abrar aziz

"Jadilah orang yang benar-benar hidup, bukan sekedar bernafas ..."

Selasa, 04 Desember 2012

Abad Kedua Muhammadiyah; Kembali ke Islam ala Protestan

Diposting oleh abrar aziz

Istilah Islam Protestan bukanlah merupakan istilah baru dalam khazanah intelektual Islam, terutama di Muhammadiyah. Saya sendiri baru mendengar istilah ini lewat tulisan seorang senior di IMM Ciputat, Sukidi, dalam sebuah artikel di harian Kompas tahun 2005 silam. Binkes, seorang pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia pada tahun 1913 mengatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan warga Indonesia yang memiliki tipe Calvinis layaknya reformasi Protestan abad ke 15 dan 16. Gerakan reformasi Islam Muhammadiyah sebenarnya telah lama dipandang oleh ilmuan sebagai gerakan yang paralel dengan gerakan reformasi puritan dalam sejarah Kristen. Clifford Geertz, W. F. Wertheim dan James Peacock adalah di antara ilmuan tersebut. Meski bukan istilah yang terlalu baru, tetap saja bagi sebagian warga Muhammadiyah istilah ini terdengar tidak lazim dan aneh. Sebagian barangkali menganggap istilah Islam Protestan sebagai pengaburan makna atau bahkan pelecehan terhadap Islam. Jika ada Islam Protestan tentu ada Islam Katolik. Demikian mungkin sebagian anda berkomentar. Tentu saja istilah ini bukan dalam konteks teologis, melainkan sosiologis semata. Ada banyak kesamaan antara gerakan reformasi Protestan di Eropa dengan reformasi Islam ala Muhammadiyah. Pertama, gerakan pemurnian Kristen yang dimotori Marthin Luther dan Johanes Calvin memberi tekanan yang sangat kuat kepada semangat rasionalitas keagamaan. Dalam hal berhubungan dengan Tuhan misalnya, reformasi Protestan menentang keras keharusan mediasi yang wajib melibatkan pihak ketiga, yaitu Gereja. Bagi mereka, setiap umat Kristen berhak berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa harus dimediasi oleh siapapun. Ini merupakan satu gebrakan yang luar biasa di masa itu mengingat kekuasaan Gereja yang sedemikian kuat dan berhak menentukan doktrin yang benar dan yang salah serta menjadi satu-satunya institusi yang berhak menafsirkan kehendak Tuhan. Kondisi yang hampir sama terjadi pada umat Islam di Jawa awal abad ke 20. Permohonan doa kepada Allah mestilah melalui Kiyai tertentu. Jika tidak, maka permohonan tidak akan dikabulkan. Selain itu, permohonan juga tidak akan sampai kepada Allah jika tidak disertakan sesajen yang dipercaya menjadi medium komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Muhammadiyah hadir mendobrak tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini. Semangat rasionalitas keagamaan dikobarkan dengan mengamputasi semua medium komunikasi tersebut dan mengajarkan cara berdoa yang saat itu tidak lazim, yaitu langsung berbicara kepada Allah secara pribadi. Tanpa perantara siapapun dan apapun. Kiyai dan orang biasa memiliki hak yang sama untuk berdo`a kepada-Nya. Maka sebagaimana reformasi Protestan yang mendapat perlawanan keras dari Gereja, Muhammadiyah juga harus berhadapan dengan institusi ulama yang sangat berkuasa dalam urusan ritual-ritual agama. Kedua, doktrin yang cukup terkenal dalam reformasi Protestan adalah puritanisme atau pemurnian. Doktrin ini terkenal dengan istilah sola sciptura, yaitu kembali kepada teks/Bible. Setiap umat Kristen berhak merujuk langsung kepada Bible tanpa harus terjebak pada mazhab dan tafsir-tafsir Gereja. Sekali lagi ini merontokkan dominasi Gereja atas penafsiran doktrin. Sementara Muhammadiyah secara terang-terangan meneriakkan purifikasi atau pemurnian melalui slogannya yang terkenal; arruju` ila al quran was sunnah, merujuk langsung kepada al Quran dan Sunnah Nabi. Sebagaimana purifikasi Protestan, purifikasi Muhammadiyahpun mampu menggoyang dominasi mazhab-mazhab fiqh yang selama ini dianggap mapan. Protestanisme Kristen secara radikal mampu merubah pola tanggungjawab manusia yang awalnya bisa dilimpahkan dengan mudah kepada pimpinan Gereja, menjadi tanggungjawab pribadi langsung kepada Tuhan. Demikian juga reformasi Islam Muhammadiyah. Peranan Kiyai, sesajen, kuburan suci, dan benda-benda keramat lain yang biasanya dipercaya sebagai medium komunikasi dengan Allah dikategorikan sebagai perbuatan syirik dan khurafat. Sehingga kedua gerakan ini, baik reformasi Protestan maupun Muslim puritan Muhammadiyah sama-sama meyakini bahwa kebenaran mampu dicapai secara pribadi antara individu dan Tuhannya tanpa ikut campur pihak manapun. Ketiga, dan ini suatu kebetulan yang sangat menarik. Baik reformasi Gereja maupun purifikasi Islam ala Muhammadiyah mendapat tempat yang subur di kalangan pedagang. Pada penggerak reformasi ini, menurut Binkes, memiliki tipikal yang sama; saudagar, tekun, cerdas, militan. Karakter inilah yang menjelaskan kenapa kedua gerakan ini memberi penekanan yang kuat terhadap rasionalitas keagamaan, membuat inovasi-inovasi, dan kemandirian. Usia Satu abad Tanggal 18 November 2012 merupakan titik penting perjalanan Muhammadiyah. Pada hari itu, satu abad yang lalu, Kiyai Dahlan bersama sekelompok pemuda berkumpul di langgar Kidul untuk mendirikan Muhammadiyah. Meskipun deklarasinya baru dilakukan pada malam Minggu terakhir bulan Desember 1912 di Gedung Loodge Gebauw Malioboro, Yogyakarta. Sejak itu, Muhammadiyah terus berkembang serupa bola salju. Semakin hari kian besar, semarak, dan dinamis. Dakwah melalui media dipelopori Muhammadiyah dengan mendirikan majalah Suara Muhammadiyah tahun 1915, gerakan perempuan berdiri tahun 1917. Dan gerakan pelayanan sosial yang dikenal dengan Penolong Kesengsaraan Oemom (PKO) berdiri tahun 1922. Muhammadiyah kemudian terus bergerak melintasi zaman dengan ciri reformis yang kain kentara. Deliar Noer, James Peacock, William Shepard, dan sebagian besar peneliti menyebut Muhammadiyah dengan istilah islamic modernism. Sementara Clifford Geertz, George Kahin, Robert van Neil, dan lainnya menyebut Muhammadiyah dengan gerakan sosio kultural. Pengamat lain seperti Alfian, Wertheim, dan yang lain menyebut dengan istilah islamic reformism. Hingga kini, satu abad kemudian, Muhammadiyah telah menjelma menjadi organisasi raksasa dengan jaringan dan amal usaha yang sulit dicari tandingannya. Data dari Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah menunjukkan jumlah jaringan dan amal usaha Muhammadiyah ; 4.623 TK, 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/MTs, 1.143 SMA/SMK/MA, 67 Pondok Pesantren, 172 Perguruan Tinggi, 457 Rumah Sakit/Rumah Bersalin/Klinik, 318 Panti Asuhan, 54 Panti Jompo, 82 Rehabilitasi Cacat, 71 Sekolah Luar Biasa, 6.118 Masjid, 5.080 Musholla, dan 20.945.504 M tanah. Saya tidak ingin terlibat perdebatan apakah Muhammadiyah organisai Islam terbesar pertama atau kedua di Indonesia. Jika ukurannya adalah jumlah anggota mungkin saja Muhammadiyah yang kedua atau ketiga, meski organisasi lainpun tidak punya data akurat tentang jumlah warganya. Tapi mari kita lihat penilaian objektif dari luar. Media-media di Amerika Serikat, sebagaimana sering disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M. Din Syamsuddin, selalu menyebut Muhammadiyah sebagai the largest reformist Islamic organization. Nurcholish Madjid memberi penilaian; jika dilihat dari sudut pandang gerakan dan amal usaha, maka Muhammadiyah bukan saja gerakan Islam terbesar di Indonesia, tapi juga di dunia Islam. Antropolog Amerika Serikat, James L. Peacock, menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam terkuat di Asia Tenggara. Bahkan `Aisyiyah, menurut Peacock, merupakan organisasi perempuan terbesar dan paling dinamis di dunia. Saya kutipkan catatan James Peacock dan Howard Federspiel ; tahun 1923 Muhammadiyah memiliki anggota 2.622 laki-laki dan 724 wanita. Tahun 1925 anggotanya berjumlah 4.000 dan mengelola 55 sekolah, dua rumah sakit, dua panti asuhan. Tahun 1930 keanggotaanya meningkat menjadi 24.000. tahun 1950 menjadi 159.000. Tahun 1963 Muhammadiyah mengelola 4.600 sekolah, termasuk pesantren dan perguruan tinggi. Tahun 1970 Muhammadiyah memiliki 2.134 cabang, lebih dari 2.500 ranting dengan total anggota 6 juta. Dan hari ini Muhammadiyah telah memiliki 33 Wilayah, 417 Daerah, 3.221 Cabang, dan 8.107 Ranting. Sebuah jumlah yang sulit dicari tandingannya. Bagaimana sekarang? Seiring berjalannya waktu, Muhammadiya terus bergerak menuju usia yang semakin menua. Selain berbagai prestasi dan kebesaran yang telah diraih, Muhammadiyah juga harus mampu berbenah agar tidak ditinggalkan oleh zaman yang bergerak semakin cepat. Banyak pengamat memberi kritik atas kelambanan Muhammadiyah dalam membaca tanda-tanda zaman. Penyakit rutinisme dan birokratisasi merupakan hal lumrah terjadi bagi organisasi setua dan sebesar Muhammadiyah. Untuk itu, memasuki abad kedua usianya, Muhammadiyah perlu meresapi kembali semangat Islam Reformis ala Protestan sebagaimana diajarkan oleh generasi awal. Watak reformis yang menjadi ciri utama Muhammadiyah harus kembali ditumbuhkan. Kejumudan dan kemandegan pemikiran maupun gerakan Muhammadiyah lebih disebabkan oleh anggapan keliru sebagian warga Muhammadiyah yang menganggap persyarikatan ini telah mapan dan tidak perlu ada perubahan. Padahal, ciri utama gerakan reformis adalah senantiasa terbuka untu perubahan. Jika Muhammadiyah ingin bertahan dalam pusaran zaman yang semakin kompleks, maka pembaharuan jilid kedua harus segera dimulai. Saya percaya akan sebuah hadits yang mengatakan setiap satu abad akan lahir seorang pembaharu. KH. Ahmad Dahlan telah melakukan tugasnya sebagai pembaharu jilid pertama bagi Muhammadiyah. Maka inilah saatnya lahir pembaharu jilid kedua, dengan tipologi yang tentu saja harus sama dengan pendahulunya; militan, cerdas, dan terbuka, sebagaimana Reformasi Protestan d Eropa. Puncak, Cianjur, 5 Desember 2012. 00.05 WIC

