kamu lagi, Tuhan. Gue masih ingat banget tuh pas dia ngajak gue “begituan”. Dia bilang “Rin, demi Allah kakak akan mencintai kamu selamanya”. Begonya gue percaya aja. Habisnya dia alim sih, sekarang aja dia kuliah di kampus Islam, ya dakwah dakwah gitu katanya. Mama juga suka banget sama dia. Padahal otaknya mah sama aja, mesum. Trus sekarang gue harus gimana,Tuhan. Gue cape kaya gini terus. Hidup gue rasanya gelap banget. Habisnya pak Mufti nakut-nakutin terus soal dosa. Katanya orang yang berdosa itu masuk neraka. Ntar di neraka mereka akan Kamu siksa, Tuhan. Katanya ada yang dibakar hidup-hidup, ada juga yang dipaksa minum air mendidih, trus ada juga tuh katanya disuruh pake sandal dari bara api. Gue sih ga percaya. Masa Tuhan yang Maha Penyayang kejam kaya gitu. Iya kan Tuhan? Tapi kata pak Mufti itu beneran. Katanya Kamu sendiri yang bilang kaya gitu. Emang bener ya, Tuhan? Bingung gue. Gue ga ngerti dosa itu apaan. Apalagi kalau pak Mufti ngomongin sariat, moral, akhlak, aaaakh pusing gue. Makanya PR ga pernah gue kerjain. Dosa itu apa sih, Tuhan? Rizki yang alim dan hafal banyak ayat-ayat itu sering nyium and ngeraba-raba gue. Bahkan “begtuan” juga sering dia ngajak. Padahal kata pak Mufti itu dosa, dosa besar. Tapi pas gue tanya ke rizki katanya kalau cinta ga apa-apa. Emang sih gue cinta sama dia, makanya gue mau-mau aja. Apa kalo orang yang tau ayat-ayat kalau ngelakuin begituan ga dosa ya? Trus gue dosa dong kalau ngelakuin itu? Gue kan ga tau ayat-ayat. Jadi gue harus belajar ayat-ayat dulu biar ga dosa? Duh, gimana sih ini? Makin mumet. Mumet tingak dewa gue. Trus kata mama, gue harus menjaga kehormatan gue, tepatnya kata mama keperawanan gue. Lagi-lagi kata mama Kamu juga yang suruh dalam al Quran kalau wanita itu harus hati-hati menjaga kehormatan. Tapi gue liat anak-anak yang lain ga peduli tuh sama keperawanannya. Liat aja Nisa, jilbabnya gede banget kan tuh. Ampe gue bingung dia pake jilbab apa mukena? Gede banget soalnya. Tapi kalau pacaran naujubileh deh. Gue pernah mergokin dia “begituan” di belakang mushola sekolah. Yang lain apalagi, Marisa, Aurel, Fina, Hanny, hahh. Sama aja, sekolah doang Islam. Soal pacaran mah sama-sama juga. Makanya gue bingung nih, Tuhan. Maksudnya jaga kehormatan itu apaan? Kalo kita “begituan” sama orang yang kita cinta kan ga apa-apa. Jangan kaya si Friska, masa cuma gara-gara pengen BB Torch dia mau begituan sama pak Helmy, guru Bahasa Inggris yang udah berumur itu. Apaan. Gue mah ogah. Dikasih mobil juga gue ga bakal mau. Jijik gue. Itu ga jaga kehotmatan banget. Gara-gara duit mau ditidurin. Kalau gue kan karna cinta. Tapi gue kadang-kadang ngerasa jijik juga sama diri gue sendiri kalo inget semua kejadian-kejadian itu. Makanya gue curhat sama Kamu, Tuhan. Kata pak Mutfi satu-satunya cara keluar dari galau adalah mengadu pada-Mu. Makanya gue tulis surat ini. Please Tuhan, gue harus gimana nih? kamu tau kan, sii Ramdan ngejar-ngejar gue mulu, kata Afif sih dia bakal nembak gue. Gimana dong Tuhan? Terima ga? Sebenarnya gue males pacaran lagi. Jijik gue sama cowok. Tapi kan anak-anak pada punya pacar, masa gue ga. Gue kan baru tujuh belas tahun. Apa kata dunia kalau Karin ga punya cowok? Kalau gue sih pengennya ga usah terima. Ilfil banget bangetan gue ama cowok sekarang. Apalagi yang alim-alim kaya Ramdan. Paling dia ga jauh-jauh modelnya sama Rizky. Ngejar gue cuma pengen “itu” doang. Tolong yakinin gue ya, Tuhan. Katanya minggu-minggu ini dia mau nembak. Kamu harus bantuin gue. Sebenarnya sih gue malu juga sama anak-anak kalau ga punya cowok. Tapi bodo amatlah, gue udah jijik pacaran lagi. Mau diejekin anak-anak ga apa-apa deh. Ya, Tuhan , ya. Bantuin. Gue mau tuh hidup kaya yang dibilang mama. Kata mama hidup akan penuh ketenangan kalau kita dekat dengan Kamu, Tuhan. Jauh dari dosa-dosa. Sumpah Tuhan. Gue pengen banget hidup tenang. Ga galau kaya gini. Tapi ga tau gue gimana memulainya. Pokoknya Kamu harus bantuin gue. Kan Kamu udah janji dalam ayat-ayat-Mu. Pak Mufti bilang Kamu janji bakal menuhin doa hamba-Mu. Kamu juga bilang kalo Kamu dekat banget sama hamba-Mu. Gue kan hamba-Mu, Tuhan. Ya walaupun jarang solat tapi kan gue tetap hamba-Mu. Ntar deh gue janji bakal rajin solat kaya mama. Gue bakal belajar ngaji juga sama pak Mufti. Janji deh gue. Ok, Tuhan? Deal Ya!! Ya udah gue mau bobo dulu ya, Tuhan. Udah malem. Ntar mama marah lagi kalo tau gue masih melek jam segini. Jangan lupa besok subuh bangunin gue. Gue usahain solat subuh deh. Tapi bangunin, kalo ketiduran ya ga jadi. Eh sebelum gue tutup gue kasih pantun dulu deh… empat kali empat enam sama dengan enam belas, sempat ga sempat tolong dibalas. Sekian surat gue, Tuhan Karin Novianty Hamba-Mu Menara 62, 28 11 2011. 03.45 WIB. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah 186)

Sabtu, 04 Juni 2011

JATUH CINTA

Diposting oleh abrar aziz

Jatuh cinta. Tentulah teman pernah merasakannya. Saya juga pernah, teman. Dulu waktu saya masih tinggal di kampung halaman. Bertahun-tahun yang lalu. Itu yang pertama. Dan yang kedua, sekarang. Kalau teman merasa senang dengan cerita cinta-cinta. Baiknya teman teruskan membaca. Tapi jika teman tidak suka, baca jugalah. Kasian, saya sudah capai juga menulisnya. Saya ceritakan dulu lah baiknya kisah cinta zaman dahulu itu.

Kampung kami berada di pesisir pantai sebalah barat pulau Sumatera. Bukan kampung kaya, memang. Waktu itu, sekitar tahun 80-an akhir. Ketika saya masih SMP. Bukan bermaksud tinggi hati teman. Tapi rasa-rasanya rupa saya tidak terlalu buruk. Jika saya diizinkan memberi nilai muka saya ini. Kira-kira angka tujuh setengah bisa juga saya dapatkan. Atau kalau teman ingin menilainya juga, silahkan. Asalkan nilainya jangan kurang dari itu.

Ramlah nama perempuan itu. Pandai sekali dia mengaji. Kalau sudah dia yang mengaji di surau, orang-orang yang sedang main domino di lapau pun akan tertegun karena keindahan suaranya. Kalau soal rupa, nilai tujuhlah kira-kira. Apalagi kalau melihat siapa bapaknya, Haji Munir, pemilik kebun kelapa terluas di kampung kami. Bujang mana yang tidak jatuh hati padanya. Keningnya jilah umpama landasan pacu lapangan terbang. Matanya bulat bak buah kapundung. Bibirnya tebal bagai ruas limau purut. Dagunya lonjong laksana sarang lebah. Ah, berdosa nanti kalau kita teruskan. Nanti teman tak bias tidur dibuatnya.