Sabtu, 16 Juni 2012

Diskusi Kecil di Pojok Neraka

Diposting oleh abrar aziz

Ini adalah hari pertama Surga dan Neraka mulai beroperasi. Setelah semua manusia menjalani pemeriksaan yang ketat di sebuah pengadilan besar bernama Padang Mahsyar, kini saatnya mereka memulai kehidupan baru disini. Di Surga, hari pertama terdengar sangat riuh. Orang-orang sibuk mempersiapkan diri menghadapi hari-hari baru mereka yang menyenangkan. Rumah-rumah dibangun megah dengan arsitektur bergaya eropa klasik. Pohon-pohon rindang, sungai mengalir meliuk-liuk di tengah taman. Luas area surga jauh melebihi luas bumi. Perumahan di dalamnya terdiri dari komplek-komplek yang dipisahkan oleh taman bunga dan sungai nan elok dipandang mata. Setiap komplek memiliki fasilitas pribadi dan fasilitas umum yang super komplit. Mulai dari kolam renang, jogging track, area fitness, lapangan segala olahraga, tempat karaoke, cafĂ© dan berbagai fasilitas hiburan yang dijaga oleh bidadari dengan kecantikan tak berpadan di muka bumi. Dan yang paling penting, negeri surga tidak memiliki mata uang karena semua fasilitas tersebut gratis. Di hari pertama ini, akan diadakan apel akbar. Semacam upacara penyambutan yang dipimpin langsung oleh Malaikat Kepala dengan tugas dan wewenang penuh mengatur surga, Ridwan. Dilihat dari pakaian kebesaran dengan tanda pangkat bintang tiga dibahunya, dapat dipastikan bahwa Malaikat Ridwan adalah salah satu malaikat yang sangat berpengaruh. Hanya lebih rendah satu bintang dari Panglima Tertinggi Malaikat Jenderal Bintang Empat Jibril. Setelah upacara selesai, dilanjutkan dengan kegiatan Protaperat atau Program Taaruf dan Pengenalan Akhirat. Di sini semua penghuni akan diajak saling berkenalan dan diajarkan cara menggunakan berbagai fasilitas yang ada. Jutaan malaikat berpangkat melati satu sdan dua dengan sabar dan bersemangat mengajari mereka meskipun beberapa penghuni sangat susah diajarkan. Maklum saja, kebanyakan penghuni surga adalah kaum melarat dan kampungan. Mereka semasa di dunia tidak terbiasa dengan barang mewah, apalagi barang super mewah seperti yang ada disini. Pastilah susah mengajarinya. Pada masa istirahat, beberapa panghuni berdiskusi di tengah taman yang rindang dan menebar aroma kesejukkan. “Hei, Dullah. Apa yang kau kerjakan selama di dunia hingga kau bisa masuk kesini?”. Tanya seorang penghuni berbadan tegap dan berjenggot tipis. Didahului hisapan rokok kreteknya, si Dullah menjawab “Aku juga kurang paham. Aku dilahirkan ke dunia sebagai orang melarat, menjalani hidup tujuh puluh tahun sebagai orang melarat, dan matikupun dalam keadaan melarat. Jadi tak banyak ibadah yang bisa kukerjakan kecuali yang wajib-wajib saja”. Temannya merasa heran “Jadi kau tak paham kenapa bisa masuk ke surge ini?”. “Ya, begitulah”. Kembali Dullah menghisap kreteknya. “Orang miskin seperti aku ini tidak mungkin bisa beramal banyak. Berzakat aku tidak mampu. Apalagi naik haji, tak usah kau tanya. Setiap hari aku merawat kebun orang. Setiap panen aku jual isi kebunnya dan kuserahkan semua uang hasil penjualan utuh kepada pemiliknya. Tak sedikitpun aku kurangi. Buah-buahan yang ada di kebunpun tak pernah aku memakannya meski aku tiap hari tinggal di kebun itu. Padahal kalau mau curang aku bisa saja mengambil beberapa hasil kebun dan menjualnya, toh majikanku tinggal jauh di kota besar. Aku sendirian disini. Tapi tak mungkin itu aku lakukan. Aku ini miskin, jika tidak mampu banyak beribadah dan beramal, setidaknya aku tidak terlalu banyak membuat dosa. Itu saja yang kulakukan hingga aku mati”. “Ah, kejujuranmu itulah yang mengantarmu kemari, Dullah”. Tandas temannya berseri. “Alhamdulillah, aku bersyukur karenanya. Nah, kau sendiri apa yang kau buat semasa hidup, Kasman?”. Rupanya temannya itu bernama M. Kasman. “Sama seperti kau, Dullah. Aku menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Ibadahkupun hanya yang wajib-wajib saja. Kerjaku menjala ikan di laut dan menjualnya ke pasar. Jam dua pagi aku sudah berangkat dari rumah. Malam aku baru kembali. Meskipun kulihat teman-temanku suka mengakali timbangannya supaya hasil penjualan mereka labih banyak, tapi aku tidak tertarik melakukan hal serupa. Tentulah amalanku yang sedikit ini tak akan aku rusak dengan berbuat curang dengan pembeliku”. Kasman menyerumput kopi gingseng yang baru saja disajikan seorang bidadari untuknya. Disekeliling mereka orang saling menyapa, berkumpul dan saling bercerita tentang masa hidup mereka di dunia. Ada yang semasa hidupnya menjadi tukang cukur, tukang ojek, loper Koran, namun ada juga beberapa yang berasal dari golongan kaya, pejabat, dan ulama besar meskipun jumlah mereka tidak banyak. Beberapa bidadari dan malaikat terlihat sibuk melayani setiap kebutuhan penghuni. Dari tempat mereka berkumpul, di kejauhan terlihat samar-samar sebuah lembah yang berwarna merah menyala. Luasnya kira-kira sedikit lebih besar dari taman surga. Lembah itu adalah, Neraka. Neraka. Hari pertama mulai beroperasi. Sebagaimana di surga, kegiatan diawali dengan apel akbar, dipimpin oleh malaikat yang bertugas dan berkuasa penuh mengatur neraka, Malik. Sama seperti Malaikat Ridwan, Malaikat Malik adalah satu dari sedikit Malaikat yang sangat disegani. Tiga buah bintang bertengger di masing-masing bahunya menunjukkan betapa tinggi kedudukannya. Namun berbeda dengan penampilan Malaikat Ridwan yang bersih, Malaikat Jenderal Bintang Tiga Malik tampil dengan agak semrawut dengan kumis, jenggot dan jambang dibiarkan menutupi sebagian mukanya. “Selamat datang saudaraku sekalian”. Katanya membuka sambutan. Di depannya, milyaran manusia berbaris dengan muka penuh ketegangan. “Seperti yang mungkin pernah saudaraku sekalian dengar di dunia. Tempat ini dinamakan Neraka, tempat saudaraku semua akan dibersihkan hingga pada waktunya nanti saudaraku semua boleh bergabung dengan saudara-saudara kita yang lain di surga. Saya berharap saudaraku sekalian bisa mematuhi segala peraturan yang saya tetapkan dan dapat menjalani proses pembersihan ini dengan baik. Untuk itu, selama tiga hari ke depan akan diadakan Protaperat atau Program Taaruf dan Pengenalan Akhirat. Saudaraku semua akan dipandu oleh Malaikat Petugas untuk saling bertaaruf satu sama lain serta mengenalkan bagaimana proses pembersihan dosa dan alat-alat apa yang akan digunakan. Jadi harap saudaraku semua perhatikan dengan seksama. Proses pembersihan dosa saudaraku semua akan dimulai pada hari keempat, sehari setelah kita menyelesaikan Protaperat. Jika masih ada yang ingin ditanyakan, silahkan bertanya pada Malaikat Petugas yang senantiasa bersiap di sekitar saudara. Terima kasih.” Malaikat Jenderal Bintang Tiga inipun menutup sambutannya. Upacara selesai. Barisan dibubarkan. Di sela kegiatan orientasi itu, dua orang yang rupanya saling mengenal di dunia duduk berdiskusi dibawah terik matahari yang panas. “Apa rupanya yang salah dari kita ini”. Orang pertama yang bernama Haji Karim memulai pembicaraan. “Semua perintah Allah sudah kita kerjakan. Sampai-sampai tanahpun kujual agar bisa naik haji untuk ketiga kalinya. Tapi sekarang dicampakkan-Nya kita ke neraka ini”. “Ah, aku juga tak paham, Karim. Kau baru tiga kali naik haji. Aku? Selama empat periode aku jadi anggota DPR dari partai Islam Sekali, sudah sebelas kali aku naik haji. Umrah jangan kau tanya. Infak sadakah kau takkan bisa hitung. Saban hari anak yatim makan di rumahku. Apalagi yang kurang dari amalku ini?”. Lelaki bernama Ahmad inipun melenguh panjang. “Itulah, Mad. Kulihat orang-orang yang senasib dengan kita semasa hidupnya tak kurang ibadahnya. Kau lihat itu, ada Ustad kondang, pejabat sepertimu, pengusaha sukses, semua orang-orang yang selama hidup telah banyak menyumbang harta bendanya untuk amal. Rupa-rupanya kita sudah salah memahami perintah Tuhan”. Raut wajah Haji Karim menampakkan penyesalan tak terperi. Tiba-tiba suara tawa terdengar diantara mereka. Ternyata iblis sudah mendengar pembicaraan mereka sejak tadi. “Haha, kalian ini terlalu bodoh memahami keagungan Allah. Mulut kalian sibuk memuji-Nya tapi hati kalian menduakan-Nya. Makanya kalian diseret ke lembah ini”. Iblis menyengir penuh cibir. “Hei,Iblis laknat. Enak sekali kau bicara. Kaulah penyebab semua ini. Kau selalu menghasut manusia untuk ikut ke jalan sesatmu. Ini semua salahmu”. Ahmad mulai meradang melihat Iblis tiba-tiba menyela diskusi mereka. “Ha? Kau menyalahkanku. Padahal kalian sendiri yang bodoh dan egois. Yang kalian pikirkan cuma surga saja. Mulut kalian berbusa-busa memuji Tuhan dengan harapan akan mendapat imbalan surga. Itu saja yang ada di benak kalian. Kalian berzakat, tapi hati orang miskin sering kalian sakiti dengan mulut besar kalian. Kepala kalian bersujud tapi hati kalian tinggi. Apa kalian tak paham, menyakiti orang miskin adalah menyakiti Tuhan. Haah, kalian memang bodoh”. Iblis tertawa terkekeh, lalu melanjutkan kata-katanya. “Kau menyalahkanku karena hasutanku telah membuat kalian tersesat. Lalu atas kehendak siapa aku bisa menghasut kalian? Bukankah Tuhanmu yang memberiku kuasa untuk menghasut? Kenapa tidak kau salahkan saja Tuhan?”. “Hei, sombong sekali bicaramu berani menyalahkan Tuhan. Kaulah penyebab semua orang yang ada disini bernasib malang. Kau tipu semua orang dengan kemewahan dunia. Sekarang kau tertawa karena kami semua termakan tipu dayamu”. Haji Karim menumpahkan kemarahannya. Iblis kembali mengumbar tawa “Hahaha, kau lupa ya, Pak Haji. Allah telah memberi jaminan bagi orang-orang yang imannya teguh tidak akan mampu aku rayu. Orang yang ikhlas beribadah tanpa mengharap imbalan apa-apa tidak mungkin aku tembus keteguhan hatinya. Aku hanya bisa menggoda orang-orang yang hatinya tidak tulus. Memuji-muji Allah bukan karena cinta kepada-Nya tapi karena tergiur iming-iming surga. Kau pikir Tuhan mabuk pujian dan gila disembah. Aku tidak perlu memperdayamu. Keegoisaanmu telah menyeretmu kesini”. Iblis menatap bergantian kedua orang yang duduk termangu itu. “Jangan kalian pikir aku diusir dari surga itu benar-benar karena keingkaranku melawan Allah. Mana berani aku melawan perintah-Nya. Ribuan tahun aku habiskan waktuku untuk bersembah sujud kepada-Nya, tak akan kusia-siakan semua itu hanya demi egoku yang merasa lebih baik dari Adam. Kau tau, aku memang harus memainkan peran keburukan itu. Itu memang tugasku, Kawan. Musa tak akan mampu menunjukkan tanda-tanda kenabiannya jika aku tidak menyeret Firaun dalam lubang kesombongan. Apa artinya perjuangan Ibrahim tanpa kejahatan Namrud. Semua sudah diatur oleh Allah. Aku harus memainkan peranku agar terlihat jelas perbedaan mana emas mana tembaga. Bukankah Allah sudah mengatakan dengan jelas bahwa orang-orang yang teguh imannya tak akan sanggup aku rayu. Itu berarti bukan aku yang merusak hidup kalian. Tapi kalianlah yang membuka pintu kerusakan itu. Di setiap ada kebaikan aku harus mengambil tempat keburukan. Hitam adalah penting agar putih terlihat lebih jelas. Jadi sekarang kau jangan menyalahkanku. Semua siksaan yang akan kau jalani nanti adalah akibat dari kebodohan dan keegoisanmu. Kau tanggunglah sendiri akibatnya. Hahahaha”. Sang Iblis berlalu dari hadapan dua orang yang terperangah menyadari kebodohannya itu.