Sebenarnya ada juga gadis yang senang dengan saya. Julia namanya. Nama aslinya Yulinar. Tapi katanya nama itu kurang modern. Maka di gantilah namanya jadi Julia. Dia berteman akrab dengan Rosa. Kalau yang ini nama aslinya Rosmaini, tapi seperti si Yulinar, dia tidak senang dengan namanya yang kampung itu. Julia sudah terang-terang mengatakan rasa senangnya pada saya. Tapi saya enggan dekat-dekat dengannya. Pasalnya bedaknya terlalu tebal. Tambah lagi rambutnya saban hari dikasih minyak kemiri punya ibunya. Tak tahan hidung saya dibuatnya.

Jadilah saya satu dari sekian bujang yang menaruh hati pada Ramlah. Dia satu kelas dengan saya, kelas tiga SMP. Agak pintar dia kalau sudah soal hitung-hitung, tapi agak lemah menghafal. Tak satupun jantan di kelas itu yang tak suka padanya. Tapi saya sedikit beruntung. Pelajaran agama dan soal-soal hafalan agak saya kuasai sedikit. Kalau jantan-jantan yang lain, tak ada kepandaiannya selain bagadele atau bercerita besar. Si Pendi misalnya, setiap hari dia bercerita tentang ayahnya yang pulang pergi ke Jawa. Padahal saya lihat ayahnya hilir mudik saja di kampung membawa pedati. Atau si Miral, tak ada kepandaiannya selain berkoar kalau dia sering melihat hantu. Pernah dia melihat, katanya, hantu yang menari-nari di belakang rumahnya. Begitu dia membuka pintu, hantu itu lari tunggang langgang. Besar sekali mulutnya. Padahal semua orang, kalau pulang mengaji sudah lewat jam sepuluh, pastilah dia akan ikut tidur di surau bersama guru mengaji karena dia tak akan berani jalan sendiri ke rumahnya yang harus melewati kuburan. Itulah bujang-bujang di kelas saya. Saya kadang-kadang hobi juga bagadele, sedikit-sedikit saja. Tapi karena ayah saya guru agama, kepandaiannya turun juga pada saya, walaupun tidak banyak.

Pendek cerita, disebabkan alasan sering belajar bersama itulah mulai ada rasa-rasa senang diantara kami berdua. Panjang ceritanya kalau saya kisahkan semua. Tapi akhirnya kami saling mengakui apa yang kami simpan dalah hati. Wah, lapang sekali dunia ini rasanya waktu dia mengatakan dalam suratnya kalau dia menaruh hati juga pada saya. Tak cukup rasanya halaman kertas untuk menuliskan apa yang bergejolak di hati saya waktu. Saya yakin teman juga pasti sudah pernah juga merasakan rasanya cinta berbalas cinta. Jika teman belum pernah, saya ikut prihatin dan berdoa semoga teman segera merasakannya.

Karena di kampung kami berjalin kasih antara gadis dan bujang adalah aib yang bisa menjadi bahan cela dan hina, terpaksalah kami bercinta kasih dengan sembunyi-sembunyi. Setiap minggu kami berkirim surat. Amboi,, tiba-tiba saja saya menjadi penyair, teman. Dalam surat-surat kami, kami serasa pujangga yang sedang menulis syair. Indah sekali rasanya. Benar kata orang tua kita, kalau hati sudah tercuri seorang gadis, rasa-rasanya dunia ini seperti punya kita saja.

Masa-masa itu berlalu dengan cepat sampai akhirnya saya harus merantau kesini, ke Jakarta ini. Berat rasanya hati meninggalkan kampung halaman. Atau tepatnya meninggalkan Ramlah. Tapi apa daya saya tak kuasa menawar perintah buya untuk sekolah agama di Jakarta. Saya yakinkan pada Ramlah kalau jodoh tak akan kemana.

***

Selain kuliah, saya dapat juga mengajar honor di sebuah sekolah agama di Jakarta. Sudah tiga tahun saya di Jakarta. Untuk tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Si Ramlah sudah dikawinkan bapaknya dengan si Burhan anak Haji Kadir, pemilik penggilingan padi terbesar di kampung kami. Terbaca jelas oleh saya raut kesedihan Ramlah ketika menulis surat tahun lalu. Tapi apa mau dibilang. Nasi sudah jadi bubur.

Nah, sekarang saya jatuh cinta lagi, teman. Jatuh cinta pada murid saya. Macella namanya. Nampaknya nama ini tak ada di kampung saya yang tersuruk itu. Apa pula kata si Yulinar kalau mendengar nama ini. Pastilah dia bertengkar habis dengan Rosmaini untuk memperebutkannya.