Senin, 30 April 2012

Kontras

Diposting oleh abrar aziz

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kontras memiliki makna ; memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila dibandingkan. Jika anda mengambil kertas putih yang kosong lalu mencoretkan cat berwarna hitam pekat di atasnya maka akan terlihat jelas perbedaan antara kertas putih dan cat yang berwarna hitam. Kontras juga bisa kita pahami dalam konteks keadaan. Misalkan ketika anda melihat sebuah rumah mewah seharga sepuluh milyar berdampingan dengan gubuk kumuh yang terbuat dari kayu, maka anda akan bersepakat dengan saya bahwa itu adalah pemandangan yang kontras. Kontras dalam konteks keadaan inilah yang sehari-hari menjadi pemandangan lazim di negeri kita. Bahwa harga mobil seorang menteri yang mencapai satu koma tiga milyar adalah kontras jika dibandingkan dengan ratusan pengungsi bencana yang belum punya tempat tinggal permanen. Bahwa tunjangan perumahan anggota DPR senilai lima belas juta perbulan adalah kontras dengan gaji guru honorer dikampung saya, dua ratus lima puluh ribu rupiah perbulan. Suatu hari daerah saya kedatangan Bapak Presiden. Betapa bangganya para pejabat daerah di tempat saya. Jauh hari semua telah disiapkan matang-matang. Kunjungan RI 1 ini benar-benar spesial bagi pejabat daerah. Tapi sejauh yang saya perhatikan tidak semua rakyat antusias dengan kunjungan itu. Beberapa tetap turun ke sawah, sebagian ke sungai mengeruk pasir, sebagian tetap melaut, sebagian tetap berdagang di pasar. Sepertinya tidak terpengaruh dengan kunjungan pak Jenderal itu. Apakah sikap pejabat daerah dan rakyatnya ini bisa kita sebut kontras? Silahkan anda jawab. Bukan hanya tidak disambut antusias oleh rakyat kecil, kunjungan ini juga mendatangkan sumpah serapah bagi sebagian orang. Saya dan beberapa pengguna jalan harus rela menunggu berjam-jam karena jalan yang biasa kami gunakan harus ditutup sementara karena akan dilewati pak Presiden beberapa jam kemudian. Seorang bapak disamping saya tidak dapat menyembunyikan serapahnya kepada sang Presiden. Sepertinya dia sedang buru-buru mengerjakan suatu hal penting. Seorang bapak yang lain tak kalah seru mengumbar umpatannya karena hari ini pasti dia akan terlambat membuka warung nasinya. Di sebuah rumah seorang ibu juga kesulitan menahan umpatan karena bayinya yang baru berusia satu tahun tidak bisa tidur akibat suara sirine mobil polisi yang terus meraung-raung. Apakah ini juga bisa kita sebut kontras? Kepentingan rakyat banyak harus tersingkirkan demi kenyaman seseorang yang belum jelas apa manfaat dari kunjungannya itu? Bagi saya ini kontras. Menurut saya masih ada kontras yang lain dalam kasus kedatanga bapak Presiden ke daerah saya ini. Yaitu antara mental pejabat dengan rakyatnya. Bagi sebagian rakyat kecil, kedatangaan Presiden tidak berarti apa-apa. Menurut mereka melaut jauh lebih penting, turun ke sawah atau berjualan di pasar lebih bermanfaat daripada mengurusi orang yang jelas-jelas menyusahkan mereka dalam beberapa jam terakhir. Namun bagi pejabat daerah kunjungan ini sangat penting. Mereka bisa memamerkan keberhasilannya dalam membangun daerah, siapa tau nanti dengan kesan berhasil membangun daerah ini dana bantuan dari pusat bisa mengalir deras agar bisa dikorupsi lagi. Untuk kepentingan itu, ceritapun ditambah-tambahkan supaya bapak Presiden semakin terkesan. Mental pelabat yang inlander versus mental rakyat yang merdeka. Kontras. Desa Batang Tajongkek, Kec. Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Jum`at, 27 April 2012 pukul 00.10 WIB