Marcella tidak terlalu pintar di kelas, terlalu bodoh juga tidak. Dalam mata pelajaran saya, nilai paling rendahnya adalah enam. Tapi itu jugalah nilai tertingginya. Kalau pelajaran lain nilainya berputar-putar di angka enam dan tujuh saja. Tapi dia agak pendiam dan ramah. Entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas saya senang dan diapun senang pada saya. Bapaknya juga tidak masalah dengan hubungan kami. Rupanya disini, di Jakarta ini, urusan cinta-cinta seperti ini bukanlah urusan aib.

Yang menjadi soal adalah bagaimana dengan nilainya. Saya tidak mungkin membiarkan nilainya terus di angka enam karena itu bisa membuatnya tidak naik kelas. Tapi otaknya memang hanya cukup menampung angka enam itu. Bapaknya sering memohon supaya membantu anaknya agar naik kelas. Terpakasa jugalah saya naikkan nilainya yang enam menjadi tujuh setengah pada mata pelajaran saya supaya Marcella naik kelas. Pastilah saya telah berbuat tidak adil karena murid-murid saya yang lain tidak saya naikkan nilainya. Tapi saya juga sudah menyelamatkan hidup kekasih saya, dan itu juga berarti hidup saya juga. Yang penting, setelah kenaikan kelas itu, saya bisa lebih leluasa bertandang ke rumah Marcella. Bahkan kadang-kadang bapak ibunya sengaja ada urusan keluar rumah kalau saya sedang bertandang ke rumahnya. Begitu rupanya orang Jakarta memperlakukan kekasih anaknya. Sungguh perbuatan yang terpuji.

ANAK KEBANGGAAN

Diposting oleh abrar aziz

Ali Akbar Navis

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayan banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki.

Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.

"Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit.

Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah."

Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu.

Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?"

Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.

"Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat.

Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji.

"Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi.

"Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah."

"O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud."

"Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam."

Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya."

Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleholeh buatmu."

Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha."

Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira. Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin, dia dapat ilham baru. Dia pun merasa pula, bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Dan pada sangkanya, tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi, jika ia tahu orang-orang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Tak masuk akal, orang orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara.

"Awaslah nanti. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong."

Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Malah sebaliknya. Dikatakannya, banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tapi semua telah ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. "Pilihlah saja gadis di Jakarta, Anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak," penutup suratnya.

Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya, lantas jadi membalik pikirannya. Ia jadi sungguh percaya, bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya, bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya.

Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan.

Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia, apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi, andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Disamping itu ia sadar juga, bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan.

Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu, dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya.

Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Pasai ia menunggu, dikiriminya surat. Ditunggunya beberapa hari. Tapi tak datang balasan. Dikiriminya lagi. Ditunggunya. Juga tak terbalas. Dikirim. Ditunggu. Selalu tak berbalas. Bulan datang, bulan pergi, Ompi tinggal menunggu terus.

Pada suatu hari yang tak baik, di kala Ompi sudah mulai putus asa, datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar karena ia bahagia. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu, karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. Dan

tahulah ia, bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu.

Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan, agar apa yang terjadi adalah memang mimpi.

Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit, bahkan sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah, Ompi bertambah menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Yaitu surat. Surat dari anaknya, Indra Budimannya. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia telentang di ranjangnya, enggan bergerak. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.

Akan tetapi setiap sore, diantara jam empat dan jam lima, Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu, yang membiarkan masa bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya, hingga lebih meroyak. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah, reduplah lagi mata Ompi.

Namun kemalangan itu bertambah lagi. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan, sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Dan semenjak itu, pada setiap jam empat hingga jam lima sore, matanya akan menatap ke kaca itu. Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter, tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran, bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai.

Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang, dokter hanya menggelengkan kepala saja. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sakit. Kalau semua tak mungkin, jangan tinggalkan dia sendirian. Bila perlu, meski dengan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya."

Semenjak itu, berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Aku sadar, bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Di samping itu secara samar-samar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali.

Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Aku pun tahu, tidak ada gunanya semua. Hanya satu yang dikehendakinya. Surat dari Indra Budiman. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang, malahan takut, kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. Hari waktu itu jam sebelas siang. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. Melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali.

Tergesa-gesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan.

Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. Hingga gagallah recanaku. Tak sempat aku membuka surat itu. Karena di luar segala dugaanku,

Ompi yang sudah lumpuh selama ini, telah berada saja di belakangku. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.

"Bukalah. Bacakan segera isinya." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu.

Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.

"Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar.

Tak tahulah aku, apa yang harus kukatakan. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Tapi keajaiban tidak juga datang. Aku mengangguk. Sedang dalam hatiku berteriak, terjadilah apa yang akan terjadi.

Ompi terduduk di kursi. Matanya cemerlang memandang. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri memberikannya. Tapi aku tak bisa berbuat lain. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Telegram itu digenggamnya erat. Lalu didekapkan ke dadanya. "Datang juga apa yang kunantikan," katanya.

Sepi begitu menekan, sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. "Ah, tidak. Aku takkan membaca telegram ini. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. Kaubacakan buatku. Bacakan pelan-pelan. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku," kata Ompi dengan terputus-putus.

Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. Sedangkan bibirnya membariskan senyum, serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.

"Tak usah dibacakan. Takkan sanggup aku mendengarnya. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. Aku mau sehat. Mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku, Dokter Indra Budiman, datang. Pergilah. Panggilkan dokter," kata Ompi dengan gembira.

Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciumnya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.

Republik Uang

Diposting oleh abrar aziz

Beberapa waktu lalu saya mengurus KTP dan Kartu Keluarga (KK) di kelurahan tempat saya tinggal. Tepatnya di kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Ini memang pertama kalinya seumur-umur saya berurusan dengan birokrasi seperti RT, RW, dan Kelurahan. Dan mudah-mudahan ini yang terakhir. Bagi sebagian anda yang sudah sering berurusan dengan birokrasi barangkali sudah tidak asing lagi dengan cerita saya. Saya memang sudah lama mendengar cerita tentang budaya korupsi yang menggurita sampai ke tingkat paling bawah. Tapi saya benar-benar terperangah ketika mengalami sendiri cerita itu.

Saya bersama teman yang sama-sama akan mengurus KTP dan KK awalnya ditawari jalan pintas, biasanya disebut orang KTP “nembak”. Saya menolak karena mungkin harganya akan lebih mahal dan saya kira juga tidak ada salahnya sesekali saya berurusan dengan birokrasi di tingkat paling bawah. Alasan lain adalah karena anak bu RT memang sangat cantik sehingga saya punya celah untuk bertemu. Ini alasan yang serius,, hehe,,

Tapi saya dan teman benar-benar dibuat jengkel dengan ulah pemimpin-pemimpin warga ini. Baru mulai berurusan dengan RW, kami sudah “dipalak” sejumlah uang. Saya sebut “dipalak” karena awalnya sengaja kami tidak mau memberi uang sebab di sana tertulis biaya untuk pembuatan KTP Rp. 0,-. Tapi kemudian mereka berkata sambil melotot “kasih sumbangan donk!!”. Akhirnya meluncur juga sejumlah uang ke tangan mereka. Saya jadi bertanya-tanya sumbangan macam apa ini??

Sampai di kelurahan kami disambut oleh papan pengumuman tentang biaya layanan masyarakat. Lagi-lagi tertulis biaya pembuatan KTP RP. 0,-. Beberapa lama menunggu kami belum juga dilayani, sementara beberapa orang yang baru datang langsung masuk dan urusan selesai. Saya jadi bertanya-tanya kenapa kami tidak didahulukan?. Ya, tentu saja sebuah pertanyaan untuk diri sendiri. Kemudan tiba-tiba kami dipanggil oleh seorang petugas, sebut saja namanya Bunga (ini bukan korban perkosaan lho ya,,). Ibu bunga mulai melancarkan aksinya, dia menuturkan beberapa prosedur yang harus dilewati dan proses pembuatan KTP, menurutnya, minimal 2 minggu.

Saya jelas semakin heran, atau malah semakin yakin tentang carut-marutnya negeri ini, kenapa urusan kami begitu rumit sementara yang lain begitu mudah? Jawabannya tentu sudah bisa anda tebak, kami tidak membayar sepeserpun. Karena memang begitulah seharusnya. Beberapa hari berlalu satu urusan selesai, KTP. Teman saya mendatangi ke kantor lurah dan membayar kepada petugas di sana sejumlah uang. Tinggal satu urusan lagi, KK.