Sahabat Dari Negeri Setan

Diposting oleh abrar aziz

Senja itu, selepas maghrib saya duduk santai di saung yang saya bangun dekat kolam ikan peliharaan, sambil menikmati secangkir kopi pahit. Setelah seharian mengurusi ikan mas yang sebentar lagi akan kami panen, duduk melamun di tengah kesunyian kampung adalah kenikmatan tersendiri. Di kampung kami, selepas senja desa ini seperti desa mati. Hampir tak ada yang mau keluar rumah kecuali beberapa anak-anak yang belajar mengaji di mushalla. Seperti senja-senja sebelumnya, pikiran saya selalu melayang jauh ke masa depan. Kira-kira dua ratus tahun yang akan datang. Dalam bayangan saya, Republik Indonesia yang sangat saya cintai ini sudah terpecah menjadi belasan negara baru. Beberapa negara mengalami kemajuan signifikan, sementara sebagian lainnya masih tetap miskin, bahkan lebih miskin dari yang saya saksikan sekarang. Jakarta, yang menjadi simbol kepongahan dan keserakahan di masa kini, sudah tidak ada lagi dalam daftar nama-nama negara bekas Republik Indonesia. Jakarta sudah hancur lebur karena kesombongannya sendiri. Beberapa negara di timur Indonesia mengalami kemajuan cukup pesat. Hasil kekayaan alamnya bisa mereka kelola dan nikmati sendiri. Tidak lagi dihisap oleh lintah-lintah yang ada di Jakarta. Satu tepukan di punggung mengagetkan saya dari lamunan. Sesosok tubuh hitam dan tinggi tiba-tiba sudah berdiri di depan saya. “Di sini kau rupanya. Sudah gemuk kau sekarang”. Dia duduk disamping saya sembari menyambar kopi yang sudah hampir dingin. Terakhir saya bertemu teman ini sekitar satu tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di Jakarta. Saat itu saya masih menjadi aktivis partai politik yang dekat penguasa di negeri ini. “Yaa,, sepertinya kampung ini lebih cocok buatku daripada Jakarta. Kemana saja kau baru kelihatan?”. Saya perhatikan sosoknya sama sekali tidak berubah. Seluruh tubuhnya hitam, sorot matanya merah menyala, bau busuk meskipun saya sudah terbiasa. Suaranya yang berat menambah kesan seram teman saya ini. Dia berasal dari sebuah negeri yang tidak pernah ada dalam peta dunia, Negeri Setan. “Ada urusan yang harus ku selesaikan di negeriku. Kan dari dulu sudah kubilang. Umar, kau tidak usahlah tinggal di Jakarta. Kau terlalu lurus. Apalagi masuk partai yang itu. Rusak kau dibuatnya”. Matanya yang merah menyala mondar-mandir kiri kanan seperti sedang menikmati suasana alam kampung ini. “Hehehe,, sudahlah. Tak usah kau bahas soal-soal yang dulu itu. Sudah ku buang jauh-jauh dari memoriku. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar pada saat aku mati negara ini masih utuh sebagai NKRI”. Saya sudah malas mendiskusikan soal-soal politik yang dulu selalu menjadi tema pokok diskusi kami. “Sekarang aku sudah cukup tenang dengan apa yang aku miliki. Meskipun dengan segala keterbatasan, tapi semua ini milikku. Hasil keringatku. Kau lihat kolam itu, sepuluh ribu ikan mas ini alhamdulillah cukup untuk menghidupiku sekeluarga”. Sesaat pikiran saya melayang ke belakang, beberapa tahun yang lalu. Di Jakarta, saya memiliki lebih dari cukup fasilitas hidup. Rumah, mobil, dana operasional, sudah disiapkan oleh ketua partai. Tak sedetikpun waktu yang terlewat kecuali kemewahan. Tugas saya adalah membangun opini bahwa ketua kami merupakan sosok yang sangat mencintai rakyatnya, politisi berbudi luhur, dan negarawan berakhlak tanpa cela. Membela nama baiknya dari serangan musuh-musuh politik adalah kesibukan saya sehari-hari. Namun lama-lama akal sehat saya mulai gerah dengan cara hidup seperti itu. Di depan publik, orang yang memberi fasilitas hidup kepada saya seolah seperti dewa yang tinggi budi dan luhur akhlak. Tapi di belakang, saya tau persis bagaimana keserakahannya terhadap kekuasaan. Dan saya harus tetap membelanya sebagai orang berhati mulia. Akal budi ini benar-benar tak bisa menerima. Saya seperti hidup bercermin bangkai. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Saya adalah orang merdeka yang terjajah, dan itu berlawanan dengan akal sehat. Maka saya putuskan melepas semuanya dan kembali ke kampung halaman. Orang tua di kampung kami sering berkata; lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. “Keputusanmu sudah tepat, kawan. Dari dulu kan sudah ku sarankan agar kau tidak usah ikut-ikut politik. Hanya ada beberapa orang saja yang bisa tetap waras di tengah hiruk pikuk politik yang semakin edan ini. Ku ramalkan, satu abad lagi negaramu ini akan terpecah berkeping-keping. Beruntunglah kau, saat itu terjadi kau sudah mati berkalang tanah, hahahaha”. Dia terkekeh sambil menepuk pundak saya berulang ulang “Ah, kau jangan sok tau. Masih banyak anak-anak bangsa ini yang gigih membela akal sehat dan nuraninya. Selama mereka masih ada, NKRI tak akan bubar. Aku yakin itu”. Saya masih berusaha membela negara ini meskipun bayangan saya tentang masa depan tidak jauh berbeda dangan ramalan sahabat saya ini. “Ckckck,, masih bisa kau bersilat kata,Umar. Ku tanya sekarang, kemana orang-orang sepertimu? Yang mengaku-ngaku membela akal sehat? Semua sudah menyingkir atau tersingkir satu-persatu. Akal sehat sudah dikalahkan nafsu kekuasaan. Dan nafsu itulah yang sekarang sedang mengendalikan negara tercintamu ini. Masih kau pelihara kayakinan naifmu itu?”. Matanya yang menyala menghujam lurus, tepat ke bola mata saya. Saya sepenuhnya menerima argumentasi itu, tapi saya masih ingin membangun secuil optimisme. “Aku masih yakin setiap satu abad pembaharuan akan terjadi. Jika abad yang lalu rahim nusantara ini telah melahirkan Tan Malaka, Sukarno, Muhammd Hatta, Sudirman, dan para pejuang lainnya, maka abad ini rahim yang sama akan melahirkan generasi baru yang akan menahkodai NKRI ini menuju arah yang benar”. Saya meyakinkan hati dengan argumentasi yang baru saja saya lontarkan. Jauh dari kedalamannya, hati ini menolak argumen yang lebih terkesan magis itu. “Huahahahaha,,,,,”. Gelegar suara tawa teman saya dari bangsa setan ini tiba-tiba menggema memecah kesunyian kampung. “Woi, Setan. Pelankan tawamu. Satu kampung bisa ketakutan mendengarnya”. Saya perhatikan sekeliling saung untuk memastikan tidak warga sekitar yang berlari keluar rumah karena mendengar suara tawa yang angker itu. “Lupa kau dengan siapa kau bicara?”