Tapi ternyata urusan KTP belum sepenuhnya selesai, melalui bu RT, yang anaknya sangat cantik itu, bu Bunga protes bahwa dia tidak mendapat bagian dari uang yang kami berikan. Saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa bu Bunga yang menurut bu RT sangat sholehah itu bisa sedemikian marah?. Kenapa dia protes karena tidak dapat bagian uang yang, menurut saya, tidak halal itu?, saya tidak tau hukumnya apa tapi saya yakin bukan “halal”. Padahal tentu saja teman saya tidak tau kalau bu Bunga tidak mendapat bagian. Itu bukan urusan kami. Yang jelas kami sudah bayar, meskipun dengan berat hati.

Akhirnya teman saya mendatangi kantor lurah menemui bu Bunga dan membayar sejuamlah uang, kali ini jumlahnya lumayan banyak. Reaksinya sudah bisa kita tebak. Dengan tanpa malu dia berkata “wah kok banyak sekali” dan bla bla bla bla. Sejak itu urusan KK jadi sangat lancar. Sekali datang semua selesai. Bahkan kami tidak perlu mengisi formulir pembuatan KK. Semua langsung diketik dan print di tempat. Hebat sekali pelayanan mereka. Agar lebih lancar lagi kami mendatangi rumah bu RT dan memberinya sejumlah uang, karena urusan ini sudah terlalu lama. Jika beruntung kami bisa ketemu anaknya yang terus-terusan mengganggu pikiran saya itu. Awalnya dia agak menolak menerima uang, mungkin karena tau kalau kami sudah mengeluarkan banyak untuk sebuah urusan yang bertele-tele ini. Tapi saya, sebagaimana anda, yakin bahwa penolakan itu basa-basi saja. Toh akhirnya diterima juga. Agak jengkel memang kami meninggalkan rumah bu RT, ditambah kami tidak bisa bertemu anaknya. Adik-adik saya yang gaul biasa menyebut situasi itu dengan istilah “jengkel tingkat dewa”. Atau biasaya kalau adik-adik saya ini jengkel dia akan menambahkan kata-kata untuk mendramatisir suasana “sumpah demi apapun gue jengkel tingkat dewa” katanya. Entah darimana mereka dapat istilah itu. Kira-kira demikianlah perasaan kami saat meninggalkan rumah bu RT. Memang tidak persis begitu. Dan sejak itu juga saya bertekad untuk tidak datang lagi kantor lurah, RW, dan RT, di manapun di Indonesia ini.

Saya kemudian membayangkan bagaimana negeri yang membentang luas sepanjang 10 juta kilometer persegi ini diurus dengan cara yang sangat riueh. Mungkin mereka tidak belajar kepada Plato tentang negara ideal. Atau bahkan mereka mungkin tidak kenal siapa Plato, atau Socrates, atau Aristoteles. Bagi Socrates, tujuan dibentuknya sebuah negara adalah untuk mensejahterakan rakyat. Yang kemudian oleh muridnya, Plato, disebut sebagai negara ideal.

Saya yakin di zaman mereka, 2400 tahun yang lalu, belum ada yang disebut negara ideal. Itu mungkin hanya ada dalam dunia ide guru-guru kita itu. Tapi dari ciri-ciri yang mereka sebut tentang negara ideal, saya pikir Indonesia memenuhi syarat untuk itu. Kekayaan alam yang melimpah sebagai sumber kesejahteraan rakyat. Kita memiliki itu. Sumber daya manusia yang pintar-pintar. Jelas kita punya. Tapi kenapa untuk urusan KTP saja harus ribet begini? Pastinya Socrates dan murid-muridnya tidak akan bisa menjawab karena mereka tidak pernah mengurus KTP. Di zaman mereka, 400 tahun Sebelum Masehi, tentu belum ada kantor lurah.