. Jawabnya mengingatkan bahwa hanya saya manusia yang bisa melihat dan mendengar suaranya di kampung ini. “O, iya. Aku lupa. Sudah lama aku tak mendengar setan tertawa. Hahaha... Jadi, bagian mana dari kata-kataku yang kau anggap lucu?”. Saya membenarkan posisi duduk sambil menyeruput kopi yang sudah hampir habis diminum kawan lain bangsa ini. “Ternyata lama hidup di kampung membuat otakmu sudah mulai tumpul, kawan. Tak seencer dulu waktu kau membela mati-matian bosmu yang serakah itu”. Sahabat saya ini juga membetulkan posisi duduknya. Satu-satunya goreng pisang yang tersisa di piring saya pun langsung disambarnya. “Kau tau, Umar”. Mukanya sedikit lebih serius. “Aku sudah hidup sejak ribuan tahun lalu. Aku menyaksikan bagaimana gurumu, Aristoteles, dengan sabar mengajarkan ilmu logika dan ketatanegaraan kepada Iskandar Agung. Di depan mataku Socrates bercerita panjang tentang tugas-tugas pemimpin. Fir`aun di ujung kesombongannya menggelapar dalam dekapan laut merah menunggu kematian. Aku saksikan nabimu, Muhammad, mengajarkan kebajikan dan keluhuran budi kepada seluruh umat. Tak satupun kejadian penting di alam raya ini yang luput dari pantauanku”. Sejenak teman saya ini memandang lurus ke dalam kolam seolah sedang memastikan jumlah ikan mas yang ada di dalamnya. Diam sesaat. “Dan kau tentu tau, kawan”. Masih dengan nadanya yang serius. “Aku menyaksikan betapa Tan Malaka, yang kau sebut telah dilahirkan rahim nusantara ini sebagai pejuang, harus merelakan hampir seluruh kemerdekaan fisiknya demi membela kemerdekaan tanah airnya. Aku berada di hutan yang sama ketika Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit keras memimpin perang fisik dari atas tandu. Aku berada diantara Sukarno dan Bung Hatta ketika mereka serius dan bersungguh-sungguh membicarakan segala sesuatu tentang negeramu ini. Tak sedikitpun terlintas di benak mereka untuk memperaya diri apalagi merekayasa opini publik demi popularitas. Aku berada di rumah Bung Hatta saat kulihat temanku malaikat maut, berjalan tegap mendekati tubuhnya. Kau tau apa yang diwariskan seorang wakil presiden, kawan? Sebuah kacamata dan tumpukkan buku”. Saya hanya menunggu teman saya ini meneruskan pembicaraanya. Sudah hampir saya pastikan kemana ujung dari celotehannya itu, dan benar saja. “Lalu mereka itu yang mau kau banding-bandingkan dengan pemimpin sekarang? Apalagi ketua partaimu itu?. Hah!!!”. “Dia sudah bukan siapa-siapaku!!”. Agak malas saya memprotes. Saya pasrah saja menerima kekalahan yang sudah saya prediksi sejak awal. Setan bertubuh dua kali lebih tinggi dari saya ini melanjutkan ocehannya. “Di atas mimbar mereka berpidato dengan teks tersusun rapi tentang program-program yang dilakukan untuk kesejahteraan rakyat. Seolah-olah mereka dilahirkan sebagai seorang negarawan yang visioner dan serius memikirkan masa depan bangsa ini. Tapi asal kau tau, Umar. Di belakang mimbar itu, diruang-ruang pertemuan yang mewah itu, di mobil-mobil berharga miliyaran itu, mereka sangat serius dan antusias membagi-bagikan proyek pada sanak keluarga, mencari-cari celah membohongi rakyat agar dipercaya pada pemilu berikutnya, mengutak-atik uang rakyat agar bisa dikeruk sebanyak-banyaknya, menentukan siapa saja lawan yang potensial merusak jalan menuju kekuasaan sekaligus membicarakan strategi untuk menjegalnya. Semua diskusi itu berjalan dengan sangat bergairah. Itu yang mau kau sebut pejuang pembaharu abad ini? Sudah mulai terganggu akal sehatmu, kawan”. Tatapan matanya jelas sekali bermakna cibiran terhadap pandangan saya. Sesegara mungkin saya ingin menutup tema pembicaraan kami. Sejak awal saya tidak tertarik dengan tema diskusi ini. Pandangan yang disampaikan sahabat saya ini sebetulnya hanyalah mengulang-ngulang pandangan yang ada dalam benak saya. “Yaa,,, sudahlah kawan. Sudah ku bilang aku tidak tertarik lagi mendiskusikan soal-soal seperti ini. Aku hanya mencoba menegakkan sejumput harapan di tengah samudera pesimisme yang menghantui anak-anak bangsaku. Tuhan akan memberi keputusan paling adil terhadap negaraku ini”. Saya berusaha menutup diskusi yang tak berguna itu. “Hahaha... ternyata taubatmu benar-benar serius, kawan”. Lagi-lagi tangannya menepuk pundak saya sambil beranjak dari tempat duduknya. Selanjutnya kami bertukar cerita panjang lebar. Mengenang pertemanan kami selama di Jakarta. Sampai dia berdiri sambil menatap ke langit. Malam telah jauh meninggalkan senja. “Aku harus pergi dulu, kawan”. Ucapnya sambil terus memandang berkeliling. Alam pedesaan kampung ini berhasil menyita perhatiannya. “Sering-seringlah kau jenguk temanmu ini. Minggu depan insya Allah aku panen. Mampirlah kau jika ada waktu. Kau boleh bakar ikanku sepuasnya”. Sayapun bangkit berdiri sambil berkemas untuk pulang. “Ya, tentu saja aku akan sering mengujungimu. Minggu depan ku ajak istriku kesini. Kau belum kenal kan?”. “Wah, itu lebih baik. Asal jangan kau kenalkan dia dengan istriku, bisa mati berdiri dia. Hahahaha,,,”. Tawa itu mengakhiri perjumpaan kami. Sekejap saja dia sudah lenyap dari pandangan saya. Sayapun bergegas. Tiba-tiba terdengar lagi suaranya dari kejauhan “O iya, salam dari Fitri. Pacarmu yang sering kau ajak kencan di monas dulu. Aku berhasil merayu kawan separtaimu dulu untuk memacarinya. Sekarang dia hamil tiga bulan. Hahaha”.... Suaranya menyisakan gema. “Ah, dasar kau. Setan”. Desa Batang Tajongkek, Kota Pariaman 22 April 2012  

Surat Galau Untuk Tuhan (SGUT)

Diposting oleh abrar aziz

Pengirim : Karin Novianty, Jakarta. Dear Tuhan… Gue ga tau mau mulai curhatan gue darimana. Yang gue tau dari guru al Islam gue di sekolah, Kamu Maha Tau. Jadi kalo gue ga ceritapun Kamu pasti sudah tau kan, Tuhan? Tapi gue harus cerita, Tuhan. Galau banget nih gue. Gue ga tau harus cerita ke siapa? Gue takut. Kalau cerita ke mama pasti dimarahin. Kamu kan tau Tuhan, keluarga gue pada rajin solat, rajin ngaji, gue doang yang males. Kalau sama Kamu kan ga mungkin kena marah. Kata Pak Mufti, Tuhan itu Maha Penyayang. Benar kan? Gue putus lagi, Tuhan. Rizki yang katanya cinta mati sama gue ternyata punya selingkuhan. Itu lho, si Laura, anak IPS II yang genit itu. Ga cantik-cantik amat padahal. Ini udah yang kelima gue putus, Tuhan. Teryata semua cowok itu sama aja. Ga Rendy, Lutfi, Redi, Rahmat, dan terakhir Rizki. Semua sama. Pembohong. Waktu Rendy bilang cinta ke gue empat tahun lalu, gue bahagia banget tuh. Katanya apapun yang terjadi dia ga bakal ninggalin gue. Dan gue percaya. Percaya banget malah. Tapi apaan, dia tinggalin gue gitu aja. Padahal semua maunya dia udah gue kasih. Dialah cowo pertama yang nyium bibir gue. Gue udah nolak pas malam waktu dia nyium gue itu. Kan gue sekolah Islam, pake jilbab. Apa kata orang kalau liat gue ciuman sama cowok. Tapi katanya ini bukti cinta kita. Gue percaya aja. Dan seperti Kamu saksikan sendiri, Tuhan, kami melakukannya. Awalnya gue nyesal. Tapi ya gimana? Gue cinta sama dia. Ya gue serahin aja apa yang dia minta. Lagian, jujur aja nih, gue ngerasain enaknya juga. Tapi dia ninggalin gue gitu aja setelah empat bulan kita jadian. Gue ga tau deh alasannya apa. Katanya sih kita udah ga seprinsip atau apalah, ga paham gue. Gue kan masih SMP waktu itu, mana tau gue prinsip-prinsip. Trus waktu SMA, gue pacaran lagi sama Lutfi, baik sih anaknya. Pinter ngaji. Tapi lama-lama ya sama aja, gue diputusin setelah hampir setahun kita jadian. Ga tau deh udah berapa kali kita ngelakuin yang begituan. Ga sempet gue ngitungnya. Sampai yang terakhir ini, Rizki. Tampang doang alim, pake jenggot. Ternyata cuma manfaatin kecantikan gue doang. Pake bawa-bawa nama Kamu lagi, Tuhan. Gue masih ingat banget tuh pas dia ngajak gue “begituan”. Dia bilang “Rin, demi Allah kakak akan mencintai kamu selamanya”. Begonya gue percaya aja. Habisnya dia alim sih, sekarang aja dia kuliah di kampus Islam, ya dakwah dakwah gitu katanya. Mama juga suka banget sama dia. Padahal otaknya mah sama aja, mesum. Trus sekarang gue harus gimana,Tuhan. Gue cape kaya gini terus. Hidup gue rasanya gelap banget. Habisnya pak Mufti nakut-nakutin terus soal dosa. Katanya orang yang berdosa itu masuk neraka. Ntar di neraka mereka akan Kamu siksa, Tuhan. Katanya ada yang dibakar hidup-hidup, ada juga yang dipaksa minum air mendidih, trus ada juga tuh katanya disuruh pake sandal dari bara api. Gue sih ga percaya. Masa Tuhan yang Maha Penyayang kejam kaya gitu. Iya kan Tuhan? Tapi kata pak Mufti itu beneran. Katanya Kamu sendiri yang bilang kaya gitu. Emang bener ya, Tuhan? Bingung gue. Gue ga ngerti dosa itu apaan. Apalagi kalau pak Mufti ngomongin sariat, moral, akhlak, aaaakh pusing gue. Makanya PR ga pernah gue kerjain. Dosa itu apa sih, Tuhan? Rizki yang alim dan hafal banyak ayat-ayat itu sering nyium and ngeraba-raba gue. Bahkan “begtuan” juga sering dia ngajak. Padahal kata pak Mufti itu dosa, dosa besar. Tapi pas gue tanya ke rizki katanya kalau cinta ga apa-apa. Emang sih gue cinta sama dia, makanya gue mau-mau aja. Apa kalo orang yang tau ayat-ayat kalau ngelakuin begituan ga dosa ya? Trus gue dosa dong kalau ngelakuin itu? Gue kan ga tau ayat-ayat. Jadi gue harus belajar ayat-ayat dulu biar ga dosa? Duh, gimana sih ini? Makin mumet. Mumet tingak dewa gue. Trus kata mama, gue harus menjaga kehormatan gue, tepatnya kata mama keperawanan gue. Lagi-lagi kata mama Kamu juga yang suruh dalam al Quran kalau wanita itu harus hati-hati menjaga kehormatan. Tapi gue liat anak-anak yang lain ga peduli tuh sama keperawanannya. Liat aja Nisa, jilbabnya gede banget kan tuh. Ampe gue bingung dia pake jilbab apa mukena? Gede banget soalnya. Tapi kalau pacaran naujubileh deh. Gue pernah mergokin dia “begituan” di belakang mushola sekolah. Yang lain apalagi, Marisa, Aurel, Fina, Hanny, hahh. Sama aja, sekolah doang Islam. Soal pacaran mah sama-sama juga. Makanya gue bingung nih, Tuhan. Maksudnya jaga kehormatan itu apaan? Kalo kita “begituan” sama orang yang kita cinta kan ga apa-apa. Jangan kaya si Friska, masa cuma gara-gara pengen BB Torch dia mau begituan sama pak Helmy, guru Bahasa Inggris yang udah berumur itu. Apaan. Gue mah ogah. Dikasih mobil juga gue ga bakal mau. Jijik gue. Itu ga jaga kehotmatan banget. Gara-gara duit mau ditidurin. Kalau gue kan karna cinta. Tapi gue kadang-kadang ngerasa jijik juga sama diri gue sendiri kalo inget semua kejadian-kejadian itu. Makanya gue curhat sama Kamu, Tuhan. Kata pak Mutfi satu-satunya cara keluar dari galau adalah mengadu pada-Mu. Makanya gue tulis surat ini. Please Tuhan, gue harus gimana nih? kamu tau kan, sii Ramdan ngejar-ngejar gue mulu, kata Afif sih dia bakal nembak gue. Gimana dong Tuhan? Terima ga? Sebenarnya gue males pacaran lagi. Jijik gue sama cowok. Tapi kan anak-anak pada punya pacar, masa gue ga. Gue kan baru tujuh belas tahun. Apa kata dunia kalau Karin ga punya cowok? Kalau gue sih pengennya ga usah terima. Ilfil banget bangetan gue ama cowok sekarang. Apalagi yang alim-alim kaya Ramdan. Paling dia ga jauh-jauh modelnya sama Rizky. Ngejar gue cuma pengen “itu” doang. Tolong yakinin gue ya, Tuhan. Katanya minggu-minggu ini dia mau nembak. Kamu harus bantuin gue. Sebenarnya sih gue malu juga sama anak-anak kalau ga punya cowok. Tapi bodo amatlah, gue udah jijik pacaran lagi. Mau diejekin anak-anak ga apa-apa deh. Ya, Tuhan , ya. Bantuin. Gue mau tuh hidup kaya yang dibilang mama. Kata mama hidup akan penuh ketenangan kalau kita dekat dengan Kamu, Tuhan. Jauh dari dosa-dosa. Sumpah Tuhan. Gue pengen banget hidup tenang. Ga galau kaya gini. Tapi ga tau gue gimana memulainya. Pokoknya Kamu harus bantuin gue. Kan Kamu udah janji dalam ayat-ayat-Mu. Pak Mufti bilang Kamu janji bakal menuhin doa hamba-Mu. Kamu juga bilang kalo Kamu dekat banget sama hamba-Mu. Gue kan hamba-Mu, Tuhan. Ya walaupun jarang solat tapi kan gue tetap hamba-Mu. Ntar deh gue janji bakal rajin solat kaya mama. Gue bakal belajar ngaji juga sama pak Mufti. Janji deh gue. Ok, Tuhan? Deal Ya!! Ya udah gue mau bobo dulu ya, Tuhan. Udah malem. Ntar mama marah lagi kalo tau gue masih melek jam segini. Jangan lupa besok subuh bangunin gue. Gue usahain solat subuh deh. Tapi bangunin, kalo ketiduran ya ga jadi. Eh sebelum gue tutup gue kasih pantun dulu deh… empat kali empat enam sama dengan enam belas, sempat ga sempat tolong dibalas. Sekian surat gue, Tuhan Karin Novianty Hamba-Mu Menara 62, 28 11 2011. 03.45 WIB. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah 186)