Bayangkan jika Socrates hidup di zaman ini, dan kebetulan beliau tinggal di Indonesia, tepatnya di Jakarta Timur, satu kelurahan dengan saya. Apa yang beliau katakan ketika akan mengurus KTP dan bertemu dengan bu Bunga. Saya yakin bu Bunga bisa “mati berdiri” mendengar ceramah-ceramah Socrates yang tidak bisa dibantah kecuali dengan membunuhnya seperti yang dilakukan pemerintah Athena di masa lalu. Apa juga yang akan dilakukan guru kita Socrates ketika datang ke rumah bu RT dan mendapati urusan mengurus KTP ternyata begitu sulit. Saya yakin Socrates akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berceramah tentang “tugas-tugas pemimpin masyarakat”. Saya juga yakin bu RT tidak akan bisa membalas logika-logika Socrates yang sulit dibantah. Dan tentu saya akan menggunakan momen itu dengan meminta Socrates melamarkan anak bu RT untuk saya. Pasti dia tidak akan bisa menolak lamaran seorang Guru Peradaban sehebat Socrates. Yang jelas, jika Socrates dan murid-muridnya ada disini, mereka pasti akan menjadi musuh yang menakutkan bagi orang-orang seperti bu Bunga.



***

Meski demikian, saya jelas tidak bisa menyalahkan bu Bunga begitu saja. Setahu saya beliau bukan orang kaya hingga sulit dikatakan dia melakukan itu untuk memperkaya diri sendiri. Yang tepat mungkin mengatakan dia melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Atau mungkin juga beliau melakukan itu karena atasannya juga minta “jatah”, jadi mau tidak mau dia harus setor. Atau ada alasan lain. Yang pasti, ini bukan kesalahan bu Bunga seorang. Ini adalah sistem. Sehingga saya tidak mungkin memperkarakan bu Bunga ke pengadilan, meskipun sebagai warga negara saya berhak memperkarakan sejumlah uang yang raib tidak jelas itu. Selain itu, saya bisa dianggap “lebay” karena memperkarakan orang “cuma” gara-gara KTP. Jauh lebih tidak penting dibanding perkara Gayus Tambunan, artis dadakan itu, atau perkara Nurdin Halid, misalnya.

Lalu siapa yang salah dengan keadaan ini? Yang pasti bukan saya dan teman, karena secara hukum kami bisa disebut korban. Dan tentu saja banyak sekali “korban-korban” lain di seluruh Nusantara. Tapi mungkin juga bukan bu Bunga atau bu RT. Apalagi anaknya bu RT. Jelas bukan salah dia, satu-satunya kesalahannya adalah mengapa dia jarang ada di rumah kalau saya datang kesana. Dia sangat bersalah dalam urusan itu. Lalu salah siapa? Saya tidak tau persis. Yang saya tau sejak saya dilahirkan oleh ibu saya sekitar 25 tahun lalu keadaannya sudah begini. Mungkin anda yang kebetulan lahir sebelum saya bisa menjelaskan.

Saya juga tidak tau berapa jumlah kelurahan atau desa di “Republik Uang” ini. Mungkin sekitar sepuluh ribu, atau lebih atau kurang. Apalagi jika ditanya ada berapa RT dan RW, saya lebih tidak paham lagi. Dan kira-kira dari sekitar sepuluh ribu itu berapa kantor lurah atau kepala desa yang memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat yang mengurus KTP? Saya yakin pasti ada meski saya tidak yakin bisa lebih dari sepuluh persen saja. Keyakinan saya terbukti ketika orang tua saya menguruskan KTP saya di kampung dulu, di sebuah desa di pesisir barat Minangkabau, Batang Tajongkek nama desanya, Pariaman nama kotanya. Berbagai urusan di urus dengan gratis dan langsung diantar ke rumah. Ibu saya biasanya akan memberikan beberapa rupiah sebagai ucapan terima kasih saat petugas telah menyelesaikan urusan kami. Tapi jelas ini bukan “uang pelicin”. Saya tidak yakin apakah petugas tersebut telah berkenalan dengan Socrates. Tap setidaknya mereka memiliki ide yang sama.

Di tempat anda mungkin juga ada yang gratis. Mungkin juga ada beberapa petugas yang bijaksana seperti Socrates. Tapi saya sangat yakin kalau itu akan jarang sekali. Kenapa saya begitu yakin?? Entahlah. Tanyakan saja pada bu Bunga atau pada anaknya bu RT, yang karena kebodohan saya, sampai detik ini saya tidak tau namanya... mudah-mudahan namanya bukan Bunga dan mudah-mudahan dia tidak bekerja di kantor kelurahan.