Sabtu, 04 Juni 2011

JATUH CINTA

Diposting oleh abrar aziz

Jatuh cinta. Tentulah teman pernah merasakannya. Saya juga pernah, teman. Dulu waktu saya masih tinggal di kampung halaman. Bertahun-tahun yang lalu. Itu yang pertama. Dan yang kedua, sekarang. Kalau teman merasa senang dengan cerita cinta-cinta. Baiknya teman teruskan membaca. Tapi jika teman tidak suka, baca jugalah. Kasian, saya sudah capai juga menulisnya. Saya ceritakan dulu lah baiknya kisah cinta zaman dahulu itu.

Kampung kami berada di pesisir pantai sebalah barat pulau Sumatera. Bukan kampung kaya, memang. Waktu itu, sekitar tahun 80-an akhir. Ketika saya masih SMP. Bukan bermaksud tinggi hati teman. Tapi rasa-rasanya rupa saya tidak terlalu buruk. Jika saya diizinkan memberi nilai muka saya ini. Kira-kira angka tujuh setengah bisa juga saya dapatkan. Atau kalau teman ingin menilainya juga, silahkan. Asalkan nilainya jangan kurang dari itu.

Ramlah nama perempuan itu. Pandai sekali dia mengaji. Kalau sudah dia yang mengaji di surau, orang-orang yang sedang main domino di lapau pun akan tertegun karena keindahan suaranya. Kalau soal rupa, nilai tujuhlah kira-kira. Apalagi kalau melihat siapa bapaknya, Haji Munir, pemilik kebun kelapa terluas di kampung kami. Bujang mana yang tidak jatuh hati padanya. Keningnya jilah umpama landasan pacu lapangan terbang. Matanya bulat bak buah kapundung. Bibirnya tebal bagai ruas limau purut. Dagunya lonjong laksana sarang lebah. Ah, berdosa nanti kalau kita teruskan. Nanti teman tak bias tidur dibuatnya.

Sebenarnya ada juga gadis yang senang dengan saya. Julia namanya. Nama aslinya Yulinar. Tapi katanya nama itu kurang modern. Maka di gantilah namanya jadi Julia. Dia berteman akrab dengan Rosa. Kalau yang ini nama aslinya Rosmaini, tapi seperti si Yulinar, dia tidak senang dengan namanya yang kampung itu. Julia sudah terang-terang mengatakan rasa senangnya pada saya. Tapi saya enggan dekat-dekat dengannya. Pasalnya bedaknya terlalu tebal. Tambah lagi rambutnya saban hari dikasih minyak kemiri punya ibunya. Tak tahan hidung saya dibuatnya.

Jadilah saya satu dari sekian bujang yang menaruh hati pada Ramlah. Dia satu kelas dengan saya, kelas tiga SMP. Agak pintar dia kalau sudah soal hitung-hitung, tapi agak lemah menghafal. Tak satupun jantan di kelas itu yang tak suka padanya. Tapi saya sedikit beruntung. Pelajaran agama dan soal-soal hafalan agak saya kuasai sedikit. Kalau jantan-jantan yang lain, tak ada kepandaiannya selain bagadele atau bercerita besar. Si Pendi misalnya, setiap hari dia bercerita tentang ayahnya yang pulang pergi ke Jawa. Padahal saya lihat ayahnya hilir mudik saja di kampung membawa pedati. Atau si Miral, tak ada kepandaiannya selain berkoar kalau dia sering melihat hantu. Pernah dia melihat, katanya, hantu yang menari-nari di belakang rumahnya. Begitu dia membuka pintu, hantu itu lari tunggang langgang. Besar sekali mulutnya. Padahal semua orang, kalau pulang mengaji sudah lewat jam sepuluh, pastilah dia akan ikut tidur di surau bersama guru mengaji karena dia tak akan berani jalan sendiri ke rumahnya yang harus melewati kuburan. Itulah bujang-bujang di kelas saya. Saya kadang-kadang hobi juga bagadele, sedikit-sedikit saja. Tapi karena ayah saya guru agama, kepandaiannya turun juga pada saya, walaupun tidak banyak.

Pendek cerita, disebabkan alasan sering belajar bersama itulah mulai ada rasa-rasa senang diantara kami berdua. Panjang ceritanya kalau saya kisahkan semua. Tapi akhirnya kami saling mengakui apa yang kami simpan dalah hati. Wah, lapang sekali dunia ini rasanya waktu dia mengatakan dalam suratnya kalau dia menaruh hati juga pada saya. Tak cukup rasanya halaman kertas untuk menuliskan apa yang bergejolak di hati saya waktu. Saya yakin teman juga pasti sudah pernah juga merasakan rasanya cinta berbalas cinta. Jika teman belum pernah, saya ikut prihatin dan berdoa semoga teman segera merasakannya.

Karena di kampung kami berjalin kasih antara gadis dan bujang adalah aib yang bisa menjadi bahan cela dan hina, terpaksalah kami bercinta kasih dengan sembunyi-sembunyi. Setiap minggu kami berkirim surat. Amboi,, tiba-tiba saja saya menjadi penyair, teman. Dalam surat-surat kami, kami serasa pujangga yang sedang menulis syair. Indah sekali rasanya. Benar kata orang tua kita, kalau hati sudah tercuri seorang gadis, rasa-rasanya dunia ini seperti punya kita saja.

Masa-masa itu berlalu dengan cepat sampai akhirnya saya harus merantau kesini, ke Jakarta ini. Berat rasanya hati meninggalkan kampung halaman. Atau tepatnya meninggalkan Ramlah. Tapi apa daya saya tak kuasa menawar perintah buya untuk sekolah agama di Jakarta. Saya yakinkan pada Ramlah kalau jodoh tak akan kemana.

***

Selain kuliah, saya dapat juga mengajar honor di sebuah sekolah agama di Jakarta. Sudah tiga tahun saya di Jakarta. Untuk tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Si Ramlah sudah dikawinkan bapaknya dengan si Burhan anak Haji Kadir, pemilik penggilingan padi terbesar di kampung kami. Terbaca jelas oleh saya raut kesedihan Ramlah ketika menulis surat tahun lalu. Tapi apa mau dibilang. Nasi sudah jadi bubur.

Nah, sekarang saya jatuh cinta lagi, teman. Jatuh cinta pada murid saya. Macella namanya. Nampaknya nama ini tak ada di kampung saya yang tersuruk itu. Apa pula kata si Yulinar kalau mendengar nama ini. Pastilah dia bertengkar habis dengan Rosmaini untuk memperebutkannya.

Marcella tidak terlalu pintar di kelas, terlalu bodoh juga tidak. Dalam mata pelajaran saya, nilai paling rendahnya adalah enam. Tapi itu jugalah nilai tertingginya. Kalau pelajaran lain nilainya berputar-putar di angka enam dan tujuh saja. Tapi dia agak pendiam dan ramah. Entah apa yang saya pikirkan. Yang jelas saya senang dan diapun senang pada saya. Bapaknya juga tidak masalah dengan hubungan kami. Rupanya disini, di Jakarta ini, urusan cinta-cinta seperti ini bukanlah urusan aib.

Yang menjadi soal adalah bagaimana dengan nilainya. Saya tidak mungkin membiarkan nilainya terus di angka enam karena itu bisa membuatnya tidak naik kelas. Tapi otaknya memang hanya cukup menampung angka enam itu. Bapaknya sering memohon supaya membantu anaknya agar naik kelas. Terpakasa jugalah saya naikkan nilainya yang enam menjadi tujuh setengah pada mata pelajaran saya supaya Marcella naik kelas. Pastilah saya telah berbuat tidak adil karena murid-murid saya yang lain tidak saya naikkan nilainya. Tapi saya juga sudah menyelamatkan hidup kekasih saya, dan itu juga berarti hidup saya juga. Yang penting, setelah kenaikan kelas itu, saya bisa lebih leluasa bertandang ke rumah Marcella. Bahkan kadang-kadang bapak ibunya sengaja ada urusan keluar rumah kalau saya sedang bertandang ke rumahnya. Begitu rupanya orang Jakarta memperlakukan kekasih anaknya. Sungguh perbuatan yang terpuji.

ANAK KEBANGGAAN

Diposting oleh abrar aziz

Ali Akbar Navis

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayan banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki.

Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.

"Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit.

Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah."

Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu.

Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?"

Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.

"Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat.

Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji.

"Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi.

"Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah."

"O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud."

"Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam."

Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya."

Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleholeh buatmu."

Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha."

Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira. Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin, dia dapat ilham baru. Dia pun merasa pula, bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Dan pada sangkanya, tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi, jika ia tahu orang-orang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Tak masuk akal, orang orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara.

"Awaslah nanti. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong."

Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Malah sebaliknya. Dikatakannya, banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tapi semua telah ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. "Pilihlah saja gadis di Jakarta, Anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak," penutup suratnya.

Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya, lantas jadi membalik pikirannya. Ia jadi sungguh percaya, bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya, bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya.

Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan.

Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia, apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi, andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Disamping itu ia sadar juga, bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan.

Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu, dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya.

Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Pasai ia menunggu, dikiriminya surat. Ditunggunya beberapa hari. Tapi tak datang balasan. Dikiriminya lagi. Ditunggunya. Juga tak terbalas. Dikirim. Ditunggu. Selalu tak berbalas. Bulan datang, bulan pergi, Ompi tinggal menunggu terus.

Pada suatu hari yang tak baik, di kala Ompi sudah mulai putus asa, datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar karena ia bahagia. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu, karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. Dan

tahulah ia, bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu.

Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan, agar apa yang terjadi adalah memang mimpi.

Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit, bahkan sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah, Ompi bertambah menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Yaitu surat. Surat dari anaknya, Indra Budimannya. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia telentang di ranjangnya, enggan bergerak. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.

Akan tetapi setiap sore, diantara jam empat dan jam lima, Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu, yang membiarkan masa bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya, hingga lebih meroyak. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah, reduplah lagi mata Ompi.

Namun kemalangan itu bertambah lagi. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan, sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Dan semenjak itu, pada setiap jam empat hingga jam lima sore, matanya akan menatap ke kaca itu. Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter, tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran, bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai.

Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang, dokter hanya menggelengkan kepala saja. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sakit. Kalau semua tak mungkin, jangan tinggalkan dia sendirian. Bila perlu, meski dengan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya."

Semenjak itu, berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Aku sadar, bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Di samping itu secara samar-samar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali.

Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Aku pun tahu, tidak ada gunanya semua. Hanya satu yang dikehendakinya. Surat dari Indra Budiman. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang, malahan takut, kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. Hari waktu itu jam sebelas siang. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. Melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali.

Tergesa-gesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan.

Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. Hingga gagallah recanaku. Tak sempat aku membuka surat itu. Karena di luar segala dugaanku,

Ompi yang sudah lumpuh selama ini, telah berada saja di belakangku. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.

"Bukalah. Bacakan segera isinya." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu.

Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.

"Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar.

Tak tahulah aku, apa yang harus kukatakan. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Tapi keajaiban tidak juga datang. Aku mengangguk. Sedang dalam hatiku berteriak, terjadilah apa yang akan terjadi.

Ompi terduduk di kursi. Matanya cemerlang memandang. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri memberikannya. Tapi aku tak bisa berbuat lain. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Telegram itu digenggamnya erat. Lalu didekapkan ke dadanya. "Datang juga apa yang kunantikan," katanya.

Sepi begitu menekan, sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. "Ah, tidak. Aku takkan membaca telegram ini. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. Kaubacakan buatku. Bacakan pelan-pelan. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku," kata Ompi dengan terputus-putus.

Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. Sedangkan bibirnya membariskan senyum, serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.

"Tak usah dibacakan. Takkan sanggup aku mendengarnya. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. Aku mau sehat. Mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku, Dokter Indra Budiman, datang. Pergilah. Panggilkan dokter," kata Ompi dengan gembira.

Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciumnya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.